Patokan Harga Minyak RAPBN 2009 Terlalu Rendah


Jakarta ( Berta ) “  Pengamat ekonomi, Edwin Sinaga menilai penetapan patokan harga minyak mentah pada RAPBN 2009 sebesar 95 dolar AS per barel terlalu rendah dari sebelumnya 100 dolar AS, karena harga minyak itu cenderung fluktuatif (tak menentu).

“Penetapan patokan harga minyak mentah itu yang mencapai 100 dolar AS per barel itu sebenarnya cukup konservatif kalau melihat harga minyak mentah dunia itu saat ini masih tak menentu,” katanya yang juga Dirut PT Finan Corpindo di Jakarta, Selasa [23/09] .

Menurut Edwin Sinaga , harga minyak mentah dunia diperkirakan akan sulit untuk bisa dibawah angka 90 dolar AS, meski sebelumnya sempat turun dibawah angka 100 dolar AS per barel. “Saya rasa harga minyak mentah dunia itu sulit untuk bisa dibawah90 dolar AS per barel, meski daya beli konsumen berkurang,” katanya.Idealnya patokan harga itu pada kisaran 110-115 dolar/ barel

Rontoknya sejumlah perusahaan keuangan AS, lanjut dia merupakan salah satu faktor yang menyebabkan permintaan minyak mentah dunia berkurang, bahkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak Mentah (OPEC) berencana untuk mengurangi produksinya.

Hal ini dilakukan untuk tetap menekan harga minyak mentah yang cenderung kembali menguat, setelah sempat berada dibawah 100 dolar AS, ucapnya. Harga minyak mentah dunia saat ini mencapai 106 dolar AS per barel naik dari sebelumnya 102 dolar AS.

 

Inflasi

Ditanya mengenai inflasi yang semula 6,5 persen turun menjadi 6,2 persen, Edwin mengatakan, terlalu optimis, karena pada tahun 2009 akan ada pemilihan umum (Pemilu) yang sedikit banyak akan berpengaruh terhadap laju inflasi 2009.

 “Kami menilai pemerintah terlalu optimis dengan menetapkan angka inflasitersebut, karena kegiatan pemilu jangan dianggap ringan, apalagi kalau terjadi kerusuhan, meski kita tidak mengharapkannya,” katanya.

Mengenai rupiah, menurut dia cukup realistis dengan penetapan angka tersebut yang mencapai Rp9.150 per dolar AS, namun masyarakat ingin melihat kedepan apakah gejolak ekonomi dunia masih terjadi dan ini yang harus diperhatikan lebih jauh.

 Gejolak ekonomi dunia itu mengakibatkan kawasan Asia (Jepang), Eropa dan Amerika Serikat mengalami pelambatan pertumbuhan yang dikhawatirkan akan terus berdampak ke berbagai negara Asia khususnya Indonesia.

 BahkanChina yang ekonominya tumbuh di atas sembilan persen agak berat menahan gejolak tersebut sehingga mengalami penurunan sebesar duapersen, katanya.

Pemerintah harus memperhatikan gejolak pemilu dan turbulensi ekonomi global, meski pertumbuhanekonomi 2009 diharapkan akan muncul dari sektor telekomunikasi, transfortasi dan sektor perbankan. ( ant )

Comments are closed.