Obama Tentang Indonesia, Islam Dan Dunia
29 Juli 2008 | 16:18 WIB
Stasiun televisi berita Amerika Serikat, Cable News Network (CNN) pada 13 Juli 2008, menyiarkan wawancara ekslusif dengan Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Barack Obama.
Waktu itu, presenter sekaligus kolumnis Newsweek, Fareed Zakaria, menanyai Obama tentang pandangan internasionalnya dan bagaimana AS mesti merumuskan kebijakan luar negerinya. Zakaria bertanya, peristiwa internasional apa yang paling berpengaruh pada Obama.
“Kenangan pertamaku yang muncul adalah saat ibuku berkata, ‘aku menikah lagi dengan seorang pria
Bagi Obama kecil,
Ia bersyukur menjadi warga AS yang bisa mengenal negara dan budaya bangsa lain sekaligus beruntung tidak mengalami kondisi serba tak pasti seperti dialami ayah tirinya, Lolo Soetoro. Sebagai warga AS, ia merasa terlindung dari kesewenang-wenangan penguasa. “Dia dipaksa meninggalkan universitas tempat ia menuntut ilmu di
Dia terkena tugas militer dan dikirim ke
Obama mengaku, pengalaman hidup di
“Dengan tinggal di luar negeri dan memiliki ibu yang spesialis pembangunan internasional dan selalu bekerja –sebagai seorang yang pertama kali mempraktikan pembiayaan mikro dan selalu pergi ke dusun-dusun di Asia Selatan, Afrika dan Asia Tenggara untuk membantu para ibu membelikan mesin tenun, mesin jahit atau sapi perah sehingga mereka bisa berusaha– adalah alamiah jika saya tertarik pada hubungan internasional,” aku Obama.
Obama tertarik pada masalah pembangunan Dunia Ketiga, kebijakan luar negeri, perlucutan senjata nuklir yang membuatnya berpandangan bahwa bangsa-bangsa mesti bekerjasama demi kesalingpengertian.
Obama berkuliah di Occidental College, Los Angeles, lalu pindah ke Universitas Columbia, New York, mengambil jurusan Hubungan Internasional dan lulus pada 1983. Lima tahun kemudian, ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum, Universitas Harvard (Harvard Law School) dan menyelesaikan pascasarjana di sana dengan predikat “magna cum laude” pada 1991.
Islam
Zakaria kemudian bertanya apakah Obama percaya di abad 21 ini ekstremisme Islam adalah ancaman utama. Obama menjawab, masalah terorisme dan kelompok-kelompok yang menolak modernitas, baik karena dorongan perbedaan etnis maupun sentimen agama, adalah salah satu dari ancaman-ancaman yang dihadapi AS, namun itu bukan satu-satunya ancaman.
“Saat saya tinggal di
Jika kini ekstremisme muncul di
“Saya percaya ekstremisme berkaitan dengan kegagalan pemerintah dan kekeliruan Barat membangun kerjasama dengan tak menyadari bahwa pertumbuhan ekonomi itu seharusnya dari bawah ke atas. Cara kita menangani ekstremisme Islamlah yang menyuburkan ekstremisme,” kata Obama.
Obama menilai, Barat memukulrata Islam itu lekat dengan kekerasan sehingga serampangan menyamakan ekstremisme Syiah dengan ekstremisme Suni atau melihat budaya
Sikap introspektif Obama ini membuatnya berbeda dalam menangani terorisme sehingga saat ditanya bagaimana sikapnya jika Usama bin Ladin tertangkap saat ia jadi presiden AS, ia menjawab Bin Ladin akan diadili oleh peradilan internasional dan tidak akan dihukum mati.
Ia malah mengkritik kegagalan menangkap Bin Ladin sebagai kesalahan AS dalam membina hubungan dengan rakyat
Kebijakan di Afghanistan adalah salah satu yang akan saya koreksi jika saya jadi Presiden,” kata Obama.
Obama juga berjanji akan selalu bekerjasama dengan siapapun termasuk rencana memberi ruang lebih lapang pada Rusia dalam kerjasama G-8, bahkan mempertimbangkan Cina yang dianggapnya yang tak boleh diabaikan.
Koalisi efektif
“Salah satu impian saya jika saya mendapat kehormatan menjadi presiden AS adalah membentuk tim kebijakan luar negeri (impian) semasa pemerintahan (Presiden) Harry Truman yang berunsur
George Marshall adalah Menteri Luar Negeri yang berperan dalam rehabilitasi Eropa pasca Perang Dunia Kedua, Dean Acheson juga berposisi sebagai menteri luar negeri setelah Marshall, sedangkan John F. Keenan adalah arsitek politik luar negeri AS sekaligus akademisi yang melegenda di dunia diplomasi dan hubungan internasional.
Ketiga orang ini terkenal berpandangan jernih dan melihat bangsa lain dalam derajat sama dengan AS, namun tak mengesampingkan kepentingan nasional AS.
“Kita perlu membuat kepemimpinan yang didasarkan pada konsensus dengan menarik banyak pihak di manapun kita bisa lakukan,” kata Obama.
Pandangan multilateralisnya ini membuatnya berbeda dalam melihat genosida di
Obama menilai Cina dan Rusia yang ditengarai berhubungan erat dengan rezim lalim di
“Prinsip kita (AS) adalah membangun koalisi efektif bersama negara lain yang ditempuh dengan persuasi dan kerangka organisasi. Saya kira secara historis cara seperti ini selalu berhasil kita lakukan,” kata Obama.
Tapi ketika membahas Palestina, Obama tampak hati-hati. Dia tak memungkiri hak hidup Palestina di tanah
“Kami mesti berhati-hati dalam berkalimat. Namun sasaran kebijakan tak akan beranjak dari masalah pokok yaitu semua pihak bertikai mesti berunding untuk kemanfaatan mereka semata di mana AS menjadi pengikatnya,” kata Obama.
Di Irak, sikap Obama lebih progresif dengan menginginkan pemerintah Irak berdiri kuat tanpa dipatroni AS.
“Kian kuat pemerintah Irak, semakin kecil kemampuan
Obama ingin pasukan AS hengkang dari Irak, meski tidak dengan serta merta. Pandangannya yang amat menghormati dunia ini mendorong Zakaria, terutama setelah dunia menyambut hangat tur politiknya ke sejumlah negara seperti Prancis, bertanya apa kondisi ini tidak membuat rakyat AS berpikir Obama hanya tepat untuk dunia tetapi belum tentu untuk rakyatnya sendiri.
“Saya kita rakyat AS sudah bersiap (memiliki) seorang presiden yang tak ingin mengasingkan diri dari dunia,” jawab Obama.
Obama mengaku, tugasnyalah menjamin rakyat AS untuk percaya bahwa dia akan membela kepentingan rakyat AS sekaligus menjamin keamanannya.
“Untuk mewujudkan itu, AS mesti peduli pada bangsa lain, pada harapan-harapan mereka dan aspirasi-aspirasinya. Kita mesti memimpin dunia dengan nilai dan filosofi kita, bukan melulu dengan militer,” ajak Obama. ( ant / A. Jafar M. Sidik )


Comments