Pemerintah Dan Parlemen Akui Jasa Besar M Natsir
19 Juli 2008 | 13:06 WIB
Jakarta ( Berirta ) : Puncak Peringatan 100 Tahun Muhammad Natsir berlangsung di Jakarta, Jumat [18/07]malam yang diwarnai dengan peluncuran kembali karya besar tokoh nasional kelahiran Minangkabau (Sumatera Barat) 17 Juli 1908 itu, Capita Selecta dan Fiqhud Da’wah.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewakilkan kehadirannya kepada Mensesneg Hatta Rajasa. Sejumlah tokoh dan pejabat negara juga hadir dalam peringatan ini, antara lain Menteri Perindustrian Fahmi Idris, Menneg BUMN Sofyan Jalil dan Mensos Bachtiar Chamsah, wakil Ketua MPR Mooryati Soedibyo, AM Fatwa, tokoh partai politik serta sejumlah anggota DPR RI.
Kehadiran pejabat pemerintah dan parlemen meneguhkan pengakuan mengenai peran besar Natsir bagi perjuangan bangsa di era kemerdekaan.
Natsir juga dikenal sebagai tokoh yang berhasil menguatkan NKRI dan tokoh yang patut diteladani, sederhana serta tokoh yang ikut memelopori demokratisasi melalui peran partai-partai politik.
Sebelum puncak Peringatan 100 Muhammad Natsir ini, panitia yang dipimpin Laode Kamaluddin mengawali kegiatan dengan berbagai dialog dan seminar di kampus-kampus perguruan tinggi, baik di Jakarta maupun di daerah lain untuk menggugah berbagai kalangan mengenai pentingnya mengaktualkan pemikiran Natsir bagi bangsa.
Salah satu pemikiran yang mencuat dari seminar itu adalah perlunya pemerintah memberi penghormatan lebih tinggi kepada Muhammad Natsir dengan menetapkannya sebagai pahlawan nasional. Dalam seminar di Jakarta, beberapa hari lalu, Anggota DPR RI Sabam Sirait mengusulkan mengenai gelar pahlawan nasional bagi Natsir.
Natsir sangat kuat perannya dalam mengubah Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Republik Indonesia, mengubah negara federal menjadi negara kesatuan. “Di parlemen, Natsir sangat gigih mempertahankan ide besar tersebut dan sukses bersama Bangsa Indonesia secara keseluruhan,” katanya.
Sabam mengemukakan, banyak pejuang kemerdekaan, pemimpin pejuang kemerdekaan yang belum diberi penghormatan sebagai pahlawan nasional.
“Pemimpin nasional itu ada kelebihan dan kekurangannya, tetapi bagaimana pun mereka adalah pejuang kemerdekaan yang utuh, bermoral tinggi, bisa bekerja antarpartai yang berbeda ideologi dan tidak mengkhianati perjuangan kemerdekaan Indonesia,” katanya.
Sepengetahuan tokoh PDIP itu, Natsir lebih dari pantas diberi kehormatan sebagai pahlawan nasional bersama teman-temannya pejuang kemerdekaan, seperti Sjahrir, Amir Sjarifoeddin, Sjafroeddin Prawiranegara dan Tan Malaka.
“Mengapa saya mengusulkan, karena kita sebagai bangsa yang besar harus mengakhiri dendam dan bersatu melanjutkan kemerdekaan dengan mengisi kemerdekaan,” kata Sabam.
Sabam mengungkapkan, di zaman Belanda, Natsir pernah mendapatkan lahan 1 hektare dari sahabatnya yang kaya, tanah itu kemudian digunakan untuk meningkatkan kualitas petani Indonesia.
Sekarang, petani, buruh dan nelayan yang merupakan 80% dari total rakyat Indonesia belum memperoleh peningkatan kesejahteraan, seperti diperjuangkan Natsir. “Karena itu, saya mengharapkan untuk waktu yang tidak terlalu lama, Natsir dan teman-temannya diberikan penghormatan sebagai pahlawan nasional oleh negara,” kata Sabam.
Sebenarnya, kata sabam, dirinya kurang setuju memperjuangkan seseorang menjadi pahlawan nasional, harusnya negara yang memberikan itu tanpa diperjuangkan kelompok-kelompok masyarakat. ( ant )


Comments