Jerman Donatur Besar Dalam Rekonstruksi Aceh-Nias
11 Juli 2008 | 17:08 WIB
Banda Aceh ( Berita ) : Kepala Badan pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, Kuntoro Mangkusubroto, menyatakan Jerman merupakan salah satu negara donor yang cukup besar mengalokasikan dananya membantu pembangunan kembali Aceh-Nias pasca tsunami.
“Jerman merupakan salah satu donor besar dalam fase rekonstruksi Aceh dan Nias. Total dana yang dibantu Jerman mencapai Rp3,7 triliun atau sebesar 380 juta dolar AS,” katanya di Banda Aceh, Kamis [10/07].
Bantuan dana Pemerintah dan masyarakat Jerman untuk rekonstruksi daerah yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 itu melalui bank pembangunan Jerman (KFW).
“Jerman tak hanya membantu memulihkan Aceh-Nias bidang pendidikan, tetapi juga mendonasi pembangunan Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Betapa besar perhatian dan keinginan Jerman untuk membantu Aceh,” kata Kuntoro. Di hadapan Duta Besar Jerman untuk RI, Baron Paul von Maltzahn, ketika peresmian SMK Negeri I dan III-3 bantuan Jerman, Kepala Bapel BRR NAD-Nias itu menyatakan atas nama Pemerintah
Jerman menganggarkan dana sebesar 8,5 juta euro atau setara Rp110 miliar untuk pembangunan kompleks SMK tersebut. Gedung termegah di
Duta Besar Jerman untuk
Permintaan pasar terhadap tenaga yang punya keahlian akan meningkat. “Dengan adanya fasilitas ini kita bisa memproduksi pekerja yang punya keahlian untuk Aceh dan
Anggota board KFW, Ingrid Matthaus-Maier, mengharapkan agar pihak sekolah dan siswa SMK bisa merawat dengan baik berbagai fasilitas dan gedung yang telah dibangun Jerman. “Kita harap, saat enam bulan lagi tim KFW datang ke sini tidak ditemukan adanya atap yang bocor. Saya yakin tidak akan ada kebocoran, karena gedung ini dibangun tim dengan kerjasama yang baik,” kata dia. ( ant )
Hingga 2010
German Red Cross (GRC) bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia akan terus melanjutkan tugas kemanusiaan di Aceh hingga 2010 dengan agenda pelatihan kesiagaan bencana.
“Setelah berakhir tugas rekonstruksi 2008, dilanjutkan dengan program kesiagaan bencana,” kata Kepala Kantor German Red Cross
Kantor GRC tetap beroperasi di
Pelatihan bencana tidak bisa dilakukan sesaat atau beberapa kali dan memerlukan kegiatan secara kontinu sehingga anak-anak siap menghadapi bencana bila terjadi tiba-tiba seperti bencana tsunami.
Program pelatihan bencana yang dimulai sejak 2006 dan berlanjut 2010 di
Simulasi gempa dan pembentukan satuan penanggulangan bencana (SATGANA) serta kerja sama ambulans di Aceh dan beberapa provinsi lain yang rawan bencana menjadi program Palang Jerman bersama PMI hingga 2010.
Kesiapan siaga bencana di sekolah-sekolah juga menjadi bagian tugas rekonstruksi. Artinya, kata Mueller, pembangunan gedung sekolah satu paket dengan program kesiagaan bencana.
Dia mengatakan, khusus untuk para guru, Palang Merah Jerman memberikan pelatihan bencana yang kemudian dapat diajarkan kepada para murid sebagai mata pelajaran tambahan sekolah.
Memasuki dua tahun pelatihan bencana, pihak palang merah Jerman tidak dapat memasang target kapan masyarakat Aceh benar-benar siap menghadapi bencana.
“Kita tidak bisa memasang target, namun pelatihan secara kontinu akan menjadi modal kesiapan masyarakat dalam menghada bencana, baik tsunami maupun potensi bencana alam lainnya yang sering terjadi di Aceh,” katanya.
Delegasi Konstruksi Palang Merah Jerman Bettina Morgenster, yang berpakaian adat Aceh saat penutupan proyek perumahan, menyatakan terkesan dengan ketegaran mental masyarakat Aceh yang bertahan dan tabah menghadapi cobaan.
“Ini luar biasa yang pernah saya lihat dan alami terjadi di Aceh. Masyarakatnya kuat dan tabah menghadapi cobaan,” demikian kata Bettina. ( ant )


Comments