Rektor UI Nyatakan Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan Nasional : Harian Berita Sore

Rektor UI Nyatakan Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan Nasional

29 Mei 2008 | 16:41 WIB

Jakarta ( Berita ) :  Rektor Universitas Indonesia, Prof Dr Gumilar R Sumantri, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar, Kasad Jenderal TNI Agustadi S Purnomo merupakan tiga di antara para tokoh yang sepakat menyatakan Pancasila sebagai Ideologi Persatuan Nasional.

“Ketiga tokoh ini, bersama Prof Soedijarto, Prog Ikrar Nusa Bakti dan Dr Sukardi Rinakit dipastikan tampil bersama dalam momentum peringatan hari ulang tahun (Harlah) Pancasila 1 Juni 1945 di Jakarta,” kata Ade Reza Hariyadi dari Presidium Persatuan Alumni (PPA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), di Jakarta, Kamis [29/05] .

Hajatan Harlah yang antara lain diisi dengan diskusi bertopik “Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan Nasional”, itu juga menampilkan para tokoh dan aktivis dari berbagai kalangan.

Mereka diyakini telah menyiapkan diri untuk bersatu dalam kebersamaan merenungkan kembali makna hakiki dari ideologi Pancasila yang digali Bung Karno dari perut bumi Nusantara dan dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1945 lalu.

“Kegiatan Harlah itu dipastikan berlangsung pada hari Minggu tanggal 1 Juni 2008, mulai pukul 14.30 hingga 17.30 WIB di Sekretariat PPA GMNI, Jalan Cikini Raya Nomor 69, Jakarta Pusat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum PPA GMNI, Palar Batubara, menambahkan, dalam kesempatan peringatan Harlah tersebut, pihaknya mengeluarkan pernyataan politik yang dikaitkan pula  dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

“Kita tidak ingin bangsa ini ke depan berjalan pada relung-relung kehidupan tidak terarah. Kita mantapkan terus bahwa Pancasila itu merupakan ‘way of life’ (pandangan hidup) sekaligus ‘welt anschaung’ bangsa dan ‘light star’ atau bintang penuntun kehidupan ke arah kemajuan yang beradab, adil dan berbudaya,” katanya.

Karena itu, Palar Batubara mengharapkan, peringatan Harlah Pancasila 1 Juni 1945 dan momentum seabad Kebangkitan Nasional, semakin menyadarkan semua komponen maupun eksponen bangsa tentang jadi diri kebangsaan kita yang hakiki.

“Kita memang bagian dari masyarakat global, tetapi kita jangan lupa daratan atau lupa ingatan. Bahwa kita memang punya jati diri kebangsaan yang khas. Hanya bangsa-bangsa yang menyadari jati dirinya sendiri yang bisa maju gagah perkasa dan berani berkompetisi dengan punya harga diri di kancah kompetisi global. Lihat contohnya Jepang, Korea, India, kini Venezuela, Kolumbia dan seterusnya,” ujar Palar Batubara lagi. ( ant )

Comments

Comments are closed.