Aragones: Awal Kebangkitan Spanyol : Harian Berita Sore

Aragones: Awal Kebangkitan Spanyol

30 Juni 2008 | 15:07 WIB

Wina ( Berita ) :  Pelatih tim Spanyol Luis Aragones mengatakan, kemenangan 1-0 atas Jerman Senin dinihari di final Euro 2008 merupakan awal kebangkitan para pemain muda berbakat Spanyol sehingga ia yakin tim itu akan dapat memenangi turnamen Piala Dunia.

Aragones, berbicara setelah mengikuti pertandingan terakhirnya bersama tim itu mengadakan dalam temu pers, “Banyak orang yang melihat bahwa Spanyol merupakan model bagaimana seharusnya bermain sepak bola.” “Saya selalu berpikir bila saya mampu menangani tim ini dengan baik maka mereka akan menjadi juara, karena begitu banyak pemain berbakat dan bermutu dalam tim itu,” katanya. “Saya kira tim ini akan dapat meneruskan kiprahnya yang sekarang dan akan menimba berbagai gelar juara,” katanya.

“Kami memiliki banyak pemain dan di antaranya merupakan pemain terbaik dan menjadi pemain tingkat dunia. Mereka sudah matang sejak dan kami membentuk tim yang dapat memenangi kejuaraan Eropa dan sanggup memenangi Piala Dunia,” katanya.

 Aragones, yang akan berusia 70 tahun pada Juli mendatang dan merupakan pelatih tertua di Euro 2008, menyatakan ia akan mundur setelah usai turnamen itu. Ia disebut-sebut akan menjadi pelatih klub Fenerbahce di Turki dan akan menangani klub itu selama dua musim.

Kemenangan Senin dinihari itu mengakhiri penantian panjang mereka selama 44 tahun untuk mendapatkan piala Eropa itu. Gelar yang diraih Spenyol dalam turnamen level senior terjadi di negara mereka sendiri ketika mengalahkan Uni Soviet 2-1 di final Kejuaraan Eropa di Bernabeu pada 1964. Mereka maju ke final Kejuaraan Eropa 20 tahun lalu tapi kalah melawan Prancis. “Saya masih ingat pertandingan 1964 karena saya merupakan bagian dari tim di babak penyisihan kendati saya tidak main, karena mereka ketika itu tidak menggunakan pemain cadangan.

Saya merasakan hal itu seperti yang dirasakan pemain cadangan saat kami memenangi gelar pada hari ini,” kata Aragones. “Kami bekerja dengan cara membuat setiap orang yang berada dalam tim merasa penting dan akhirnya kami sukses. Ini hari bahagia untuk Spanyol karena kami memenangi Euro dengan cara yang brilian. Sekarang dapat kami katakan bahwa kami akan mendapatkan gelar lainnya,” kata pelatih itu.

 

Sepakbola Indah

Pelatih Spanyol Luis Aragones menyatakan keyakinannya bahwa gelar juara Euro 2008 yang mereka raih akan meninggalkan warisan sebagai permainan sepak bola indah.

Sejak pertandingan pertama ketika mempecundangi Rusia 4-1 di babak penyisihan grup, sampai kemenangan 1-0 atas Jerman di final, Spanyol, menurut Aragones, telah menampilkan kelas dan keindahan sepak bola di Euro 2008, yaitu keindahan permainan yang bebas mengalir. “Bagi mereka yang mencintai sepak bola pasti ingin menyaksikan permainan seperti itu,” kata Aragones yang akan segera meninggalkan posnya setelah bertugas selama empat tahun.

Pelatih yang memasuki usia 70 tahun dan merupakan pelatih tertua di Euro 2008 itu, berhasil mengakhiri penantian Spanyol selama 44 tahun. Ia kemudian menambahkan, “Penonton ingin melihat pemain yang bisa mengumpan bola dengan baik, menyerbu ke daerah penalti dan kemudian mencetak gol.”

“Mereka pasti melihat Spanyol sebagai model bagaimana seharusnya bermain bola,” katanya.”Kami telah memenangi turnamen ini secara brilian. Ini adalah hari yang berbahagia bagi pemain, staf pendukung, saya sendiri dan semua warga Spanyol.” “Sekarang kami bisa mengatakan bahwa kami bisa merebut gelar juara. Saya berharap Spanyol akan terus melaju dan meraih lebih banyak gelar,” kata Aragones.

Aragones secara khusus juga memuji penampilan Fernanto Torres, penyerang Liverpool yang mencetak gol tunggal untuk mengantar kemenangan Spanyol.

“Fernando adalah pemain yang hebat di Liverpool dan dalam tim kami. Ia mempunyai kecepatan. Saya selalu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah pemain muda (24 tahun) dan bisa menjadi salah satu pemain terbaik dunia,” katanya menambahkan.

Tapi Aragones, yang sebelumnya sempat mengecam Federasi Sepak Bola Spanyol karena tidak menawarinya perpanjangan kontrak, menolak untuk menjawab pertanyaan seputar masa depannya. Tapi semua tanda mengarah pada kemungkinan ia kembali menangani klub, yaitu Fenerbahce, sedangkan mantan pelatih Real Madrid Vicente del Bosque disebut-sebut sebagai calon penggantinya di timnas Spanyol. Mengenai pertandingan final menghadapi Jerman, Aragones mengakui bahwa ia sempat diliputi rasa cemas pada awal pertandingan.

“Pada menit-menit pertama pertandingan, kami sempat khawatir karena Jerman mulai menguasai pertandingan, tapi pada menit ke-15 ketika usaha kami menerpa tiang gawang, saya mulai merasa yakin kalau kami bisa tampil sebagai pemenang dan kami kemudian pun mulai tampil lebih baik,” katanya.

 

Pendukung Jerman                

Ratusan ribu pendukung Jerman berharap bisa berpesta namun harus pulang dengan kekecewaan setelah tim kesayangan mereka dikalahkan Spanyol 0-1 pada final Euro 2008, Minggu (Senin dinihari WIB).

Lebih dari 600.000 orang memadati pusat kota Berlin di dekat Brandenburg Gate untuk bersama-sama menyaksikan pertandingan melalui layar raksasa.

Akan tetapi kegembiraan yang tampak saat tim mereka mengalahkan Portugal pada perempatfinal dan Turki di semifinal berganti kekecewaan setelah Spanyol mengekspos semua kelemahan Jerman.

Suasana damai masih terpancar usai pertandingan meski ada beberapa orang saling melempar kaleng bir. Beberapa di antara penonton itu tampak meneteskan air mata. “Sial, sungguh sial. Kami kalah. Saya sangat kecewa terhadap tim,” kata seorang pria yang mengenakan seragam timnas Jerman di Brandenburg Gate.

Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan sebelum pertandingan, 75 persen penduduk Jerman yakin tim mereka bisa mengalahkan Spanyol dan sebagian besar lainnya mengaku lega karena tidak harus menghadapi Rusia di final.

 

Pandangan Jernih

Tetapi beberapa penggemar berpandangan lebih jernih mengenai pertandingan tersebut. “Spanyol layak menang. Kami bermain buruk, semua tidak berjalan benar. Tetapi itulah sepak bola –penderitaan kami adalah kebahagiaan mereka,” kata seorang penggemar berusia 30-an yang juga mengenakan seragam timnas.

Salah satu harian besar Jerman Bild juga menggambarkan kekecewaan tetapi mengakui bahwa Spanyol memang sekelas lebih baik.

Sementara itu harian the Express yang terbit di Cologne menulis, “Tetap tegakkan kepalamu Jerman, Spanyol memang lebih baik.” Sekitar satu setengah jam setelah pertandingan, ribuan penggemar yang kecewa berjalan perlahan dan dalam diam di sepanjang Kurfuerstendamm, salah satu jalan utama di Berlin Barat. Beberapa suporter menyalakan kembang api, meniup peluit dan berteriak “Deutschland” tetapi suasana terasa hambar.

Walau demikian, beberapa anak muda tampaknya memutuskan untuk tetap berpesta di pub dan restoran untuk mengurangi rasa kecewa dengan mendengarkan musik disko dan menenggak berkaleng-kaleng bir. ( ant/rtr/afp )

Comments

Comments are closed.