Hasil Survei, Peluang Megawati Menguat
8 Agustus 2008 | 16:26 WIB
JAKARTA (Berita): Peluang Megawati Soekarnoputri, calon presiden (Capres) dari PDI Perjuangan untuk memenangi pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2009 semakin menguat. Bahkan, popularitas putri Bung Karno itu terus meningkat tajam, seiring dengan menurunnya popularitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjadi pesaing terkuat Megawati.
Menurut Direktur Pro Mega Center Mochtar Mohamad di Jakarta kemarin, meningkatnya peluang Megawati memenangi pilpres 2009 mendatang bukan tanpa alasan. Mochtar merujuk kepada hasil survei dari berbagai lembaga survei yang ada seperti Indobarometer, Lingkaran Survei Indonesia, Lembaga Survei Indonesia, CSIS, Reform Institute dan Setara Institute.
“Hasil survei Setara Institute terhadap 800 responden di
Begitu juga dengan hasil survei LSI yang dilakukan Juni 2008 terhadap 2.150 responden, kata Mochtar, menunjukkan 62 persen responden tidak menginginkan Presiden Yudhoyono kembali menjadi presiden. Sedangkan yang menginginkan hanya mencapai angka 36 persen dan sisanya 2 persen tidak tahu.
”Jika pilpres diadakan pada saat survei terhadap 10 capres, hasilnya Megawati memenangkan pilpres (30,4 persen), disusul SBY (20,7 persen), Wiranto (9,3 persen), Sri Sultan HB X (8,8) persen, Abdurahman Wahid (6,0 persen), sedangkan 5 capres lainya di bawah 5 persen,” tukasnya.
Mochtar memaparkan penyebab merosotnya popularitas SBY terutama akibat masalah ekonomi. Hal itu terlihat dari hasil survei Indobarometer bulan Juni 2008 terhadap 1.200 orang yang menunjukkan tingkat ketidakpuasan publik terhadap kinerja ekonomi Presiden Yudhoyono mencapai 79,1 persen.
”Begitu juga dengan hasil survei Reform Institute di bulan Juli terhadap 2.519 menunjukkan 71,3 persen responden menolak kenaikan harga BBM dan 28,7 persen menerima,” imbuhnya.
Dari semua hasil survei tersebut, Direktur Pro Mega Center itu menganalisis muncul tren kuat bahwa rakyat tidak menginginkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi presiden lagi. ”Rakyat tidak menginginkan incumbent berkuasa lagi. Hasil survei CSIS bulan Mei 2008 terhadap 3.000 responden menunjukkan tingkat preferensi Megawati untuk menjadi presiden mencapai 23,2 persen, melampaui SBY yang memperoleh 14,7 persen,” tandas Mochtar.
Sementara itu, Direktur Setara Institute Hendardi menambahkan, dari survei yang dilakukan pihaknya memunculkan hasil, bahwa kaum muda menilai kinerja pemerintah dalam soal pembangunan ekonomi tidak berpihak kepada rakyat (58,4%). ”Hanya 19,4 persen menyatakan pemerintah berpihak kepada rakyat,” ujar Hendardi.
Selain itu, survei Setara juga menunjukkan bahwa capres Megawati Soekarnoputri menempati peringkat teratas sebagai tokoh yang memiliki komitmen terhadap ekonomi kerakyatan. ”Megawati menempati peringkat atas sebesar 25,4 persen. Sedangkan SBY hanya mencapai angka 18 persen. Tokoh lain seperti Sri Sultan HB X dan Amien Rais memperoleh 10 persen,” papar Hendardi.
Pada kesempatan itu, Pro Mega Center merekomendasikan agar Megawati menggandeng salah satu dari 5 calon wakil presiden (cawapres), yaitu Sultan Hamengkubuwono X, Wiranto, Hidayat Nur Wahid, Akbar Tandjung dan Prabowo Subianto. Kelima nama ini ranking teratas hasil survei LSI dari 16 nama cawapres yang diidentifikasi.
Pro Mega Center menyarankan agar Megawati membangun komunikasi politik dengan kelima cawapres tersebut. Mereka hendaknya bisa dirangkul guna memenangi pilpres dan selanjutnya menjadi tim inti dalam kabinet.
”Kelima kandidat kuat cawapres itu harus dimasukkan dalam tim ini kabinet bayangan Megawati, meski nanti hanya satu nama yang terpilih,” katanya lagi.
Bangun Komunikasi Politik
Mochtar menambahkan, dengan posisi sebagai calon presiden, Megawati harus segera melakukan komunikasi politik dengan masyarakat luas, termasuk ke partai-partai yang menjadi pendukung kelima cawapres tersebut. Megawati harus tampil bukan lagi sekadar capres PDI Perjuangan, tetapi sebagai capres dari semua kalangan masyarakat luas yang menginginkan perubahan. ”Saat ini Pro Mega Center tengah mempersiapkan image building agar Megawati bisa diterima semua partai dan semua kalangan,” terangnya.
Untuk mendukung upaya membangun komunikasi politik itu, Pro Mega Center menyarankan DPP PDI Perjuangan segera mengambil langkah taktis dan strategis, yaitu dengan menambah struktur ketua harian di jajaran pengurus DPP. Menurut Mochtar, penambahan ketua harian itu bisa dilakukan dengan menggelar rapat pleno DPP yang diperluas. (iws)


Comments