52 Keluarga Menerima “Titisan” Sapi Bergulir
7 Agustus 2008 | 16:21 WIB
PORSEA (Berita): Porsea [06/08] Hingga Agustus 2008 sudah 52 keluarga petani menerima ”titisan” dari program sapi bergulir yang diselenggarakan industri pulp Porsea, TobaPulp.
Laporan resmi dari Humas PT TobaPulp Chairuddin Pasaribu menyebutkan Kamis [07/08], ke-52 orang itu masing-masing memperoleh dua ekor anak sapi bali berusia setahun dari peserta Sistandu (sistem pertanian terpadu) yang dimulai sejak 2003.
Sistem bergulir mewajibkan setiap peserta sistandu (IFS – integrated farming system) menyisihkan dua ekor anak sapi yang lahir dari dua ekor bakal induk yang diberikan secara gratis oleh TobaPulp untuk dipelihara dan dibesarkan. Kedua ekor ”titisan” dari induknya itu diserahkan kepada calon peserta berikutnya setelah berusia setahun. Kewajiban serupa juga berlaku pada si penerima ”titisan” itu, kemudian. Setiap peserta Sistandu menerima tiga ekor, dua diantaranya betina sebagai bakal induk plus seekor jantan.
Menurut laporan tersebut seluruh penerima ”titisan” itu masih berdomisili di sekitar pabrik di Porsea seperti desa-desa: Tanggabatu-1, Tanggabatu-2, Biusgu Barat, Silamosik, Lumbansitorus, Banjarganjang, Pengombusan, Janggadolok, Lumbanhuala, Patane-3, Nagatimbul, Sihiong, Sinarsabungan, Siruar, Narumonda-8, Sigumparjulu, Sihail-hail dan Sidulang karena IFS tahap awal, 2003 dan 2004, memang masih dipusatkan di sekitar pabrik.
Program itu baru diperluas 2006 hingga mulai ”menyentuh” masyarakat sekitar hutan tanaman industri (HTI) di Aeknauli (Simalungun), Habinsaran (Tobasa), Aekraja (Tapanuli Utara) dan Tele (Humbahas, Samosir, Dairi, Pakpak Bharat). Anak-anak sapi betina pada umumnya mulai beranak pada usia 2,5 tahun.
Sejak diwujudkan 2003, peserta IFS plus penerima ”titisan”-nya sudah mencapai 201 keluarga dengan populasi sapi sedikitnya 579 ekor. Keberadaan ternak sapi dalam jumlah besar itu –yang jumlahnya terus bertambah karena sistemnya bergulir– serta tersebar pula di banyak kabupaten membuka peluang wilayah sekitar Toba jadi sumber protein hewani yang penting, beberapa tahun mendatang.
”Program ini mirip gunung es. Semakin lama semakin berkembang karena semakin banyak keluarga petani menjadi peserta,” kata Lambertus Siregar, staf senior Humas TobaPulp yang secara khusus menangani kegiatan sosial perusahaan (CSR – corporate social responsibility).
Peternakan sapi –dan juga babi– salah satu dari tiga kegiatan IFS yang saling menopang. Kotoran sapi, misalnya, ramai-ramai diolah menjadi bokasi (pupuk kompos) dan dimanfaatkan untuk pertanian hortikultura seperti jagung, kacang-kacangan, ubi-ubian, sayur-sayuran dan juga tanaman kopi ”Ateng,” jenis yang cepat berbuah. Produksi bokasi itu sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang semakin mahal dan langka. Adapun ”sampah” pertanian seperti jagung dan kacang-kacangan bermanfaat pula untuk dijadikan pakan ikan kolam seperti mas, mujair dan patin.
Ketiga kegiatan (peternakan, pertanian hortikultura, perikanan darat) itulah ”tiga serangkai” yang disatu-paketkan dalam program IFS. Hasilnya, kini sudah ada peserta yang memiliki 13 ekor sapi, memelihara ber-ton ikan mas, serta memproduksi 150 ekor anak babi landrace berharga Rp200 ribu per ekor setiap tahun.
”Dari awal, IFS memang dimaksudkan untuk mendongkrak ekonomi keluarga petani disamping dapat dijadikan model pertanian dengan memanfaatkan teknologi sederhana tetapi tepat guna,” kata Siregar. (wie)


Comments