Caleg Artis Hanya Pajangan
27 Agustus 2008 | 08:14 WIB
Ketua Kelompok Fraksi PKS DPR RI Jazuli Djuwaeni, Senin, mengatakan selebritis yang menjadi calon legislatif (Caleg) DPRD provinsi maupun pusat harus melalui uji kualitas agar dapat dipertanggungjawabkan.
Selebritis yang mencalonkan diri menjadi anggota dewan merupakan hak sebagai warga Indonesia untuk terjun ke dunia politik. Namun demikian, sebaiknya partai politik yang mencalonkan selebritis menjadi legislatif harus melalui standar pengujian sehingga tidak ada proses langsung jadi (instant) terhadap seorang anggota Dewan.
Apa yang dikatakan Jazuli memang benar. Para Caleg yang ramai-ramai mendaftar di berbagai Parpol umumnya belum teruji. Bahkan menghafal visi dan misi partainya saja tidak mampu, apalagi mau mengurusi rakyat nantinya.
Justru itu, kualitas Caleg dari selebritis diperlukan. Parpol tidak hanya mengharapkan aspek popularitas yang dibutuhkan untuk menarik minat masyarakat dalam pencalonan legislatif, namun harus didukung juga faktor kualitas dari para calegnnya. Hal ini bertujuan agar jangan sampai ada eksploitasi selebritis pada proses pencalonan legislatif.
Penyerahan daftar calon anggota legislatif dari semua Parpol yang sah ikut Pemilu 2009 dipastikan sudah di tangan KPU Pusat, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten-Kota masing-masing daerah.
Sebab, Rabu dinihari (20/8) merupakan batas akhir. PDIP menyerahkan 620 nama Caleg, di antaranya dari kalangan artis, seperti Dedi (Miing) Gumelar, Sonny Tulung, Rieke Diah Pitaloka, Edo Kondologit.
Kelihatan sekali PDIP cukup solid dalam menyusun para Caleg untuk Pemilu legislatif tahun depan. Sehari sebelum penutupan PDIP sudah mendaftar dengan komposisi 424 laki-laki dan 196 perempuan. Berarti, PDIP melampaui persyaratan 30 persen Caleg perempuan.
Selain sederetan nama artis, dalam daftar nama Caleg PDIP kita melihat sejumlah tokoh tua masih terdaftar, begitu juga generasi dari anak-anak tokoh tua. Dan PDIP tidak sendirian merangkul artis. PAN, PPP, Partai Demokrat, Golkar dan sejumlah Parpol lainnya juga memasukkan artis dalam daftar Calegnya ke KPU. Pertanyaannya: Siapa yang diuntungkan? Artisnyakah, atau Parpolnya?
Hemat kita, keterlibatan artis dalam Pemilu bukan baru terjadi kali ini saja, tetapi sudah berlangsung lama. Bahkan sebelum reformasi, di masa Orde Baru kita masih ingat keterlibatan Eddy Sud dkk di Golkar, Rhoma Irama dkk di PPP, Mangara Siahaan dkk di PDI. Sudah pasti, sama-sama diuntungkan.
Yang pasti, Parpol memanfaatkan artis untuk mendapatkan dukungan suara dari masyarakat, khususnya penggemar artis tersebut. Bedanya, kalau dulu pada umumnya artis hanya ditempatkan sebagai ’’vote getter’’ semata tidak mungkin duduk di parlemen karena pada umumnya diberi nomor sepatu.
Namun sekarang, para artis memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Mereka bisa mendapatkan posisi nomor urut 1 di Parpol besar seperti Golkar, PDIP, PAN dll.Keterlibatan artis dalam Parpol atau kalau terpilih menjadi anggota parlemen memang tidak begitu menonjol kinerjanya. Mereka kalah jauh dibandingkan aktivis Parpol yang sudah kenyang pengalaman dalam dunia politik.
Hal ini bisa terjadi karena banyak di antara artis yang tidak mengerti hak dan tanggung jawabnya sebagai kader Parpol dan anggota parlemen. Mereka bak pajangan semata. Sehingga saat duduk di parlemen hanya dianggap ’’under dog’’ alias tidak diperhitungkan.=


Comments