Si Miskin Di India

BACALAH koran-koran di India sekarang dan anda tidak bakal tahu banyak tentang sebagian besar penduduk-nya yang hidup dalam kemiskinan. Alih-alih anda baca tentang kedudukan internasional India yang telah mening-kat, tentang persahabatannya yang sedang berkembang dengan  Amerika Serikat, tentang kesempatan-kesempatan yang diciptakan oleh pertumbuhan ekonomi 8 persen selama tiga tahun ini, tentang perubahan ekonomi yang berlanjut yang mungkin akan atau tidak melontarkan India ke suatu posisi yang menyaingi Cina. India selalu merupakan negeri yang serba ekstrim, tulis wartawan Amelia Gantleman dari New Delhi. India adalah suatu bangsa dengan kemiskinan dahsyat, dan sebuah elite kecil tapi kaya raya. Setelah 16 tahun reformasi, jumlah kaum miliarder yang memiliki dolar AS bertambah menjadi 53 orang, lebih banyak ketimbang bangsa Asia lain. Dan jumlah miliuner (jutaan) lebih dari 100.000 orang.

 

Kelas menengah telah meluas menjadi sekitar 200 atau 250 juta orang, tapi mayoritas rakyat tetap tinggal miskin atau sangatlah miskin dengan 700 juta orang hidup dengan kurang dari dua dolar (Rp 18.000) satu hari.

 

Kemiskinan telah berkurang sejak reformasi mulai, tapi secara lambat, menurun dari kira-kira sepertiga dari jumlah penduduk yang diperkirakan hidup dengan kurang satu dolar ( Rp 9.000) sehari tahun 1991, menjadi sekitar seperempat dari bangsa dewasa ini.

 

Jurang yang memisahkan kedua India, yang kaya dengan yang miskin, makin kentara tambah lebar. Pertumbuhan mencakup semua tetap merupakan suatu cita-cita yang diakui oleh pemerintah, masih harus dicapai. Tidak jelas apakah suatu model ekonomi di mana dua pertiga dari penduduk belum menikmati bersama keuntungan -keuntungan pertumbuhan ekonomi adalah berkelanjutan. Organisasi-organisasi seperti Unicef memperingatkan India bahwa India tidak bisa menuntut menjadi pemain internasio-nal dengan peringkat begitu tinggi dari gizi buruk. Para pakar ilmu politik meramalkan bahwa kekerasan oleh kaum Naxalite yang berideologi Maoist (komunis Cina) yang bagaikan api dalam sekam di daerah pedalaman bakal meluas menyebar, apabila ketidaksamaan keadaan tidak ditangani dan diatasi.

 

Ibukota New Delhi terus sibuk membangun prasarana baru. Karena api di bawah tanah ada. Pasar Khan yang dulu terdiri dari restoran murah dan warung kopi kini dengan cepat dijelmakan sebagai suatu arcade perbelanjaan (shopping)buat golongan elite, menawarkan kepada golong hartawan  busana dalam wanita bikinan Paris, lampu kristal, pesawat flat-screen TV dan kalung seharga 20.000 dolar. Tidak jauh dari situ terdapat rumah kediaman yang baru dibangun. Itulah rumah Bharti Mittal, salah satu miliarder India paling terkemuka, direktur utama perusa-haan telkom Airtel. Ia menjadi kaya luar biasa karena meningkatnya permintaan akan tilpon genggam HP. Lebih dari tujuh juta HP dijual di New Delhi tiap bulan. Kadang -kadang diadakan pesta di taman rumah kediamannya, dengan bunga seroja mengambang di tengah cahaya lilin di kolom renang, dengan sampanye impor disajikan kepada tamu-tamu yakni para CED (pemimpin eksekutif perusahaan swasta) serta entrepraneur yang telah mentransformasikan atau mengubah ekonomi India selama dasawarsa bela-       kangan.

 

Lihat keadaan lain. Rumah miliarder Bharti Mittel terletak beberapa detik berjalan kaki dari trotoar di mana tinggal perempuan bernama Sayari yang sebagian besar hidupnya mencari nafkah dengan menjual kembang jasmine (melati) dan mawar di perempatan jalan. Tidak bisa hidup di sebuah desa di Rajasthan yang tidak punya air dan kesempatan kerja,25 tahun yang lalu Sajari sebagai bayi dibawa oleh orang tuanya ke New Delhi.

 

Jenis makan malam yang disiapkan oleh Sayari bagi suaminya tidak pernah lebih dari kira-kira 150 rupee yaitu di bawah 4 dolar atau Rp36.000. Jumlah makanan yang dimakan oleh keluarganya telah merosot dalam bulan-bulan belakangan karena meningkatnya harga pangan mengancam mencempelungkan keluarganya lebih mendalam ke lobang kemiskinan. Dari tempatnya di trotoar Sayari melihat mobil orang kaya lewat dengan cepat. Sayari tidak merasakan dampak tetesan ke bawah dari kekayaan baru yang menyebar di ibukota New Delhi.

 

Gubuk tempat tinggal Sayari, tanpa listrik, tanpa air bersih telah dua kali dirusah digusur oleh pejabat-pejabat pemerintah kota untuk melenyapkan perlambang kemiskinan yang berlanjut di India. ‘Orang-orang miskin sedang diusir dari Delhi. Kami tidak diinginkan di sini. Biaya membeli bunga di pasar telah naik, tapi orang tidak mau membayar lebih banyak di lampu-lampu perhentian lalulintas. Laba merosot. Hanya satu dari dua anak lelaki bisa bersekolah’, kata Sayari.

 

Di tengah kekayaan yang sedang meningkat dari New Delhi, orang-orang lapar di perempatan jalan yaitu kaum pengungsi dari pedalaman mengingatkan India akan jutaan orang yang miskin. Beberapa bulan yang lalu mantan PM Singapura Lee Kuan Yew berceramah di Bank Mega di Jakarta dan dia menganjurkan, supaya kita mencontoh India dan Cina dalam soal pembangunan. Saya terpikir, haruskah begitu ? Dan bagaimana pendapat anda ?.