AIDS Mengintai Generasi Muda Indonesia


Gelombang penyebaran penyakit penurunan kekebalan tubuh HIV/AIDS di Tanah Air terus menguat, terutama di golongan orang-orang muda dan produktif. Data yang dirilis oleh Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa hingga Juni 2008 terdapat sekitar 6.782 orang berusia 20-29 tahun yang mengidap AIDS.

Pengidap AIDS di kelompok usia ini adalah yang terbesar dibanding kelompok lain, karena peringkat terbesar kedua yakni usia 30-39 tahun pun hanya 3.539 orang.

Generasi muda memang seolah sedang diincar oleh penyakit mematikan HIV/AIDS, dan celakanya lagi penyebaran penyakit ini sudah seperti fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan hanya secuil daripada yang sejatinya nyata di lapangan.

Selain fakta bahwa banyak anak muda yang mengidap HIV/AIDS, pola penyebaran juga harus menjadi perhatian utama dari penanganan penyakit ini.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 menunjukkan bahwa sekitar 43-56 persen pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun, di empat kota yakni Medan, Jakarta, Bandung, dan Surabaya telah terinfeksi HIV.

“Penasun masih memiliki prevalensi HIV tertinggi di antara kelompok paling beresiko di Indonesia, yakni 55-56 persen di tiga dari empat kota yang mengumpulkan data biologis,” kata  Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Prof Tjandra Yoga Aditama, dalam peluncuran STBP Oktober lalu.

Menurut Tjandra Yoga Aditama, walaupun secara umum prevalensi HIV di masyarakat Indonesia masih cukup rendah, yakni 0,16 persen, tapi sejak tahun 1990-an telah terjadi peningkatan yang cukup dramatis pada kelompok beresiko tinggi terutama kelompok penasun, pekerja seks komersial baik wanita maupun pria, waria, dan lelaki penyuka lelaki.

Interaksi populasi penasun yang terinteraksi HIV dengan populasi kunci lainnya memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap terjadinya peningkatan prevalensi HIV pada kelompok beresiko tinggi.

Survei tahun 2002 menunjukkan bahwa di kelompok penasun dilaporkan adanya hubungan seks tidak aman dengan pekerja seks, yakni sekitar 20-75 persen, dan pada tahun 2004 diperkirakan 10 persen penasun menjajakan diri sebagai pekerja seks.

“STBP tahun 2007 juga mendapati bahwa program layanan jarum suntik steril (LJSS) telah mencapai cakupan yang tinggi di beberapa kota, dan di kota-kota ini pemakaian jarum suntik bergantian cenderung lebih rendah,” kata Tjandra.

Sementara itu sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi mengatakan bahwa program penanggulangan penyebaran HIV/AIDS harus difokuskan kepada generasi muda, karena 30 persen penasun adalah mereka yang berusia di bawah 20 tahun.

“Kita harus serius hentikan epidemi ini di kalangan generasi muda yang sangat beresiko terpapar HIV, yaitu mereka yang penasun, penyuka sesama lelaki, dan waria,” ujar dia.

Berdasarkan perkiraan Departemen Kesehatan, pada tahun 2002 jumlah pengidap HIV di Indonesia adalah 110.000 orang. Lalu di tahun 2006 naik menjadi 193.000 orang, dan tahun 2007-2008 angka itu ditaksir naik hingga 270.000 atau sekitar 0,16 persen dari populasi nasional.

Nafsiah menambahkan, bila pencegahan pertumbuhan angka pengidap HIV gagal, maka biaya penyembuhan tentu akan membengkak, “Tahun 2008 saja pemerintah menganggarkan sekitar 70 miliar rupiah untuk mengidap HIV.”

“Kita harus bisa mengubah norma yang berlaku umum di masyarakat tentang bagaimana lelaki jantan itu, lelaki jantan seharusnya bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.”

Selain perubahan norma, Nafsiah juga mendesak agar program-program penanggulangan AIDS mengutamakan pendekatan ke generasi muda.

“Ini karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa 38 persen lelaki penyuka lelaki adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Waria juga 30 persennya berusia 15-24 tahun, prosentase yang sama untuk pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif) suntik, atau yang disingkat menjadi penasun,” kata dia.

“Kita harus betul-betul sepakat bahwa pencegahan dari generasi muda oleh generasi muda dan untuk generasi muda haruslah digalakkan,” ujarnya.

Kondisi ini juga tercermin dari keadaan yang terdapat di Ibukota Jakarta.

Data Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta hingga Juni 2008, menunjukkan bahwa terdapat 3.123 orang yang positif menderita AIDS.

Sekitar 73 persen di antaranya, yakni 2.278 orang, terpapar penyakit ini lewat pertukaran jarum suntik NAPZA.

“Kalau kita melihat tren usia penderita HIV/AIDS sekarang, kebanyakan mereka yang terpapar adalah generasi muda, usia-usia produktif 20-39 tahun. Itu sebabnya kita harus lebih gencar lagi memberikan edukasi dan sosialisasi tentang HIV/AIDS kepada remaja, pelajar, dan mahasiswa supaya bisa mencegah penularan penyakit HIV/AIDS,” kata Imam Mulyadi, ketua panitia peringatan Hari AIDS Sedunia 2008 di Jakarta.

Di Jakarta, Imam memperkirakan jumlah orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Jakarta sudah mencapai sekitar 33.000 orang.

“Kami juga memperkirakan sekitar 1.072.098 orang laki-laki di Jakarta beresiko tinggi terpapar HIV karena gaya hidup mereka,” tambahnya.

Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) terkait prevalensi HIV di Indonesia tahun 2007 juga menunjukkan bahwa sekitar 34 persen waria di Jakarta positif mengidap HIV, virus yang mengakibatkan sindrom penurunan ketahanan tubuh (AIDS).

Angka ini terus naik sejak tahun 1995 yang hanya 0,3 persen, lalu di tahun 1996 menjadi 3,2 persen, dan enam persen di tahun 1997.

Prevalensi HIV pada waria di Jakarta pada tahun 2002 melonjak jadi 21,7 persen, tahun 2005 naik hingga menjadi 25 persen, dan tahun 2007 ditaksir sampai di titik 34 persen.

Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah waria di Indonesia pada tahun 2006 adalah 20.960 hingga 35.300 orang.

Sementara itu STBP 2007 memperkirakan prevalensi HIV di kalangan waria di Bandung adalah 14 persen dan di Surabaya 25,2 persen. “Temuan ini perlu mendapat perhatian khusus karena termasuk angka prevalensi yang tertinggi di Asia dalam tahun-tahun terakhir,” kata Tjandra Yoga Aditama. ( ant/ Ella Syafputri )

 

Comments are closed.