Pondok Pesantren Krapyak “Go Internasional”

Masuk di kawasan Krapyak, Yogyakarta, tak ubahnya seperti berada di jalan kecil bilangan Jatinegara; suasana ramai, hilir mudik kendaraan dengan sekali-sekali warga memarkir motor dan sepeda di tepi jalan.

Di ujung jalan dua lajur, berdiri benteng Kraton Yogyakarta yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Bus besar yang lewat harus berjalan pelan karena sempit.

Jika sudah melewati kawasan ini, bisa jadi bagi pengunjung baru sadar dapat membedakan suasana, bahwa yang bersangkutan sedang berada di Yogyakarta.

Krapyak, kata Warto, warga setempat, memang kini sudah berbeda. Tak ada suasana heroik lagi, meski benteng kraton masih berdiri kokoh. Kendati begitu, warga di sini masih memelihara warisan leluhur.

Apa warisan itu? Tak lain adalah spirit Islam. Suatu warisan yang amat bernilai.

Spiritulaitas Islam di Krapyak terbentuk bukan secara kebetulan, tetapi melalui proses panjang di kominitas lingkungan setempat dan  berkat kekuatan perjuangan almarhum KH Ali Ma’shum.

Kiyai kharismatik dan dikenal luas di seantaro Nusantara ini meninggalkan warisan lembaga pendidikan yang belakangan makin mendapat kepercayaan umat muslim. Karena itu, jika menyebut nama Krapyak, membawa ingatan kepada sebuah pondok pesantren (Ponpes) yang berada di sebuah jalan gang sempit, Jalan KH Ali Maksum Yogyakarta. Ponpes tersebut cukup beken di kalangan ulama manca negara.

Bangunan di kompleks Ponpes, rata-rata berlantai dua dan tiga. Di sekitar bangunan yang menempati lahan sekitar dua hektar itu, berdiri pula rumah para ustad, kiyai dan pengajar Ponpes.

Terasa tak ada yang istimewa, kecuali lingkungannya nan asri. Taman dengan pepohonan kecil terpelihara apik. Kebersihannya pun terjaga meski suara deru motor di kota pelajar masih sangat kuat terdengar.

Dari dalam gedung, sekali-sekali terdengar suara anak-anak menghafal pelajaran dan bergurau. Suara santri dengan logat bahasa dari berbagai etnis terdengar. Ada santri menggunakan Bahasa Melayu dari Kampar, Riau bercakap dengan rekannya dari Yogya yang ditimpali dengan Bahasa Indonesia. Meski Bahasa Indonesia yang digunakan kadang terdengar selingan bahasa Jawa.

Santri memang dituntut memahami kultur santri lain yang berasal dari seantero bumi Nusantra dan mengenal ragam dan corak budaya etnis Negara Kesatuan RI. “Enak belajar di sini,” kata Nurhalizah, santri dari Kampar, Riau. “Banyak teman. Tambah pengalaman dan enak lah,” kata Hamidah, santri asal Kediri.

Santri asal Kediri ini mengatakan, meski di daerahnya ada Ponpes yang juga cukup terkenal, belajar di Yogyakarta tak ada salahnya. “Orangtua yang menganjurkan belajar di sini,” katanya dan mengaku kadang suka rindu orangtua di kampung.

Belajar di Ponpes Krapyak, yang didirikan sekitar tahun 1960-an, bagi para santri sungguh menyenangkan. Para ustad amat komunikatif. Ikatan batin antara murid dan pengajar pun terjalin kuat.

“Ketika seorang santri melontarkan pertanyaan, para ustad memberikan respon positif. Cepat memberi pertolongan atau petuah jika santri menemui kesulitan,” katanya.

Tak heran, sekilas, para santri terlihat manja dengan para pengajar. Namun hal itu bukan berarti para santri mengabaikan rasa hormat. “Itu semata-mata karena hubungan antara santri dan pengajar bagai orangtua dan anak.”

“Pendekatan yang kita gunakan adalah komunikasi, mengutamakan akhlakul karimah,” kata Mubtadi’in, salah seorang pengajar di Ponpes Krapyak yang membidangi kesiswaan.

Ia menjelaskan, K.H. Atabik Ali, salah seorang penerus dan pendiri dari Ponpes Krapyak, selalu menekankan agar para pengajar menjaga integritasnya dalam melaksanakan tugas. Sehingga para santri tetap menaruh hormat.

Seperti juga kehidupan di Ponpes lainnya, dalam kehidupan sehari-hari, santri menyatu dengan santri lain. Santri dari berbagai etnis menyatu dalam kehidupan sehari-hari di satu atap pemondokan. “Di sini tak ada ‘geng’ yang berasal dari daerah A atau Z dalam satu kamar atau blok. Yang ada semua santri berada di bawah satu atap, Ponpes Krapyak,” katanya.

Semua santri memiliki rasa tanggung jawab yang sama terhadap sesama rekan mereka. Jika seorang santri mengalami kesulitan berarti rekan-rekan mereka mengalami penderitaan yang sama.

Boleh jadi, penanaman budi pekerti atau nilai spiritualitas yang Islami itu terdengar mufti besar dari Syria, Dr Badruddin Hassoun. Ulama besar itu akhirnya berkunjung ke Ponpes Krapyak, seusai menerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Badruddin juga bertemu dengan para tokoh ormas Islam di Tanah Air dan menyempatkan diri ke Bandung dan Istana Cipanas, Jawa Barat.

Seperti diketahui Mufti besar Syria memegang otoritas keagamaan negara Sunni itu. Ia bisa memposisikan sebagai pemimpin komunitas yang berpikir dan bersikap lebih luas, lintas batas dan universal sebagai bagian dari kewarganegaraan dunia.

 

 Tetap eksis

Perjalanan lembaga pendidikan Ponpes Krapyak, Yogyakarta, ini sempat mengalami cobaan berat. Gempa bumi pada 2006 bukan hanya meluluhlantahkan bangunan rumah di Propinsi Yogyakarta, tapi juga fasilitas pendidikan agama.

Ponpes Krapyak Yogyakarta yang menaungi para santri pendidikan Aliyah, Tsanawiyah, Ibtidayah, Diniyah ikut merasakan. Pesantren bagi mahasiswa juga terkena dampaknya gempa tahun 2006, dan sesudah itu juga diterpa bencana puting beliung.

Kendati begitu, para kyai, ustad dan santri tetap optimis melanjutkan eksistensinya dalam rangka meningkatkan kualitas generasi muda yang berwawasan luas dan berakhlak Qurani.

Pimpinan Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta  KH Atabik Ali mengaku optimis dari kawasan Krapyak ini akan berkibar pesan moralitas peningkatan akhlak manusia.

Atabil Ali menjelaskan, dampak gempa sangat memukul. Gempa ini telah meluluhlantahkan sebuah gedung berlantai tiga yang terdiri dari 12 kelas, juga menghancurkan bangunan lama yang dipakai untuk kelas, serta merusak gedung empat lantai madrasah aliyah dan perpustakaan. Namun, ia masih harus bersyukur, Alhamdullah berkat kerjasama dengan Universitas Gadjah Mada akhirnya gedung-gedung yang rusak itu bisa direnovasi dan digunakan kembali.

Departemen Agama membantu sepertiga dari dana yang dibutuh untuk melakukan pembangunan dan renovasi bangunan yang hancur akibat gempa itu. Dari PLN dan PT Semen Gresik juga memberi bantuan. 

Pesantren Krapyak, selain melayani pendidikan dasar dan menengah, juga melayani mahasiswa, dengan sistem pendidikan holistik.

Dengan langkah itu, diharapkan terbentuk karakter santri untuk berpikiran cerdas, berwawasan luas dan berakhlaq mulia.

Pesantren Mahasiswa sistem pendidikan tidak hanya menekankan kualitas moral mahasantri, tetapi juga pada kualitas pikir dan amal, serta rasa tanggung jawab dalam kehidupan sosial.

Atabil Ali mengharapkan langkah ini dapat melahirkan generasi yang mumpuni dalam ilmu keagamaan, yang sejalan dengan tantangan zaman. Meskipun, dengan lahan yang sangat terbatas seluas 2 hektar itu, kita tidak berhenti berupaya agar pesantren ini memberikan manfaat kepada masyarakat.

Untuk peningkatan dakwah ini, Ponpes memiliki stasiun radio yang bernama Radio Rama. Saat gempa terjadi antenenya sempat roboh.

Setelah diperbaiki, stasiun radio itu rusak kembali akibat puting beliung. Namun, sampai sekarang Radio Rama tetap mengudara meski dengan peralatan ala kadarnya.

“Kita sangat berterima kasih sekali kalau pemerintah mau membantu membangun tower ini kembali,” katanya.

“Ini merupakan salah satu radio favorit di Yogya, karena cobaan yang datang berturut-turut, kita belum bisa bangkit seperti semula. Radio ini berupaya menyiarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya lagi.

Selain itu, manajemen Ponpes Krapyak juga melakukan penyebaran ilmu pengetahuan melalui penerbitan Kamus Arab-Indonesia Al-Ashr setebal 2050 halaman yang menjadi buku terlaris di wilayah Yogya dan sekitarnya, dan tidak lama agi akan terbit juga kamus Indonesia-Arab setebal 1778 halaman.

“Ini usaha yang dilakukan Ponpes Krapyak untuk mencerdas generasi muda,” ujarnya. 

Krapyak selama ini juga dikenal sebagai lembaga tahfidz Quran yang mencetak para penghafal Alquran.  “Banyak santri kami menjadi juara, namun tidak untuk mewakili Ponpes Krapyak dan DIY, tapi daerah lain seperti Jawa Barat, dan Sulawesi, sesuai asal daerah santri,” katanya.

Terkait dengan kebolehan jebolan santri dari Ponpes Krapyak ini, Afif Muhammad, salah seorang pengajar mengaku bahwa saat ini sudah tiga santri dari Krapyak belajar di Amerika Serikat (AS) sejak Agustus lalu. Mereka adalah Aufan, Nurul Azkiah dan Ali Mahfud.  Mereka belajar berbagai disiplin ilmu sosial di sana dan sekembalinya dari negara Paman Sam, ketiga santri itu akan kembali mengajar di Krapyak. “Di sini juga sudah ada dan menerima santri dari luar negeri,” ungkap Afif.

Di Krapyak para santri selain dituntut paham ilmu keagamaan juga harus melek teknologi informatika (IT). Jika sudah menyangkut bidang IT, menurut dia, hal itu bukan hanya santri saja, tapi juga para pengajarnya. Ponpes Krapyak punya satu ruangan laboratorium komputer. Kendati kelasnya terbatas, tapi bisa dipakai secara bergantian.

Menguasai teknologi informatika (IT)  merupakan suatu keharusan. Para santri keluar dari Ponpes ini tak akan gegap teknologi lagi. Mereka sudah harus “go internasional”. ( ant/ Edy Supriatna Sjafei )