Budidaya Gaharu Di TTS Gagal Total

SoE, NTT ( Berita ) :  Budidaya tanaman gaharu di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) gagal total karena sistem pemeliharaan yang rumit dan tanaman mudah stres di  lingkungan baru.

“Kami sudah lakukan budidaya tanaman beraroma wangi itu pada areal sekitar dua hektare, tapi tingkat pertumbuhannya hanya sekitar 10 persen saja,” kata Kepala Dinas Kehutanan TTS, John Christian Mella kepada tim kunjungan kerja DPRD NTT di SoE, ibukota Kabupaten TTS, sekitar 110 km timur Kupang, Senin [30/06] .

Tim kunjungan kerja DPRD NTT yang dipimpin Marthen Asbanu (FPG) itu melihat proyek-proyek bantuan APBD NTT serta menjaring aspirasi rakyat untuk penyusunan anggaran 2009.

Ketika mendengar penjelasan dari Kadis Kehutanan TTS soal sulitnya pengembangan tanaman gaharu, Marthen Asbanu meminta Dinas Kehutanan NTT untuk menghentikan penyaluran bibit gaharu ke TTS untuk menekan anggaran belanja di bidang rehabilitasi hutan dan lahan.

Menurut Mella, pengadaan anakan gaharu itu di daerah Amfoang, sebuah kecamatan di Kabupaten Kupang yang teritorialnya berhadapan langsung dengan negara Timor Leste. “Anakan gaharu itu tidak disemai terlebih dahulu tetapi dicabut kemudian dimasukkan dalam polbet dan langsung didistribusi,” katanya melukiskan kegagalan gaharu di TTS yang pernah dikenal sebagai daerah penghasil kayu cendana terbesar di NTT itu.

Asbanu mengharapkan Dinas Kehutanan TTS terus membudidayakan tanaman cendana untuk mengembalikan kejayaan TTS sebagai daerah penghasil cendana terbesar di NTT.

Mella mengatakan, saat ini pihaknya tengah mengembangkan tanaman cendana pada areal seluas 10 hektare dengan tingkat pertumbuhan yang cukup menjanjikan.

Tanaman beraroma wangi ini hanya bisa dipanen pada usia pohon di atas 40 tahun terhitung dari masa tanam. “Jika usia pohon cendana sudah di atas 40 tahun maka aroma wanginya sangat terasa jika dibandingkan dengan yang berusia di bawah 40 tahun,” kata Mella.

Tanaman cendana di TTS menjadi nyaris punah karena dalam usia 10 tahun sudah dibabat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab karena tergiur dengan mahalnya harga komoditas tersebut di pasaran gelap.

“Harga cendana di pasar gelap saat ini sekitar Rp8 juta/kg, sedang di pasaran umum antara Rp2,5 juta sampai Rp3 juta/kg,” katanya melukiskan nafsu orang-orang serakah terhadap harga kayu Cendana sehingga belum memasuki usia panen pun langsung dibabat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. (ant )