Gubernur Aceh: Wajar Nobel Untuk Ahtisaari : Harian Berita Sore

Gubernur Aceh: Wajar Nobel Untuk Ahtisaari

11 Oktober 2008 | 12:24 WIB


Banda Aceh ( Berita ) :  Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Irwandi Yusuf menilai wajar Martti Ahtisaari memperoleh nobel perdamaian karena telah berhasil menfasilitasi terciptanya perdamaian di daerah tersebut.

“Pemerintah Aceh menyambut baik dan menilai wajar Martti Ahtisaari menerima nobel perdamaian selaku salah satu tokoh yang sudah menfasilitasi kesepakatan (MoU) damai Helsinki,” katanya di Banda Aceh, Jumat [10/10].

Pernyataan gubernur itu disampaikan melalui Kepala Biro Hukum dan Humas Setprov NAD, Hamid Zein. “Pernyataan itu disampaikan gubernur kepada saya karena beliau sedang berada di Malaysia,” kata Hamid Zein.

Komite Nobel memilih Ahtisaari dari 197 calon penerima Nobel Perdamaian, sebagai penerima hadiah sebesar 1,4 juta dolar atas “usaha-usaha pentingnya, di berbagai benua dan selama tiga puluh tahun, untuk menyelesaikan konflik-konflik internasional.”

Ahtisaari, Presiden Finlandia pada tahun 1994 hingga 2000, punya karier diplomatik mulai dari Afrika hingga kawasan Balkan. Dia sudah bertahun-tahun menjadi favorit pemenang nobel.

Melalui Crisis Management International (CMI) yang dipimpinnya, Ahtisaari menfasilitasi proses perdamaian anata pemerintah RI dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005.

Gubernur Irwandi mengatakan, berkat jasa Ahtisaari maka masyarakat Aceh dapat merasakan perdamaian setelah lebih 30 tahun hidup dalam suasana konflik bersenjata.

Ia juga mengimbau masyarakat Aceh untuk membangun agar perdamaian tersebut bisa berlangsung abadi sehingga upaya pemerintah untuk membangun “Aceh baru” dalam bingkai NKRI bisa terwujud dimasa mendatang.

 

Masyarakat Aceh

Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menyambut baik pemberian Penghargaan Nobel Perdamaian kepada Martti Ahtisaari atas karir panjangnya dalam mediasi perdamaian, khusus di Aceh.

“Warga di Aceh telah merasakan perdamaian setelah kesepakan damai (MoU) antara Pemerintah RI dengan pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 yang dimediasi  Martti Ahtisaari,” kata Ketua DPR Aceh, Sayed Fuad Zakaria di Banda Aceh, Jumat.

 Menurut dia, wajar jika masyarakat Aceh dan Indonesia umumnya mengucapkan terima kasih kepada mantan Presiden Finlandia itu sehingga perdamaian di provinsi ujung paling barat Indonesia  terjalin sampai hari ini.

“Dengan pemberian Nobel tersebut, maka dunia juga telah mengakui perdamaian di Aceh. Suasana Aceh damai dibawah bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga kini masih kita rasakan,” tambah dia.

Komite Nobel memilih Ahtisaari dari 197 calon penerima Nobel Perdamaian, sebagai penerima hadiah sebesar 1,4 juta dolar atas “usaha-usaha pentingnya, di berbagai benua dan selama tiga puluh tahun, untuk menyelesaikan konflik-konflik internasional.”

Ahtisaari, Presiden Finlandia pada tahun 1994 hingga 2000, punya karier diplomatik mulai dari Afrika hingga kawasan Balkan. Dia sudah bertahun-tahun menjadi favorit pemenang Nobel.

 Sayed Fuad juga berharap seluruh komponen masyarakat agar menjadikan momentum pemberian Nobel perdamaian kepada Martti Ahtisaari untuk memperkuat dan melanggengkan damai di provinsi berpenduduk sekitar 4,2 juta jiwa tersebut.  “Secara intern, masyarakat Indonesia khususnya Aceh harus terus mendorong agar perdamaian di Aceh bisa abadi,” kata Ketua DPRD Aceh.  ( ant )

 

Comments

Comments are closed.