ILO Sambut Baik Pengiriman Tenaga Perawat Indonesia Ke Luar Negeri


Jakarta ( Berita ) :  Pengiriman perawat dan tenaga-tenaga terampil dari Indonesia ke luar negeri seperti ke Jepang memperoleh tanggapan positif dari pejabat Organisasi Perburuhan Internasional (ILO),  karena akan mengundang minat lebih banyak orang untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuannya

Direktur Departemen Analisis Pasar Perburuhan dan Ekonomi ILO Jenewa Dr. Duncan Campbell dan Direktur ILO Jakarta Alan Boulton mengatakan hal tersebut di Jakarta, Rabu [20/08] sehubungan dengan peluncuran laporan terbaru ILO bertajuk Tren Ketenagakerjaan dan Sosial di Indonesia 2008: Kemajuan dan Langkah menuju Pembangunan Padat Karya .

Hadir pada acara itu Prof. Dr. Sri Moertiningsih Adioetomo dari Universitas Indonesia, Rahma Iryanti dari Bappenas dan Kee Beom Kim, ekonom dari ILO Jakarta. “Baru-baru ini saya menonton tayangan berita tentang pengiriman tenaga perawat dari Indonesia ke luar negeri  seperti Jepang di  stasiun televisi BBC. Ini menarik dan suatu kemajuan yang berarti,” kata Campbell kepada wartawan.

Menurut dia,  Jepang termasuk negara maju yang memiliki jumlah orang lanjut usia relatif  tinggi  sehingga memerlukan tenaga kerja yang  mempunyai keterampilan untuk merawat mereka.

 Boulton mengatakan pengiriman tenaga tersebut dapat menarik minat orang-orang di Indonesia untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan mereka tatkala angkatan kerja Indonesia meningkat untuk kurun waktu 2006-2015 yang mencapai 14 persen dan kelompok yang berpendidikan masuk ke dunia kerja makin tinggi. 

“Saya pikir pengiriman tenaga terampil seperti itu di masa depan akan meningkat untuk memenuhi kebutuhan di luar negeri sehingga tenaga kerja Indonesia di luar negeri tak lagi didominasi mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” ujarnya. Sesuai dengan Persetujuan Kemitraan Ekonomi antara Jepang dan Indonesia (JIEPA) yang berlaku efektif dan mulai dilaksanakan pada 1 Juli 2008, Jepang merekrut calon perawat dan pengasuh orang jompo dari Indonesia mulai tahun 2008.

Setelah mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama enam bulan yang dibiayai pemerintah Jepang, mereka dapat bekerja atau melakukan magang di rumah sakit atau panti jompo.

Jika mereka berhasil meraih lisensi nasional Jepang selama berada di Jepang, maka mereka dapat melanjutkan pekerjaan sebagai perawat atau pengasuh orang jompo. Selama dua tahun pertama, Jepang akan menerima maksimal 1.000 orang yang terdiri atas maksimal 400 orang calon perawat dan maksimal 600 orang calon pengasuh orang jompo.

Rahma  Iryanti mengatakan untuk menyiapkan tenaga-tenaga terampil dan memiliki kompetensi itu maka  pemerintah mendorong lembaga-lembaga pelatihan berperan serta dalam menjawab kebutuhan pasar dan industri,  karena dunia pendidikan formal dirasakan belum dapat menjawab kebutuhan dunia kerja. “Pemerintah bercita-cita dalam 5-10 tahun ke depan para tenaga kerja Indonesia memiliki sertifikat seperti TOEFL untuk penguasaan bahasa Inggris dari lembaga-lembaga pelatihan berbasis kompetensi,” ujarnya.

 Sri Moertiningsih, pakar demografi UI , berpendapat pemerintah mempunyai komitmen untuk menyeimbangkan pengadaan sekolah menengah umum (SMU) dan sekolah menengah kejuruan (SMU) guna menjawab kebutuhan di masa datang.

Menurut dia, orang tua belum banyak mengirim anak-anak mereka untuk bersekolah di SMK karena mereka masih menginginkan ketika lulus anak-anak mereka bekerja sebagai pegawai negeri. “Ini pola pikir yang belum berubah. Karena itu harus ada pendidikan plus di Indonesia sehingga mereka memiliki keterampilan dan kompetensi sesuai kebutuhan pasar ketenagakerjaan,” katanya.

Ia juga mengatakan zona-zona industri seperti di Pulau Batam perlu diperbanyak di daerah-daerah lain sehingga mampu menyerap tenaga kerja usia muda yang masuk ke lapangan kerja mencapai 2,5 juta setiap tahun. ( ant )