Keempat titik itu masing-masing terdapat di jalur lintas kereta Medan-Binjai pada kilometer (Km) 0,7 hingga Km 2, kemudian Medan-Lubuk Pakan Km 4,5 hingga Km 4,7, Tebing Tinggi-Pematang Siantar Km 7,8 hingga Km 8 dan Tebing Tinggi-Kisaran Km 95,6 hingga Km 95,7.
“Bantalan kereta itu labil akibat struktur tanah di daerah setempat yang kurang mendukung, ” ujar Humas PT Kereta Api Indonesia Divre I Sumut dan NAD, Suhendro Budi Santoso, di Medan, Rabu [17/09] .
Menurut dia, kondisi terburuk yakni anjloknya kereta berpotensi terjadi di beberapa titik bantalan kereta yang labil itu jika dalam beberapa hari hujan turun.
Jika pada salah satu jalur itu anjlok terutama perlintasan kereta di lintas timur anjlok maka dipastikan operasional kereta akan berhenti total karena jalur kereta api di Sumut hanya mono rel.
“Langkah penanggulangan jika peristiwa itu terjadi, pihak kereta api telah meletakkan sejumlah alat berat di sejumlah tempat yang strategis agar anjloknya rel itu bisa segera diperbaiki,” ujar dia.
Sebelumnya pada Senin, (8/9) malam jalur kereta api di Sumut sempat terputus akibat anjloknya rel perlintasan kereta di kawasan Air Batu, Kabupaten Asahan, Sumut ketika dilalui oleh kereta yang mengangkut minyak sawit mentah (CPO).
Peristiwa itu mengakibatkan pergerakan kereta penumpang rute Medan-Rantau Parapat mengalami gangguan karena terpaksa turun dari kereta dan berjalan kaki sejauh 100 meter untuk berganti kereta saat berada di lokasi anjloknya perlintasan kereta api. ( ant )
You must be logged in to post a comment Login