Polwan-Polwan Pun Jadi Komandan : Harian Berita Sore

Polwan-Polwan Pun Jadi Komandan

9 September 2008 | 15:45 WIB


Polisi Wanita atau Polwan lahir pada 1 September 1948 di kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat kala pemerintah Indonesia menghadapi Agresi II.

Kala itu, pengungsian besar-besaran antara lain dari semenanjung Malaya yang sebagian besar kaum wanita. Mereka tak mau diperiksa polisi laki-laki (Polki), apalagi digeledah secara fisik.

Setelah itu, penanganan dan penyidikan terhadap kasus kejahatan yang melibatkan kaum wanita sebagai korban dan pelaku kejahatan pun menuntut peran Polwan. Akhirnya, pemerintah Indonesia menunjuk Sekolah Polisi Negara (SPN) Bukit Tinggi untuk membuka “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum wanita.

Setelah melalui seleksi terpilih enam gadis remaja yang semuanya dari ranah Minang yakni Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmaniar Husein, dan Rosnalia Taher.

Keenam gadis remaja itu mulai mengikuti Pendidikan Inspektur Polisi secara resmi di SPN Bukit Tinggi mulai 1 September 1948. Enam “perintis” Polwan itu juga tercatat sebagai wanita ABRI pertama di tanah air yang kini kesemuanya sudah pensiun dengan rata-rata berpangkat Kolonel (Komisaris Besar).

Dalam sepuluh tahun terakhir (1998-2008), tugas Polwan tak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika, dan masalah administrasi.

Tugas Polwan kini sudah menyamai tugas Polki. Kesetaraan itu mulai terlihat di penghujung tahun 1998 dengan adanya lima Polwan yang dipromosikan menjabat Kapolsek.

Di usia ke-60 pada 1 September 2008, Kombes Pol Rumiah tercatat sebagai Polwan yang pertama kali menjadi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda).

Mantan Sekretaris Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Seslemdiklat) Polri itu menjabat sebagai Kapolda Banten terhitung mulai 15 Januari 2008.

Kombes Pol Rumiah itu melengkapi perjuangan para pahlawan wanita, seperti Ratu Shima (Kalingga, Jateng), Ken Dedes (Malang, Jatim), Tribuana Tunggadewi (Mojopahit, Jatim), hingga RA Kartini (Jepara, Jateng) dan Dewi Sartika (Jabar).

 

Terbebas gender

Tampilnya Kombes Pol Rumiah sebagai “komandan” di Banten itu mendorong “gerbong” Polwan yang terbebas dari isu gender di berbagai daerah, termasuk di Jatim. “Nggak ada isu gender yang dialami Polwan, karena kami mempunyai seorang wakapolwil dan dua orang kapolres,” kata Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Jatim Kombes Pol Dra Pudji Astuti MM kepada ANTARA di Surabaya (31/8).

Mantan anggota DPRD Kota Surabaya itu mengaku Polwan di Jatim sudah ada yang menjadi Wakapolwil di Bojonegoro serta Kapolres di Batu dan Ponorogo.

“Bahkan, dari 1.455 Polwan yang ada di Jatim sudah ada satu Polwan yang berpangkat Kombes (Kabid Humas Polda Jatim), 33 Polwan berpangkat AKBP, 61 Polwan berpangkat Kompol, 212 Polwan yang pama, dan 1.148 Polwan bintara,” katanya.

Sayang sekali, puncak HUT ke-60 Polwan pada 1 September 2008 bertepatan dengan hari pertama bulan puasa Ramadan 1429 H.  “Karena itu, acara resepsi puncak HUT ke-60 Polwan di Jatim digeser menjadi 17 September mendatang,” kata Kombes Pol Pudji Astuti.

Meski demikian, katanya, kegiatan pra-HUT ke-60 Polwan sudah dilaksanakan sejak 19 Agustus lalu berupa penyuluhan narkoba di SMA Kawung I Jl Kemayoran Surabaya. Setelah itu, kunjungan ke panti sosial Liponsos di Keputih, Sukolilo, Surabaya pada 20 Agustus, dan donor darah di PMI Surabaya pada 22 Agustus.

“Kami juga tak lupa mengadakan anjangsana ke Polwan yang sakit dan purna pada 25 Agustus, dan lomba MC di Mapolda Jatim pada 28 Agustus,” katanya.

Selain itu, olahraga bersama di lapangan belakang Mapolda Jatim pada 29 Agustus, “on air” tentang HUT ke-60 Polwan di JTV pada 30 Agustus dan radio Suara Mitra Polda Jatim pada 1 September.

Tidak hanya di internal Polri, namun prestasi Polwan pun merambah eksternal Polri, diantaranya Wakapolres Surabaya Timur Kompol Ony Rajaloa yang meraih medali emas untuk kejuaraan menembak jenis R-pistol pada PON XVII di Kalimantan Timur.

Agaknya, Polwan-Polwan yang menjadi “komandan” di berbagai bidang itu membuktikan bahwa Polwan bukan lagi hanya pelengkap di tubuh Polri.  (ant/ Edy M Ya’kub )

 

Comments

Comments are closed.