Abu Panton, Ulama Kharismatik Yang Mengaku “Jahil”


Banda Aceh ( Berita ) :  Tgk H Ibrahim Bardan yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Panton, seorang ulama kharismatik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mengaku dirinya jahil (berarti bodoh dalam bahasa Arab) akibat konflik di daerah tersebut.

“Saya jahil bukan karena malas tapi karena konflik yang membuat miskin sehingga tidak bisa mengenyam pendidikan fomal,” kata Ketua Umum Himpunan Ulama Dayah (Pesantren) salafiah (Huda) NAD itu di Banda Aceh, Jumat [21/11].

Mengaku jahil, ia sebenarnya merasa malu mengeluarkan buku berjudul Resolusi Konflik Dalam Islam yang diluncurkan Wakil Gubernur Muhammad Nazar, karena ia menilai ilmunya belum seberapa dibandingkan peserta yang hadir dalam bedah dan peluncuran buku itu.

“Saya belum ada apa-apanya dibandingkan kawan-kawan semua,” katanya merendah.

Ulama kelahiran Matang Jeulikat Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara  pada 1945 itu mengaku kejahilannya berawal dari dibakarnya Sekolah Rakyat (SR) setempat, tempat di mana ia mengeynam pendidikan pertama pada 1953, oleh pihak yang berkonflik saat itu.

Akibatnya tidak ada lagi pendidikan di kecamatan Seunuddon, namun anak-anak usia sekolah di daerah itu beruntung dapat belajar mengaji dari janda-janda tua dan imam meunasah (mushalla) setempat.

“Saat itu saya tidak memiliki cita-cita karena kalau menjadi guru akan dibunuh sementara menjadi ulama juga dikejar-kejar,” katanya.

Ia mengaku hidup dalam keadaan trauma akibat konflik bersenjata, setiap kali diantar untuk belajar mengaji ke dayah-dayah (pesantren) di Aceh selalu merasakan konflik.

“Sekarang saya juga belum merasa damai meskipun kesepakatan (MoU) damai sudah ditandatangani. Hati saya masih berdebar-debar, khawatir kapan akan terjadi lagi konflik karena damai hanya antara pemerintah dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bukan dengan rakyat Aceh,” tambahnya.

Meskipun konflik bersenjata telah berakhir tapi konflik politik maupun konflik lainnya kerap terjadi dalam kehidupan masyarakat Aceh. “Contohnya seperti sekarang banyak terjadi perceraian, itu karena konflik dalam rumah tangga,” ujarnya.

Ia sempat berkeinginan menuntut ilmu di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar Raniry pada 1963, meskipun tidak pernah merasakan pendidikan formal, namun keinginan itu hanya tinggal impian.

Meskipun tidak mengeyam pendidikan formal, Abu Panton menjadi sosok berpengaruh yang berkiprah luas dengan kegiatan padat mulai dari memberi ceramah keagamaan dan diskusi ilmiah bahkan diundang menjadi peserta dan pembicara seminar baik di tingkat nasional maupun internasional.

 

 

Budaya “sayam” yang merupakan pemberian kompensasi harta oleh pelaku kepada korbannya yang berasal dari ajaran Islam sebagai institusi penyelesaian konflik menurut adat di Aceh masih berperan dalam rekonsiliasi konflik di daerah tersebut.

Menurut Nazar , agama berperan sangat besar dalam menyelesaikan berbagai masalah termasuk konflik, dsehingga peran ulama diperlukan untuk mengajak masyarakat mengikuti ajaran agama.

Nasehat-nasehat agama yang disampaikan langsung dihadapan pihak bertikai oleh fasilitator yang biasanya dari kalangan agama atau tokoh masyarakat sangat berperan dalam prosesi “sayam”.

Dia menguemukakan dalam konteks konflik, “meudamee”juga sangat besar peluangnya untuk diterapkan asal kebutuhan dan tuntutan prinsipil dapat dipenuhi dan diselesaikan secara politik.

“Sebenarnya inti resolusi konflik dalam Islam adalah semuanya menang tidak ada yang kalah sama seperti MoU Helsinki ada kompensasi seperti partai politik lokal dan dana otonomi khusus,” kata Nazar. ( ant )