Teknik Elektro ITM Terapkan Mata Kuliah Jaringan Saraf Tiruan
Ketua Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Medan (ITM) Ir Hermansyah Alam MT kepada Berita, Jumat [28/11] mengatakan metode jaringan saraf tiruan ini merupakan salah satu mata kuliah yang diterapkan di ITM mulai tahun akademik 2008 pada semester genap.
“Jaringan saraf tiruan ini merupakan salah satu ilmu yang diciptakan meniru otak manusia, dan semakin banyak informasi yang diterima maka akan semakin mudah mengenal lokasi informasi tersebut,” kata Hermansyah di kampus ITM Jalan gedung Arca Medan.
Begitu juga sebaliknya, kata dia, semakin banyak informasi yang diterima maka akan semakin tinggi bobotnya, misalnya saja jika ilmu ini diterapkan maka akan dapat memeriksa pengenalan sidik jari serta mengenali wajah seseorang yang belum dikenali, tambahnya.
Dia menilai banyak sekali hal-hal yang belum mampu diterapkan dalam sistem pendidikan di Indonesia.Jika hal ini bisa diterapkan dalam pola pendidikan di
“Pemerintah harus perduli dan memberikan perhatian yang serius pada pendidikan dan betul-betul menerapkan pola pendidikan yang benar, misalnya dengan menerapkan 60 persen teoritis dan 40 persen praktek,” katanya.
Menurutnya, jika ini diterapkan bukan mustahil pendidikan
Dengan alasan ini, Herman yang mengambil program S3 di University Malaysia Perlis Spesialisasi Kecerdasan Buatan (Fuzilogic dan Jaringan Saraf Tiruan) selalu mencoba dan mencoba membuat suatu hipotesa perbandingan antara otak manusia dengan jaringan saraf tiruan, yang dikaitkan dengan kemampuan perangkat lunak komputerisasi dengan kemampuan otak manusia.Dan saat ini Herman mulai menerapkan ilmu tentang jaringan saraf manusia kepada mahasiswanya, sehingga mahasisiwanya akan mampu membuat alat elektronik yang benar-benar menyerupai manusia, atau lebih pintar dari manusia.
Kajur Teknik Elektro ini menyebutkan, pada tahun 1940, para ilmuwan menemukan bahwa psikologi dari otak manusia sama dengan metode pemrosesan yang dilakukan peralatan komputer.
Latar belakang perkembangan jaringan saraf tiruan ini sebenarnya didasari dari kemampuan manusia dalam memroses informasi, mengenal wajah, tulisan dan sebagainya dengan pola sudut pandang yang belum pernah dialami sebelumnya. Bahkan anak-anak pun dapat melakukan hal tersebut.Hal ini terjadi karena dipercayai bahwa kekuatan komputasi otak terletak pada hubungan antar “never cells”, struktur jaringan otak yang terorganisasi, karakteristik prediksi target dan banyaknya jumlah hubungan antar sel otak.
Herman melihat kemampuan menganalisis manusia secara aplikatif mudah dilakukan, tetapi tidak mudah ditransformasikan kedalam bentuk matematis dan algoritmik. Hal ini berkaitan dengan proses pembelajaran pada otak manusia yang terjadi selama beberapa waktu dan bersifat terus menerus.
Dari berbagai buku yang sudah dipelajarinya, Herman mengatakan, persamaan ketika jaringan saraf tiruan dibuat adalah pada saat kelahiran seorang anak manusia. Dimana proses belajar akan dilakukan pada jaringan saraf tiruan tersebut, ini sama halnya dengan anak yang baru lahir. Namun demikian perbedaan akan muncul pada saat jaringan saraf tiruan akan belajar untuk menyelesaikan suatu permasalahan tertentu,
dan hal ini tidak terjadi pada anak manusia, kata Herman.
Sebagai implementasinya, jaringan saraf tiruan dilakukan dengan menggunakan perangkat keras ataupun perangkat lunak komputer. Dan saat ini aplikasi yang digunakan memiliki kecenderungan sebagai proses rutinitas yang dikerjakan oleh manusia.Dan kemampuan yang dimiliki jaringan saraf tiruan bersifat permanen, karena tidak terpengaruh oleh faktor perasaan dan firasat, papar Herman.
Data dan informasi pada manusia disimpan dalam suatu unit sel yang terstruktur dalam otak, sementara pada jaringan saraf tiruan, data dan informasi tersimpan dalam bobot-bobot dan bisa berbentuk file sehingga kerusakan dapat diantisipasi dengan menggunakan “backup” atau cadangan, paparnya.(aje)