Pulang Dengan Kepala Tegak : Harian Berita Sore

Pulang Dengan Kepala Tegak

22 Agustus 2008 | 15:49 WIB


Seluruh kontingen Indonesia  baik atlet maupun pelatih dan ofisial yang mengikuti Olimpiade Beijing di China kemarin sudah pulang dan tiba di tanah air dengan selamat. Yang menarik, mereka disambut dengan meriah oleh petinggi negara, termasuk Menpora DR Adyaksa Dault. Suasana suka cita sangat terasa.

Hasil satu emas, satu perak, dan tiga perunggu, dianggap suatu prestasi yang membanggakan. Hal itu terasa sekali di dalam kontingen, setelah Indonesia mampu mempertahanklan tradisi medali emas sejak Olimpiade Barcelona tahun 1992. Mereka pun pulang dengan kepala tegak!

Di Olimpiade Beijing target mempertahankan tradisi emas tercapai, di mana  bendera Merah Putih berkibar, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan atas perjuangan mati-matian pasangan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan.

Kita patut mengacungkan jempol, salut buat Kido dan Hendra. Baru pertama kalinya ikut Olimpiade, pasangan muda  Indonesia itu  akhirnya mempertahankan tradisi emas  dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam  Olimpiade. Pada Olimpiade 1992 (Barcelona, Spanyol) Indonesia meraih dua emas lewat Susi Susanti dan Alan Budikesumah.

Keduanya pun akhirnya mengikat sejarah hidupnya dengan pernikahan. Di Olimpiade  1996 Atlanta, AS, pasangan ganda Ricky Subagja dan Rexy Mainaky meraih emas. Menyusul Olimpiade 2000 di Sydney, Australia,  pasangan ganda putra Chandra Wijaya/Tony Gunawan juga meraih emas.

Empat tahun kemudian  di Olimpiade Athena, Yunani cabang bulutangkis tetap mampu mempersembahkan medali emas lewat tunggal putra Taufik Hidayat. Tahun ini di Cina,  Kido dan Hendra mengalahkan pasangan tuan rumah Cina Cai Yun/Fu Haifeng melalui pertarungan tiga game 12-21, 21-12, 21-16.

Kalau melihat  teknik dan faktor tuan rumah, kecil peluang Kido dan Hendra bisa menang. Namun, motivasi lain dari Kido dan Hendra memberikan yang terbaik untuk bangsa sebagai kado HUT kemerdekaan RI setelah kalah pada set pertama, keduanya berjuang mati-matian dan  berhasil bangkit di set kedua dan ketiga, dan memetik kemenangan.

Tak ayal lagi,  Indonesia sebenarnya mampu berprestasi di tingkat dunia. Tentunya lewat persiapan yang matang , jiwa bersih, dan keteguhan pemain untuk bertarung ’’all out’’ membela harkat dan martabat bangsanya.

Memang, kalau saja Markis Kido dan Hendra Setiawan tidak ada dipastikan Indonesia pulang tanpa medali emas. Harapan yang ditumpuhkan  pada Taufik Hidayat pupus di babak penyisihan, begitu juga kans terbesar dari pasangan ganda campuran  nomor satu dunia, Nova Widianto/Liliyana Natsir gagal mempersembahkan medali emas kedua bagi kontingen Indonesia setelah mereka kalah pada final dari ganda Korea Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung dalam pertarungan dua game 11-21, 17-21.

Ke depan Indonesia harus bisa mempersiapkan tim yang lebih  tangguh untuk menghilangkan keraguan dan pesimistis. Jangan lagi mempersiapkan tim saat mendekati waktu pertandingan. Tapi atlet harus diciptakan lewat program  latihan dan jenjang yang terukur. Jangan pernah minder dengan negara lain. Sebab, kalau kita melakukan persiapan atlet secara matang terbukti atlet Indonesia bisa juara di mana-mana.  Tidak hanya di olahraga, juga pelajar Indonesia mampu  mencetak medali emas dalam berbagai kompetisi saint dan teknologi tingkat dunia, bahkan Indonesia pada era BJ Habibie mampu membuat pesawat terbang.=

Comments

Comments are closed.