Presiden Salut Terhadap Masyarakat Batak : Harian Berita Sore

Presiden Salut Terhadap Masyarakat Batak

19 Juli 2008 | 13:07 WIB

Parapat, Sumut ( Berita ) :  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan rasa salutnya terhadap karakter kuat yang dimiliki oleh masyarakat Batak.

Pernyataan Presiden itu disampaikan untuk menghargai 70 penari kolosal yang harus menari di bawah rintik hujan dan lapangan tergenang air pada puncak acara Pesta Danau Toba 2008 di Kecamatan Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat [18/07] malam.

“Saya sampaikan salut dan penghargaan kepada penari, bukan hanya penarinya cantik-cantik dan busana indah, tapi juga tarian gemulai dan musiknya bagus,” kata Presiden.

Tetapi, lanjut Yudhoyono, 70 penari kolosal “Haroan Bolon” itu harus menari di hadapan Presiden di bawah rintik-rintik hujan di halaman yang basah.

Tarian yang menggambarkan kehidupan petani yang sedang menanam, menuai, dan menumbuk padi itu dibawakan oleh para siswi sekolah di tengah angin dingin dan bertelanjang kaki.

Sebagian di antara mereka mengenakan pakaian model kemben dengan pundak terbuka dan beberapa kali harus duduk di lapangan basah membawakan gerakan tari.

“Ini adalah contoh karakter kuat dari masyarakat Batak. Kalau (sebagian besar-Red) Indonesia memiliki karakter komunitas Batak ini, saya yakin masa depan Sumut dan Indonesia akan cerah,” tutur Presiden mengomentari.

Sebagai rasa kagum dan hormatnya terhadap jerih payah para penari, Presiden Yudhoyono lantas mengundang tarian kolosal “Haroan Bolon” untuk pentas di Istana Negara.

Dalam pidatonya, Presiden meminta masyarakat Toba untuk menjaga keindahan dan kelestarian tradisi budaya agar potensi Danau Toba sebagai obyek pariwisata dapat mendunia.

“Jaga tradisi untuk menghadirkan wisatawan baik dalam dan luar negeri, yang akhirnya bisa menggerakkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” kata Presiden.

Dalam sambutannya, Presiden juga berharap agar masyarakat benar-benar menjaga kebudayaan karena membawa nilai keindahan dan ketenteraman.

“Kalau kehidupan serba politik, dagang, dan lain-lain, maka akan lebih lengkap seimbang kehidupan di negeri ini,” ujarnya.

Selain berbagai gelar tarian dan lagu, pada puncak acara festival Danau Toba yang menarik perhatian ribuan warga sekitar itu juga dipagelarkan kain ulos terpanjang di Indonesia yang mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri).

Festival Danau Toba dimulai sejak 1978 dan sempat terhenti kegiatannya karena krisis moneter pada 1997. Kegiatan budaya itu baru dilaksanakan kembali pada 2008 ketika pemerintah mencanangkan Tahun Kunjungan Wisata Indonesia 2008.

Pesta Danau Toba yang menggelar berbagai kegiatan seperti olah raga air, pameran, dan pagelaran budaya, sudah dimulai sejak 14 Juli 2008 dan ditutup dengan kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 18 Juli 2008.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dalam sambutannya menyatakan, pada Juni 2008 jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia mencapai 3,2 juta orang dari 7 juta orang yang ditargetkan dalam Tahun Kunjungan Wisata 2008.

Menbudpar optimistis target itu akan tercapai karena pada semester kedua biasanya lebih bayak turis asing yang datang berkunjung ke Indonesia.

 

Senandungkan Lagu Batak

Setelah menyaksikan sederetan pagelaran seni dan budaya pada puncak acara dan penutupan Pesta Danau Toba 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantunkan lagu Batak berjudul “nasonang do hitana dua”.

 Pada saat Presiden melantunkan bait pertama lagu itu, ribuan anggota masyarakat yang memadati Lapangan Pagoda, Parapat, Sumut, Jumat malam langsung memberikan sambutan berupa tepuk tangan.

 Tidak itu saja, sejumlah menteri yang mengikuti menghadiri acara itu juga ikut bernyanyi bersama Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono dengan artis ibukota berdarah Batak Joy Tobing.

 Ribuan anggota masyarakat baik yang berada di dalam maupun luar lapangan secara spontan mengikuti iringan musik dan bersama-sama menyanyikan lagu batak yang artinya dalam bahasa Indonesia yakni diantara kita berdua senang.

 Selain acara hiburan pada puncak acara Pesta Danau Toba itu juga diisi dengan lahirnya rekor baru dari Museum Rekor Indonesia (MURI) terhadap ulos (kain khas batak, red) terpanjang di Indonesia dan dunia dengan panjang 55 meter dan lebar 84 centimeter.

 Ulos terpanjang itu dibuat oleh wanita batak yang bernama Monang bru Sibarani warga Desa Huta Na Gundang Pitu Batu, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba Samosir selama 750 jam atau 2,5 bulan.

Dalam kesempatan itu, Jaya Suprana, menyerahkan langsung piagam MURI kepada Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin dan pria berkaca mata itu menilai Syamsul Arifin sebagai kepala daerah terlucu yang pernah ditemuinya. (ant )

Comments

Comments are closed.