TNI, Rakyat, Profesional : Harian Berita Sore

TNI, Rakyat, Profesional

15 Oktober 2008 | 16:07 WIB


Dalam etika (kode etik) keprajuritan upaya memantapkan kesadaran jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat tertuang dalam dalam “8 Wajib TNI “ yaitu: Pertama, bersikap ramah-tamah terhadap rakyat, kedua, bersikap sopan santun terhadap rakyat, ketiga, menjunjung tinggi kehormatan wanita, keempet, menjaga kehormatan diri di muka umum, kelima, senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya. Keenam, tidak sekali-kali merugikan rakyat, ketujuh, tidak sekali-kali menakuti dan menyakit hati rakyat,   kedelapan, menjadi contoh dan mempelopori usaha-usaha untuk mengatasi kesulitan rakyat sekelilingnya.

Delapan kewajiban prajurit TNI di atas tidak hanya sebatas komitmen bahwa TNI tetap mencintai rakyat akan tetapi TNI ingin memublikasikan kenyataan sejarah bahwa kekuatan TNI itu sesungguhnya bersama rakyat.

Apa yang   dikatakan Kapendam I/BB Asren Nasution itu sangat tepat bahwa TNI harus bersama rakyat. Tanpa dukungan rakyat TNI tidak akan berarti apa-apa, walaupun misalnya TNI dilengkapi dengan persenjataan yang super canggih.

Sama halnya dengan yang dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan puncak HUT ke-63 TNI di Dermaga  Ujung, Surabaya, kemarin, penggunaan kekuatan militer masih menjadi solusi bagi beberapa konfik di belahan dunia lainnya.

Berakhirnya era perang dingin, tidak serta merta mewujudkan dunia menjadi lebih damai bahkan di beberapa belahan dunia terus bergejolak. Pada kenyataannya, politik kekuatan atau ‘power politic’ masih menjadi bagian dari penyelesaian masalah.

Bagi TNI tidak perlu meniru kekuatan militer negara lain yang mempergunakan mesin perangnya untuk tujuan politik dan kekuasaan, bahkan mencaplok kedaulatan suatu bangsa. Sebab, kekuatan militer yang tidak diimbangi dengan kekuatan mental dan spiritual cenderung menghalalkan segala cara.

HUT ke-63 TNI yang biasanya berlangsung setiap 5 Oktober pada tahun 2008 ini dimundurkan menjadi kemarin karena berdekatan dengan hari raya Idul Fitri 1429 H yang jatuh pada tanggal 1 dan 2 Oktober lalu.

Bagi masyarakat setiap HUT TNI (dulu ABRI) merupakan momen yang ditunggu-tunggu untuk melihat personel TNI dalam berbagai atraksi di darat, laut, maupun udara. Ada kebanggaan bagi rakyat melihat kekuatan TNI-nya yang terampil  dalam baris berbaris, memainkan bela diri dan persenjataan perangnya.

Oleh karena itu, menambah kekuatan militer misalnya di bidang persenjataan agar lebih canggih menurut hemat kita sah-sah saja. Hal ini sejalan dengan kemajuan persenjataan dari negara-negara lainnya, sehingga Indonesia pun harus bisa lebih maju ketimbang kekuatan persenjataan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dll. Kalau pemerintah tidak memperhatikan kekuatan militer (TNI) dikhawatirkan kedaulatan bangsa dan negara kita dapat terusik, bahkan terancam.

Ada saja negara lain yang mencoba-coba dengan berbagai manuver guna mempermalukan kekuatan militer kita khususnya di tapal batas laut dan udara.

Namun begitu,  tingkat profesional TNI semakin berkembang sehingga kekuatan militer tidak hanya di bidang persenjataan  yang semakin mutakhir tetapi juga personelnya semakin profesional dalam menjalankan tugas-tugasnya membela rakyat dengan seluruh wilayahnya dari Sabang hingga Merauke.

Di sinilah kunci keberhasilan TNI. Semakin profesional semakin disegani lawan maupun kawan, dan tentunya  akan mendapat apresiasi dari seluruh rakyat Indonesia.=

 

 

             

 

Comments

Comments are closed.