Indonesia-Pakistan Jajaki Peluang PTA
22 Mei 2008 | 16:06 WIB
Jakarta ( Berita ): Indonesia dan Pakistan akan menjajaki peluang diberlakukannya Preferential Tariff Agreement (PTA) untuk produk-produk ekspor unggulan dua negara seperti minyak sawit mentah (CPO) dan jeruk kino Pakistan.
“Permasalahan kita adalah di Pakistan harga minyak sawit kita masih tetap 10 persen di atas harga Malaysia, karena mereka sudah memiliki perjanjian PTA sedangkan kita belum. Makanya kita sudah berbicara dengan pemerintah untuk bersama-sama ke Pakistan (untuk menegosiasikan PTA),”kata Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Makan Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di Jakarta, Kamis [22/05] .
Sebagai langkah awal, sekitar akhir Juni, GIMNI dan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) akan bertemu dengan asosiasi pebisnis di Pakistan untuk menjajaki peluang PTA itu. “Sebenarnya Pak SBY (presiden) sudah pernah bicara (tentang PTA) di Pakistan dua tahun lalu. Setelah ini, nantinya pemerintah juga akan ikut bernegosiasi, tapi sekarang swasta dengan swasta dulu. Swasta mereka yang akan menghimbau pemerintah Pakistan,” jelasnya.
Sahat mengungkapkan pencapaian PTA prosesnya akan sedikit sulit mengingat Pakistan kini sudah tidak tertarik meminta penurunan tarif jeruk Kino. “Padahal dari Departemen Pertanian kita sudah mengijinkan, Menteri Pertanian sudah memberikan rekomendasinya kepada Menteri Perdagangan, tapi kita memang terlambat sekali (responnya),”ungkap Sahat.
Meski demikian, Indonesia masih memiliki posisi tawar yang baik untuk bisa meloloskan permintaan penurunan tarif masuk CPO dan turunannya agar bisa memperluas pangsa pasar di Pakistan. “Kita punya bargaining power yang besar, contoh beras kadang-kadang kita impor dari mereka kok,” ujarnya.
Saat ini, pasar CPO dan produk turunannya di Pakistan sebesar 1,9 juta ton yang terbagi menjadi 45 persen pangsa pasar Indonesia dan sisanya dikuasai Malaysia. “Jadi kira-kira kita mengekspor 890 ribu ton CPO dan turunannya per tahun. Malaysia lebih besar lagi, oleh karena itu kalau tidak kita kejar peluang ekspor ke Pakistan, industri hilir kita kan susah juga (cari pasar),” tambahnya. ( ant )


Comments