Menteri Kominfo Prof M Nuh: PWI Harus Positip Membangun Bangsa
29 Juli 2008 | 16:17 WIB
Hal itu dikemukakan Menkominfo M Nuh saat menyampaikan sambutan atas nama Presiden pada pembukaan Kongres XXII PWI yang dibuka Gubernur NAD Irwandi Yusuf di Anjong Monmata Gubernu-ran, Banda Aceh, Senin (28/7). Acara diawali pembacaan Al-Quran, upacara nasional dan pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh pers nasional dan pejabat di NAD.
Selanjutnya Menkominfo mengatakan, ada beberapa pesan Presiden kepada PWI antara lain agar PWI dalam kondisi apa pun tetap bersikap positif dalam membangun bangsa.
Ibarat suami yang memiliki istri tidak cantik tapi tetap ikhlas, harmonis, saling menghargai dan saling bekerjasama. Untuk itu sisi pandang (value) perlu dihidupkan sehingga pencerahan bangsa ke depan akan lebih baik.
Menkominfo dalam bahasa yang segar tanpa teks mencontohkan wartawan dalam berumah tangga harus membangun kejujuran dan mampu melihat celah optimisme sehingga dalam kondisi apa pun tetap survive.
‘Wartawan jangan mengada-ada, memberitakan apa yang salah itu salah dan yang benar itu benar. Jadi harus dapat melihat dari dua sisi pandang sesuai proporsinya,’ ujarnya.
Dalam guyonan Menkominfo M Nuh mengibaratkan wartawan anggota PWI seperti suami yang memiliki istri tidak cantik.
Jalan di tengah malam sendirian aman tidak diganggu. Kalau ditinggal meliput ke luar
’Sebaliknya istri cantik biaya besar. Kalau suami pergi meliput bahayanya, istri bisa-bisa diliput orang. Karena itu kalau pun istri tidak cantik jika kita punya cara pandang yang positif maka istri akan kelihatan cantik.
Kalau pun gendut kita pandang segar, kalau kurus langsing, kalau hitam, hitam manis, kalau pesek Indonesia asli, kalau kecil efisien, kalau calon istri miskin, banyak tanggungan, utang banyak, anak paling besar lagi, maka ini harus dilihat sebagai lahan untuk beribadah,’ terangnya.
Sebelumnya Gubernur NAD Irwandi Yusuf dalam sambutan ketika membuka kongres antara lain mengatakan, dalam menjalankan roda pemerintahan sering ‘dihajar’ dalam pemberitaan. ‘Saya dapat memahami itu karena Gubernur memang tidak sempurna, begitu juga wartawan. Tapi tidak pernah kapok sekalipun pernah dihajar pers,’ katanya.
Dia juga mengatakan, pada masa konflik pernah diberitakan wartawan secara tidak berimbang karena sumber beritanya hanya satu.
Jelas pers pada masa itu tidak adil. Apalagi jika wartawan jadi terompet maka imunitas (kekebalan) hilang. Namun sekarang hal itu tidak ada lagi. Pers merupakan kawan, ramah dan penuh romantika.
Irwandi mengakui, tiga tahun pasca perjanjian damai
’Kondisi ini jika tidak didukung stabilitas yang baik akan sia-sia. Karena itu pemberitaan wartawan haruslah melihat secara persuasif. Jangan kasus kriminal kecil tapi diberitakan secara besar. Ibarat lentingan jarum jatuh tapi seluruh dunia mengetahuinya. Data-data statistik jangan jadi acuan umum, karena bisa saja benar tapi juga bisa salah,’ ujarnya.
Sementara Ketua Umum PWI Tarman Azzam mengatakan, pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika menerima sejumlah pengurus di Istana Negara berharap besar kepada insan-insan pers agar melakukan pembenahan secara internal, dapat mendukung iklim demokrasi yang baik namun tetap independen dan kritis dalm mengawal bangsa.
Selain itu Tarman memaparkan penetapan Aceh menjadi tempat kongres PWI karena hasil ketetapan Kongres 21 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jadi Aceh merupakan daerah ujung
Kini Aceh menurut Tarman mengalami kemajuan luar biasa, masyarakatnya dinamis dan optimis. Aceh belajar konflik bencana alam dan gempa tsunami. Ternyata tidak ada satupun negeri ini membangun negerinya tatkala ada konflik. Tapi negeri yang aman dan damai justru mempercepat pembanguanan. ‘Damai adalah sesuatu yang paling berharga di muka bumi ini,’ terangnya.
Ia menambahkan setelah masa BRR akan berakhir pada
Dalam kesempatan itu, PWI Pusat memberikan penghargaan kepada pejabat dan tokoh pers yakni Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mang-kusubroto, tokoh pers Alm H Mohammad Said (pendiri Harian Waspada) yang diterima anak kandungnya H Prabudi Said (Pemred Hr Waspada). Surya Paloh karena jasanya membangun sekolah di Sabang.
Kemudian penghargaan Panitia Kongres kepada Walikota Banda Aceh Mawardi Nurdin, Bupati Aceh Besar Buchari Daud, Dirut Bpd Aceh Aminullah Usman, Kapolda Aceh Irjen Pol Rismawan, Pangdam Iskandar Muda Mayjen Sunarko Dan Ketua DPRA Sayed Fuad Zakaria.
Usai pengmbukaan kongres, dilanjutkan dengan dialog pers bertajuk ”Memperkukuh Peran Pers Dalam Membangun Solidaritas Bangsa’ dengan
Acara itu dihadiri para wartawan anggota/pengurus PWI se-Indonesia, para tokoh pers yang berjumlah 600 orang lebih. Usai Kongres, Presiden mengundang peserta Kongres ke Istana Negara. (wie)


Comments