Medan Banjir


Medan ( Berita ) : Kota Medan diguyur hujan lebat selama dua jam lebih, Jumat (10/10), pukul 05.00 WIB hingga 07.00 WIB, mengakibatkan sejumlah ruas jalan di kota itu tergenang banjir. Genangan air yang cukup tinggi itu menyebabkan banyak kendaraan roda empat dan sepeda motor juga terjebak macet.

banjir1.jpg


Hujan lebat selama dua jam lebih melanda kota medan, sejumlah ruas jalan di kota tergenang banjir,  Suasana banjir Jln. Asia Medan, Jumat (10/10) pagi [Berita Sore/David Swayana]

 

Selain itu, ratusan rumah warga di Medan tergenang air. Sejumlah warga yang rumahnya tergenang masih menguras air yang meluber sampai ke rumah, Jumat (10/10) pagi. Penjabat Walikota Medan Drs H Afifuddin Lubis, MSi, mengakui, genangan air ini terjadi akibat saluran drainase yang tidak lancar.

’Kita akan membenahi drainase yang tumpat di mana-mana,’ ujar Afifuddin ketika ditemui saat meresmikan 29 unit truk di Dinas Kebersihan Medan. Sementara itu Pelaksana Kepala Bagian Humas Pemko Medan Rusdy Siregar, SE, mengatakan, akibat saluran drainase yang tidak lancar ini mengakibatkan terjadinya genangan air saat curah hujan cukup tinggi.

Umumnya genangan air terjadi di 72 titik rawan banjir seperti di Jalan Letda Sujono, Jalan Gatot Subroto, Jalan Gunung Krakatau, Jalan MH Thamrin, dan Jalan Sutrisno.  Jalan Sisingamangaraja dekat terminal terpadu Amplas Medan, pajak simpang Limun, di depan Mesjid Al Mansun (Mesjid Raya), Jalan Balai Kota dekat Stasiun Besar Kereta Api Medan.

Selain itu, Jalan Raden Saleh Medan dekat kantor Perum LKBN ANTARA Sumut, Jalan  Sudirman, Jalan Karya Kelurahan Sei Agul Medan dan  lokasi Perumnas Helvetia Medan.

Banjir yang terjadi di kota berpenduduk dua juta jiwa lebih itu, mengakibatkan sejumlah angkutan kota (Angkot) ‘berwarna kuning’ juga terjebak macet di beberapa ruas jalan. Kemacetan itu menyebabkan para pelajar SMA, PNS dan sejumlah karyawan swasta terlambat masuk sekolah/kerja.

Zainuddin (34) warga Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, mengatakan, biasanya sekitar pukul 08.00 WIB sudah masuk kantor.

 Namun pada  hari ini (Jumat,10/10) dia terlambat karena bus yang ditumpanginya dari Tanjung Morawa ke Medan terperangkap banjir di simpang Amplas Medan.

‘Saya benar-benar binggung melihat banjir yang terjadi di Jalan Sisisingamangaraja Medan. Polisi lalulintas terpaksa turun tangan untuk mengatur kemacetan,’ katanya.

Sementara itu, Ali Rahman Sitompul (28) yang tinggal di Jalan Karya Medan, menjelaskan, kendaraan sepeda motor yang biasa digunakan tiba-tiba mogok karena terendam air parit berwarna hitam.

Menurut Sitompul, sepeda motornya tidak bisa hidup akibat mesinnya terendam air banjir setinggi 50 cm. Kendaraan dinas itu terpaksa harus didorong ke bengkel untuk diperbaiki.

Evarena (32), warga Perumnas Helvetia  Medan mengatakan, akibat hujan lebat itu, dia terpaksa bekerja keras untuk mengeluarkan air yang merendam rumahnya. ‘Sebelum pergi ke kantor, saya terpaksa bekerja dulu menimba air banjir yang kotor dari  dalam parit. Ini benar-benar membosankan,’ ujar Evarena yang berdarah Minang itu.

Ketika ditanya penyebab banjir itu, Evarena mengatakan, karena tidak berfungsinya saluran air yang ada di depan rumah warga di Perumnas itu.  Selain itu, katanya, parit berukuraan kecil itu banyak terdapat sampah sisa-sisa pembuangan makanan milik warga berupa plastik,  kaleng-kaleng kosong, kain kotor yang kelihatan menumpuk di dalam parit.

’Saya mengharapkan penjabat Walikota Medan dapat memerintahkan Dinas Kebersihan, Camat, Kepala Kelurahan dan Kepala Lingkungan untuk mengadakan gotong-royong satu kali sebulan untuk membersihkan saluran parit yang tidak berfungsi itu,’ ujarnya.

 

 

Ratusan Siswa Diliburkan

Ratusan siswa di beberapa sekolah di Kabupaten Deli Serdang, Sumut terpaksa libur belajar karena banjir yang terjadi di daerah tersebut. Hujan yang terjadi sekitar dua jam sejak pukul 05.00 hingga 07.00 WIB, Jumat, mengakibatkan beberapa ruas jalan protokol didaerah itu terendam air setinggi 30- 50 Cm.

 Salah satu sekolah yang terpaksa meliburkan siswanya adalah SD 101767 Desa Tembung Kecamatan Percut Sei Tuan,Kabupaten Deli Serdang. “Tidak mungkin kita paksakan siswa belajar kalau semua ruang kelas terendam air,” kata salah seorang guru disekolah tersebut.

Guru yang tidak ingin disebutkan namanya itu, mengatakan, sebenarnya banyak juga siswa yang sudah datang kesekolah untuk belajar, namun akibat banjir pihaknya mengambil kebijakan untuk memulangkan siswanya.

Namun, meski lokasi sekolahnya terendam banjir, beberapa sekolah lain tetap melaksanakan aktivitas belajar seperti biasa, seperti misalnya sekolah Prayatna Medan.

Akibat banjir tersebut juga mengakibatkan sejumlah ruas jalan di Medan tergenang air hingga terjadi kemacetan kenderaan  berupa mobil. pribadi, angkotan kota dan sepeda motor yang mencapai sepanjang 1 Km lebih.

Salah satu ruas jalan yang terendam cukup parah yakni Jalan Letda Sujono Medan, tepatnya didepan pintu masuk pintu Tol Bandar Selamat.

Beberapa pengendara bahkan mencoba mencari jalan alternatif menuju pusat kota Medan. Salah satunya adalah melewati Desa Lau Dendang, Kabupaten Deli Serdang, namun hal yang sama juga melanda daerah itu. Akibatnya semua ruas jalan menuju Medan dari Desa Tembung, Kabupaten Deli Serdangh terjebak kemacetan.

 

Pusaran “Eddy”

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyatakan dalam dua hari terakhir terutama pada Jumat dini hari wilayah Kota Medan dilanda pusaran “Eddy”. “Beberapa hari terakhir Medan menjadi daerah pusaran ‘Eddy’ sehingga mengakibatkan terjadinya hujan dengan intensitas tinggi disertai petir,” ujar Kepala Seksi Data dan Informasi BMG Stasiun Bandara Polonia, Firman, SKom, di Medan, Jumat.

 Dia menjelaskan, adanya gangguan cuaca akibat pengaruh angin musim timur laut yang terjadi sejak sore hingga malam hari dan adanya pusaran yang bersifat lokal itu telah menyebabkan terbentuknya angin yang berputar.

Pertemuan kedua fenomena cuaca pada malam hari itu mengakibatkan terbentuknya awan Comulonimbus (CB) yang mengalami pematangan pada dini hari hingga pagi hari, sehingga menyebabkan turunnya hujan dengan intesitas tinggi atau di atas 50 milimeter per hari disertai angin dan petir, ujarnya.

 Menurut dia, kondisi cuaca seperti itu hanya terjadi dalam waktu tiga hingga empat hari dan bersifat lokal, terkait dengan musim peralihan cuaca yang mulai terjadi pada daerah pantai timur Sumut. “Model hujan seperti ini hanya bersifat lokal, namun akan berpidah ke daerah lain terutama yang berada di pantai timur Sumut karena berdekatan dengan laut,” katanya lagi. ( Irh /ant )