Heboh ’Super Toy’
9 September 2008 | 15:46 WIB
Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa meminta semua pihak melihat masalah kegagalan panen padi ’’super toy’’ secara proporsional. Namun begitu, masyarakat melihat keterlibatan Istana Negara dalam hal ini Presiden SBY dalam melakukan panen padi ’super toy’ merupakan kegagalan atau kecerobohan pemerintah di bidang pertanian.
Soal hebohnya padi yang disebut varietas unggulan ’super toy’ menurut hemat kita bisa terjadi karena benih padi kurang bermutu, namun oleh pihak tertentu ingin dipopulerkan, sehingga diambil jalan pintas.
Oleh karena itu, tugas Mensesneg cenderung untuk menutupi kecerobohan staf khusus Presiden, Heru Lelono, dan bertujuan membersihkan nama SBY bahwa Presiden hanya diundang untuk panen padi ’’super toy’’ sehingga tidak ada urusan dengan kegagalan panen.Tentu saja hal itu tidak cukup. Sebab, dampak kecerobohan orang-orang di dalam Istana Negara cukup telak.
Terctata, Heru Lelono sudah dua kali mempermalukan Presiden SBY dengan melibatkan dan meyakinkan petinggi negara dalam penemuan sumber BBM baru dari air laut yang disebut dengan ’’blue energy’’ oleh penemunya JS, bahkan sudah diuji coba dengan pelepasan sejumlah mobil yang disebut-sebut menggunakan ’’blue energy’’ oleh Presiden SBY dari Istana Negara. Faktanya, temuan itu membuahkan ’’aib’’ buat negara dan bangsa Indonesia. Temuan ’’blue energy’’ pun menjadi bahan tertawaan pakar di bidang teknologi sumber daya energi di dalam negeri dan luar negeri. Berikut kasus ’super toy’.
Mengapa Presiden SBY begitu mudahnya dipermalukan oleh Heru Lelono sampai dua kali? Hal ini bisa terjadi, karena Presiden sangat percaya dengan staf khususnya itu tanpa mengetahui ’’track record’’ yang bersangkutan.
Siapa yang memberi rekomendasi nama Heru Lelono ke Presiden SBY haruslah bertanggung jawab. Karena sudah dua kali Presiden SBY dipermalukan di depan umum karena begitu percaya pada staf khususnya itu.
Jadi, hal yang wajar saja kalau muncul dugaan, bisa-bisa Heru Lelono sengaja disusupkan ke dalam lingkaran SBY untuk merusak citra Istana Negara (SBY). Namun begitu, Heru Lelono dipastikan tidak sendirian.
Ada pihak lain yang juga terlibat dalam upaya merusak citra SBY. Apalagi, menjelang berlangsungnya Pemilu legislatif dan Pilpres tahun depan. Sehingga targetnya jelas, ingin menggembosi popularitas dan kredibilitas SBY?
Oleh karena itu, kedua kasus memalukan itu jangan sampai terjadi lagi di masa mendatang. Apa pun juga yang melibatkan Presiden harus disaring secara ketat. Kalau sudah benar-benar ’’oke’’ baru Presiden boleh terlibat di dalamnya. Kalau belum pasti sebaiknya dikaji dulu di tingkat departemen.
Terkait dengan dua kasus tersebut, kita melihat masih suburnya laporan ’’ABS’’ alias asal bapak senang. Sehingga temuan-temuan baru yang belum lewat uji kelayakan sudah disampaikan kepada Presiden dengan harapan Presiden senang dan yang memberi laporan mendapat bonus berupa pujian, kenaikan pangkat dll. Sikap percaya pada kinerja anak buah bagus, tapi bersikap kritis harus dan tak boleh diabaikan oleh setiap pemimpin.=


Comments