Siraman Rohani Ustad WNI : Harian Berita Sore

Siraman Rohani Ustad WNI

8 September 2008 | 14:38 WIB


Dor..dor..dor.. Tembakan polisi diraja Malaysia membuat empat WNI, anggota “Geng Rantau” langsung tersungkur, Jumat dinihari (29/8). Menurut kepala polisi Selangor Khalid Abu Bakar, mereka ditembak karena mencoba menyerang polisi seusai merampok.

Berita WNI ditembak mati oleh polisi jiran kerap muncul di media massa Malaysia. Peristiwa semacam itu tentu saja mencoreng citra Indonesia. Tapi bukan hanya kriminalitas yang disumbangkan WNI di Malaysia. Di bulan Ramadan ini, para ustad atau dai Indonesia juga “laris manis” menjadi penceramah di masjid-masjid Malaysia.

“Ini yang harus menjadi catatan bagi warga Malaysia, bahwa kontribusi TKI bukan hanya pada pembangunan fisik seperti gedung menara kembar Petronas dan kawasan pemerintahan Putrajaya, tapi juga pembangunan spiritual,” kata ustad Miftah, yang sudah 15 tahun tinggal di Malaysia.

“Alhamdulillah, jadwal ceramah saya hingga Idul Fitri sudah penuh. Memberikan siraman rohani kepada warga Indonesia di Malaysia maupun di masjid-masjid Kuala Lumpur,” katanya.

MIftah tetap mempertahankan kewarganegaraan Indonesia walaupun sudah mendapat tawaran untuk menjadi “permanent residence” (PR) atau penduduk tetap di negara jiran serumpun.

“Tidak terhitung jumlah ustad WNI yang memberikan ceramah di masjid-masjid Malaysia. Baik ustad yang diundang langsung dari Jakarta atau Jawa atau yang sudah lama tinggal di Malaysia. Baik yang bersertifikat dari jabatan agama Islam Malaysia atau yang tidak,” kata ketua PKB untuk Malaysia Maghfur Machrodji.

Ustadz Ahmad Muaidi Rofiih asal Madura, Ustadz Tunggul Wahidin, ustad Syarif asal Bawean, adalah sedikit dari mereka yang sering memberikan ceramah di surau-surau Malaysia.

Jadi bukan hanya TKI, atau artis musik Indonesia laku keras di Malaysia. Ketika Ramadan, ustad dan ulama Indonesia juga laku keras di Malaysia, kata Maghfur.

Ketua persatuan pelajar Indonesia (PPI) Malaysia Irfan Syauqi Beik, menyatakan sepanjang Ramadan, banyak mahasiswa Indonesia yang mengambil program S2 dan S3 di Malaysia, mencari pendapatan tambahan dengan menjadi penceramah atau imam di masjid-masjid Malaysia.

Dr Ugi Suharto, seorang WNI yang menjadi dosen fakultas ekonomi di Universiti Islam Antarbangsa (UIA) mengakui sering diminta ceramah di berbagai masjid.

“Saya kebetulan juga ditunjuk sebagai imam masjid di perumahan saya di Shah Alam,” kata Ketua Unit Pelaksana Zakat Badan Amil Zakat Nasional (UPZ Baznas) di Malaysia itu.

Menurut Ugi, banyak warga Indonesia yang menjadi dosen dan mahasiswa S2 dan S3 di UIA diminta menjadi penceramah, guru mengaji, dan imam masjid.

 

Karena Kemampuan

Malaysia sebenarnya banyak mengirim generasi mudanya belajar agama ke Universitas Al Azhar, Kairo dan juga ke Arab Saudi. Ada juga yang dikirim ke Indonesia dan Thailand, namun tetap saja banyak masjid-masjid di Malaysia yang mengundang ustad Indonesia.

“Malaysia memang banyak mengirim generasi mudanya ke Timur Tengah, tapi kebanyakan mereka memilih menjadi guru agama di sekolah formal. Jarang yang mau menjadi ustad, karena menjadi guru lebih pasti gaji dan tunjangan hari tuanya,” ujar Miftah. Selain itu, tidak banyak orang yang pintar dalam agama juga pintar dalam ceramah di depan orang banyak.

Maghfur mengatakan banyak WNI tinggal di Malaysia, baik sebagai TKI, “permanent residence” (PR), ekspatriat atau mahasiswa. Mereka  kerap terlibat dalam pembangunan masjid dan syiar Islam di sekitar tempat tinggalnya.

“Mereka inilah yang sering mengundang ustad atau penceramah orang Indonesia di masjid-masjid Malaysia. Baik penceramah Indonesia yang sudah tinggal di Malaysia lama atau diterbangkan langsung dari Jakarta, Jawa atau Sumatera,” kata Maghfur, warga Bawean yang sudah sekitar 28 tahun di Malaysia.

Banyak juga warga Malaysia yang berguru dan “mondok” di Jawa atau Sumatera. Mereka terbiasa mendengarkan ceramah dari ustad Indonesia dan membaca buku-buku agama Islam terbitan Indonesia. “Jadi mereka sudah familiar dengan penceramah atau pemikiran Islam Indonesia,” ujarnya.

Ustad asal Indonesia juga dikenal memiliki kemampuan ilmu agama dan orasi sangat baik. “Kalau tidak mana mungkin bisa diterima warga Malaysia yang semuanya merupakan orang yang berpendidikan tinggi,” katanya.

Tidak sembarang orang bisa ceramah agama Islam di Malaysia. Jabatan agama Islam mewajibkan setiap penceramah memiliki tauliah atau sertifikat.

“Saya tidak punya sertifikat, tapi karena pengundang percaya  terhadap pengetahuan agama saya dan cara saya menyampaikan ceramah, mereka tidak mempermasalahkan,” kata Miftah. ( ant/ Adi Lazuardi )

Comments

Comments are closed.