Ribuan Orang Hadiri Ceramah Mantan Pendeta


 

Kendari ( Berita ) :  Ribuan umat Islam menghadiri ceramah yang disampaikan mantan  pendeta Dr Muhammad Yahya Waloni di Masjid Agung Al-Kautsar Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin [29/12] .

Pantauan di Kendari bahwa jamaah mendatangi masjid kebanggaan masyarakat Sultra sejak pukul 11:30 Wita, padahal ceramah Muhammad Yahya Waloni serangkaian peringatan tahun baru Islam (1 Muharam) dijadwalkan 13:30 Wita.

Muhammad Yahya Waloni, penyandang gelar doktor (S-3) Teologi hadir di Kendari atas kerja sama antara Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), Bengkel Seni Islam (BSI) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setempat.

“Kami ingin melihat wajah dan mendengarkan secara langsung ceramah Muhammad Yahya. Selama ini kami hanya mengetahui kiprahnya sejak mualaf tahun 2006 lalu melalui media visual,” kata seorang jamaah, Muh. Amrin.

Antusias kaum muslimin dan muslimah, termasuk kanak-kanak  untuk menyimak ceramah Muhammad Yahya menyebabkan tidak tertampung dalam masjid Agung Al-Kautsar  yang berlantai dua tersebut.

Mereka tabah mendengarkan siraman rohani dari Muhammad Yahya yang juga mantan Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Papua, walaupun pengeras suara bagian luar masjid tidak difungsikan.

Pihak Kepolisian yang melakukan pengamanan ribuan orang yang menanti kedatangan Muhammad Yahya berlangsung biasa-biasa saja.

Tidak ada pemeriksaan ketat bagi siapa pun yang memasuki areal masjid Agung Al-Kautsar dan ceramah berlangsung tertib dan aman. Buku dan video rekaman syiar Islam yang dilakoni mantan Ketua Sekolah Tinggi Calvinis Ebenhaezer diserbu jamaah.

Buku yang saya tulis dapat dimiliki oleh siapa pun umat manusia dimuka bumi ini, termasuk penganut agama Kristen. Harga buku untuk beli bensin, kata Muhammad Yahya yang mualaf tahun 2006 lalu.

Muhammad Yahya Waloni memutuskan mualaf karena yakin bahwa keadilan, kebenaran dan keselamatan hanya di dalam Islam.  “Saya dan siapa pun yang mualaf bukan pindah agama tetapi kembali ke jalan yang lurus,” kata Muhammad Yahya.

Ia mengingatkan seluruh umat manusia di bawah “kolong langit” bahwa  tidak ada perang agama tetapi agama selalu dijadikan alat untuk rekayasa politik.

“Pertikaian di Ambon, Maluku, Papua dan dimana pun bukan perang agama. Tetapi, agama hanya dijadikan alat untuk mencapai tujuan politik sehingga jangan mau dipolitisir.   ( ant )