Refleksi Pembangunan Kota Medan (2)

Perawatan Jalan Menanti Sentuhan ‘Tangan Dingin’

PEMBANGUNAN infrastuktur termasuk jalan dan jembatan di kota Medan mencapai titik ideal pasca tahun 2000. Hampir tidak ada ruas jalan, gang-gang di setiap sudut kota yang tidak tersentuh tangan pembangunan.

Concern pemerintah kota yang menganut filosofi bekerjasama dan sama-sama bekerja telah mampu membawa emosi warga kota untuk terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembangunan.

Nuansa pembangunan yang sama sekali baru dan berpihak kepada rakyat tersebut telah membawa harapan yang cerah bagi warga kota akan masa depan yang jauh lebih baik.

Begitu juga dengan perawatannya. Secara rutin, setiap ruas jalan yang mulai mengalami kerusakan dan berlubang akan segera diperbaiki hingga mulus lagi. Begitu seterusnya hingga membuat kondisi ruas jalan tetap terjaga.

Rudi seorang pegawai swasta di Medan menyatakan mendu-kung penuh perhatian pemerintah terhadap kondisi seperti ini. ‘Pasti lah kita mendukung pembangunan kalau jalan jadi mulus. Seharusnya memang masalah ruas jalan sudah tidak ada lagi kerusakan, karena ini adalah pelayanan mendasar untuk rakyat,’ katanya.

Hal senada dikatakan Sekretaris Forum Komunikasi Medan Madani, Muhammad Ruslan, MA. ‘Kondisi jalan yang mulus adalah hak rakyat, dan kepemimpinan kota Medan telah menunjukkan peran dan tanggungjawabnya dengan baik.

Pada saat itu memang, tidak ada lagi gang becek yang berlumpur saat hujan, atau lubang besar yang setiap saat mengancam pengemudi kendaraan bermotor. Semua ruas jalan jalan mulus hingga membuat berkendaraan menjadi bertambah nikmat.

H.Abdillah, SE, Ak, MBA yang saat itu aktif memimpin kota Medan merupakan orang yang memiliki peran sentral dalam keberhasilan pembangunan infrastruktur tersebut. Karena itu ketika kasus hukum menjeratnya, maka pembangunan sektor ini tidak lagi berjalan baik.

Lihatlah sekarang, kondisi jalan banyak yang rusak di sana-sini. Juga tidak lagi terlihat pengaspalan jalan yang intensif dilakukan. Rakyat pun harus kembali melintasi jalan-jalan yang rusak. Kalaupun ada pembangunan jalan, kualitasnya berbeda dengan yang dilakukan ketika Abdillah aktif menjadi walikota.

 

Seperti diberitakan sebelumnya, tidak saja ruas jalan, median jalan juga banyak yang rusak seperti di Jalan Letda Sujono, Jalan Denai, Jalan Bilal, Jalan Krakatau, Jalan Mandala By Pass dan Jalan Prof HM Yamin. Kerusakan median di sejumlah titik ini akibat dihantam banjir dua hari lalu, merendam sejumlah ruas jalan karena buruknya kondisi drainase.

 

Warga pun mudah membongkar drainase itu untuk mengalirkan air. Karena pondasinya tidak dalam hanya 1 cm. Materil pembatas cukup ditempel semen tipis. Tidak ada unsur coran.

 

Perawatan pembatas jalan ini, pasca proyek ini rampung, memang dilaksanakan, tetapi tidak becus dikerjakan. Perbaikan dengan cara penempelan semen oleh kontraktornya membuat proyek tidak sesuai dengan jumlah uang rakyat yang dihabiskan. ‘Proyek ini tampak jelek dan mencoreng keindahan kota,’ tambah Amir  warga Jalan Denai.

 

Wakil Ketua Komisi D DPRD Medan Abdul Rahim Siregar sependapat dengan penilaian masyarakat bahwa proyek yang dilakukan saat ini tersebut tidak becus dikerjakan. Kualitasnya rendah dan tidak melewati pengkajian secara benar.

 

Pembangunan yang seperti ini jelas bukan dilakukan untuk melayani rakyat seperti yang dicontohkan sebelumnya. Tapi lebih kepada orientasi proyek agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. ‘Ini mengganggu kenyaman berkendara,’ katanya.

 

Hal tersebut seperti dikatakan Rudi, ‘Kalau jalan rusak seperti sekarang ini, kami juga yang menderita. Kami rakyat ini tidak mengerti tentang masalah hukum. Itu urusan tingkat atas. Bagi kami kalau Pak Abdillah bisa aktif dan bisa mengembalikan kondisi jalan yang lebih baik seperti yang lalu, itu jauh lebih baik bagi kami,’ ujar Rudi.

 

Sedangkan Ruslan menegaskan, pihaknya melihat kondisi yang terjadi sekarang ini mengukuhkan peran sentral dari Abdillah dalam menciptakan laju pembangunan di kota Medan. Tujuan pembangunan untuk melayani rakyat dengan sebaik-baiknya justru lebih terasa ketika Abdillah tidak lagi aktif memimpin kota Medan.

 

’Dulu sebagaian orang merasa bahwa pembangunan yang dinikmatinya di kota Medan adalah sesuatu yang wajar. Tapi sekarang ketika Abdillah tidak lagi aktif menjadi walikota, baru terasa bahwa perannya sangat dibutuhkan. Kita baru sadar kalau kita kehilangan seorang pemimpin yang bermanfaat bagi rakyatnya,’ urainya.

 

Begitulah, pembangunan jalan-jalan tersebut kini menanti sentuhan tangan seorang pemimpin ‘bertangan dingin’ yang punya kepedulian terhadap warganya. Abdillah telah membuktikan bahwa dirinya mampu untuk itu.

 

(Dedi Syahputra)