Belanda Mau Gerilya


TATKALA Jepang menyerang Hindia Belanda , setelah pecah perang tanggal 8 Desember 1941,maka Letjen Hein Poorten (1888-1968) baru saja menjadi komandan tentara KNIL.

Sebelum itu dia kepala staf dibawaj Letjen C.J. Berenscgot (1887-1941) yang lahir di Sawah Lunto dan fasih berbahasa Minang. Jenderal  berdarah Indo ini tewas dalam kecelakaan pesawat terbang dekat lapangan udara Kemayoran, Batavia tanggal 13 Oktober 1941. Ter Poorten yang  waktu itu berada di Manila berunding dengan Jenderal Mac Arthur segera kembali ke Jakarta, lalumenggantikan kedudukan Berenschol. Ter Poorten yang mulanya Letnan Artileri pada tahun 1910 mengajukan permohonan untuk dilatih sebagai militer Hindia Belanda.

Gubernur Jenderal Tjarda van Starkanborgh tidak begitu serasi dengan Jenderal Ter Pooten yang dinilainya kasar  omongannya, bersifat lawaaierig  alias suka ramai bikin ribut dan grof alias kasar, maklum, Tjarda adalah seorang aristokrat alias bangsawan.

Setelah terjadi pertempuran  di Laut Jawa tanggal 06 Februari 1942 jalan terbuka lebar bagi invasi angkatan laut Jepang  di pantai utara Jawa. Tempat-tempat mereka mendarat telah diketahui persis olah spion-spion Jepang sejak 20-30 tahun sebelumnya yang bekerja sebagai fotografi pemilik toko, barbir di kap salon.

Tanggal 2 Maret Gubernur Jenderal Tjarda menerima tilgam dari PM Belanda di London Prof Gerbrandy. Isinya pemberitahuan bahwa ‘ tidak boleh kapitulasi alias menyeraah diri ‘. PM Belanda menganjurkan sebagai penyelesaian masalah agar ‘tentara KNILmemulai perang gerilya di gunung-gunung ( sekitar Bandung )’.

Dalam bukunya Nederlands-India 1942-Illusie en Ontgoocheling (1990) Grdan dan Touwan – Bouusma memberi komentar ‘ Bagaimanakah orang yang waras otaknya bisa memerintahkan perang gerilya di Jawa, sebuah pulau yang saat itu paling padat penduduknya di Asia?’ . dalam tilgram PM belanda itu Tjarda diperintahkan menyerahkan pimpinan militernya kepada Jenderal Ter Poorten. Ini terjadi tanggal 5 Maret.

Ter Poorten menulis dalam Verslag Baleid ‘ semua itu terjadi, setelah saya melaporkan bahwa situasi  militer tidak tertolong lagi. Pada hemat saya supaya Gubernur Jenderal Tjarda jangan sampai melakukan kapitulasi.

Menurut Gubernur Jenderal dengan pengharapan bahwa dia sebagai penasehat sipil demi kepentingan rakyat akan dipertahankan  ( oleh balatentara Dai Nippon)’. Tjarda juga memberitahukan kepada Ter Poorten  bahwa dia bisa menerima penugasan di luar negeri. Ter Poorten menasehatkan  kepada Tjarda agar tetap tinggal di Hindia.

Tidak saja Tjarda punya macam – macam khayalan dan harapan bahwa dia masih akan dipakai tenaganya oleh Jepang, setelah Hindia Belanda kalah perang, tapi juga pembesar-pembesar Belanda lain sama sekali tidak realistis. Bagaikan orang bermimpi di siang bolong. Begitulah Mr van Kleffens Menteti Luarnegeri  Belanda dalam kabinet itu ( dia pernah tinggal di Indonesia dan jadi anggota Volksraad) berkata ‘ 2000 pesawat pembom modern dikumpulkan di dataran tinggi Bandung’.

Mengenai van Mook yang menjabat sebagai Menteri Penjajahan di kabinet Gerbrendy, Ter Poorten menulis bahwa Van Mook berkata ‘ Di Priangan Selatan telah dipersiapkan suatu reduit alias pertahanan terakhir yang kuat dengan stok besar barang -barang suplai’.

Pendapat-pendapat tadi adalah omong kosong belaka. Mana bisa dilakukan perang gerilya di gunung-gunung sekitar Bandung oleh pihak Belanda, bilaman Belanda tidak mendapat dukungan rakyat Indonesia ?

Menurut W Buijze dalam  bukunya Kalidjati 8-9 Maret 1942, di dalam kabinet Gerbrandy di London itu terdapat tiga orang menteri yang faham keadaan sebenarnya dari Indonesia yaitu Kersten, Van Mook dan orang Indonesia – Raden Adipati Ario Soejono ( mantan Anggota Raad van Indie) yang menjabat sebagai Menteri Negara.

Untuk melukiskan sfeer atau suasana di kalangan kainet adalah menarik untuk mengetahui bahwa PM Gerbrandy berkata suatu hari kepada karaten dan Van Mook mungkin mengangkat bahunya mendengar nonsens demikian.

Begitu juga Kesrten, Bagi Soejono sudah jelas bahwa dia tidak bisa mengharapkan apa-apa dari Belanda sehabis perang di bidang politik. Belanda tetap reaksioner. Soejono akan pulang ke tanah air dengan tangan kosong. Dia tutup usia di London tanggal  5 Januari 1943. Pada hemat Swijze, mati karena ellende, artinya sengsara, makan hati.

Tanggal 8 Maret 1942 ter Poorten memberitahukan kepada Tjarda bahwa apabila dia dan Gubernur Jenderal  tidak segera menghadap Letjen Imamura di Kalijati, maka Bandung bakal dihancurkan dengan pemboman dari udara. Seorang perwira staf Jepang telah berada di halaman depan  villa Isola, markas Mayjen Pasman, memegang tanda dengan kain (lappansein) yang menghubungkannya dengan sebuah pesawat  terbang Jepang  ysng beredar di  atas Bandung.

Perwira Jepang itu  memberitahukan  kepada Pasman  bahwa  apabula belum juga ada persetujuan  pihak Belanda  untuk datang  meghadap ke Kalijati maka pukul 10 dia akan memberikan aba-aba kepada pesawat terbang Jepang memulai serangan udara secara besar-besaran terhadap Bandung. Tjarda akhirnya setuju. Mereka berangkat  ke Kalijati. (***)

You must be logged in to post a comment Login