Ali Alatas Tutup Usia


Jakarta ( Berita ) :  Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Ali Alatas, Kamis (11/12), meninggal dunia di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura pada pukul 07.30 waktu setempat.

Kepala Biro Data dan Informasi Sekretariat Jenderal Dewan Pertimbangan Presiden Sekretariat Negara RI Kamarullah Halim saat dihubungi  di Jakarta, Kamis [11/12] membenarkan informasi tersebut.

“Saya baru saja mengontak pihak kedutaan besar di sana dan saat ini tengah dipersiapkan segala sesuatunya, beliau meninggal pada pukul 07.30,” kata Kamarullah. Ia menjelaskan belum tahu persis sakit yang diderita mantan menteri luar negeri itu.

“Rencana pemulangan beliau ke Indonesia saat ini masih dibicarakan dengan pihak kedutaan dan keluarga. Dalam satu hingga dua jam ke depan sudah ada perkembangan,” katanya.

 

Layak Dimakamkan Secara Militer

Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas yang dianugerahi dua bintang utama oleh negara, yaitu Bintang Adi Maha Prana dan Bintang Republik Indonesia Utama, layak dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Juru Bicara Kepresidenan, Dino Pati Djalal, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis, menyatakan menurut rencana Ali Alatas akan dimakamkan di TMP Kalibata pada Jumat pagi pukul 09.00 WIB.

“Rencananya akan dimakamkan di TMP Kalibata karena beliau mempunyai Bintang Adi Maha Prana dan juga Bintang Republik Indonesia Utama. Dengan dua bintang tersebut beliau berhak dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer,” tuturnya.

Dino menjelaskan, saat ini pemerintah sedang berkoordinasi dengan pihak keluarga untuk menyusun upacara penyambutan jenazah dari Singapura serta upacara pemakaman.

Menurut rencana, jenazah Ali Alatas akan tiba di Jakarta pada pukul 18.00 WIB dan disambut oleh Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa.

Dino menyampaikan duka cita yang amat mendalam dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas kepergian Ali Alatas yang sampai akhir hayatnya menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Presiden itu.

Presiden mendengar berita duka cita tentang wafatnya Ali Alatas pada pukul 07.30 waktu Singapura ketika sedang dalam perjalanan kembali menuju Bandara Ngurah Rai, Bali, usai menghadiri Bali Democracy Forum.

“Beliau sangat sedih dan ’shock’ mendengar berita tersebut. Apalagi, beberapa waktu lalu ketika beliau mengunjungi Ali di Singapura nampak sedang ‘recovery’ dan bahkan sudah ada rencana untuk pulang,” tutur Dino.

Pada Minggu, 7 Desember 2008, Presiden Yudhoyono menyempatkan diri

menjenguk Ali Alatas yang sudah sejak dua minggu dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth setelah mengalami kondisi kritis di Jakarta.

“Karena itu, berita ini sangat berat. Kita semua merasa terpukul, tidak terduga. Tadi, ada suasana berkabung yang sangat terasa di pesawat dalam perjalanan dari Bali ke Jakarta. Seluruh delegasi diam dan termenung atas kepergian Ali,” jelas Dino.

Dino mengatakan, bagi Presiden, sosok Ali Alatas bukan hanya seorang diplomat biasa, namun juga seorang negarawan.

Presiden memandang Ali Alatas sebagai diplomat ulang yang disegani oleh masyarakat internasional serta selalu memberi yang terbaik bagi bangsa sampai akhir hayatnya.

“Pak Ali kantornya pas di belakang istana. Beliau selalu memberi masukan-masukan secara jujur dan selalu berbobot. Masukannya selalu apa adanya dan mengutamakan kepentingan nasional,” ujar Dino.

Sebagai sosok langka yang telah melanglang buana di dunia diplomat selama 30 tahun, Dino mengatakan, Presiden beserta Ibu Ani merasa sedih kehilangan putra terbaik bangsa.

Dino memastikan Presiden Yudhoyono akan melayat jenazah Ali Alatas setibanya di tanah air pada Kamis sore pukul 18.00 WIB.Namun, saat ini belum diputuskan apakah jenazah Ali Alatas akan disemayamkan di Departemen Luar Negeri atau di rumah duka di Kemang, Jakarta Selatan. ( ant )

 

 

Comments are closed.