Konsep Ilmu Faal Olahraga Bantu Tingkatkan Prestasi Atlet


MEDAN (Berita): Kementerian Pemuda dan Olahraga mengakui prestasi olahraga Indonesia masih jauh dibandingkan dengan negara lain. Oleh sebab itu, ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pakar-pakar ilmu faal terutama bidang olahraga uintuk menata suatu sistem yang terpola dan terukur.

“Itu memang perlu waktu. Karena terkait dengan berbagai aspek, terutama pelatih, pembina dan pemerintah, sekaligus pola gerak yang harus diterapkan dalam membina atlit tersebut,” kata Deputi Peningkatan Prestasi dan Iptek Kementerian Pemuda dan Olahraga Prof. Sutiono MPd pada pembukaan Kongres Nasional XIII Ikatan Ahli Ilmu Faal Indonesia  (IAIFI) sekaligus Seminar Nasional VI Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) di Hotel Garuda Plaza Medan, Kamis [07/08].

Konsep Ilmu Faal Olahraga, kata Sutiono sangat membantu para ilmuwan olahraga, instruktur olahraga kesehatan dan pelatih olahraga prestasi dalam meningkatkan derajat sehat dinamis para anggotanya dan prestasi olahraga atlet-atlet yang dibinanya, karena derajat sehat dinamis dan prestasi olahraga akan meningkat secara aman dan efisien setelah melalui masa pelatihan yang fisiologis.

”Dengan adanya dua keahlian ini, fisiologis dan Ergonomi diharapkan ada temuan baru dibidang gerak yang nantinya dapat diterapkan oleh pelatih dan pembina olahraga. Namun yang menganjal saat ini pada keolahragaan kita adalah lemahnya sumber daya manusia,” kata Sutiono.

Oleh karena itu, dia minta pakar ilmu faal dan ergonomi dapat memecahkan kesulitan tersebut karena pemerintah tak bisa bekerja sendiri. “Dan dengan adanya temuaan dibidang fisiologi dan ergonomi ini, pemangku keolahragaan di Indonesia dapat menggunakannya, “  kata Sutiono.

Kongres IAIFI dan PEI itu juga dihadiri Pj Bupati Batubara Drs. Syaiful Syafri, Kadis Kesehatan Medan Dr. Umar Zein, Ketua Ikatan Cendikiawan Batubara Ilmi Abullah dan Presiden PEI Dr. Ir. Widyastadi.

Widyastadi mengatakan, banyak sektor pekerjaan yang sekarang rentan terhadap kecelakaan. Misalnya di sektor industri. “Banyak pekerja yang dipaparkan panas, sedangkan di sektor transportasi, pesawat kita sering jatuh, begitu juga dibidang kemiliteran, persenjataan kita banyak tertinggal. Seharusnya hal itu bisa diminimalisir, jika disiplin ergonomi dapat kita terapkan,” kata Widyastadi.

Dia menjelaskan, ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Ergonomi antara lain memeriksa kemampuan fisik para pekerja, lingkungan tempat kerja, dan tugas yang dilengkapi dan mengaplikasikan informasi ini dengan desain model alat, perlengkapan, metode-metode kerja yang dibutuhkan tugas menyeluruh dengan aman.  “Tujuan akhir dari program ergonomi adalah untuk kesempurnaan kerja dengan meminimalkan tekanan kerja yang mungkin bagi tubuh,” jelasnya.

 

Kain Songket

 

Yang menarik pada kongres itu, sebanyak 210 pembicara dalam seminar itu dihadiahi songket Batubara oleh Syaiful Syafri. Sebelumnya, utusan Malaysia, Singapura, Jepang dan Australia telah diberikan kain songket  yaang harganya sekitar Rp 125 ribu – Rp 1,7 juta.

Ini membuktikan, kata Syaiful songket Batubara tidak saja menjelajahi negeri Melayu tapi sampai ke Eropa. “Sebagai langkah pertama katanya, kain songket Batubara ini akan dibuat, jilbab, tas dan sandal. Penawaran pun telah ada yakni dari Garuda Plaza Hotel memesan kain songket Batubara untuk dijadikan sandal di kamar hotel,” kata Syaiful.

Usai menghadiri pembukaan kongres ahli ilmu faal yang terdiri dari dokter dan guru besar dari 30 propinsi itu. Syaiful langsung berkunjung ke Museum Negeri Sumut, untuk melihat  pengrajin songket Batubara Hj. Ratna yang baru saja meramaikan Festival Budaya Melayu yang baru saja diadakan kemarin. (aje)