Seabad Harkitnas Pudarnya Semangat Nasionalis Bangsa

Semangat nasionalisme kita harus diakui sudah menurun, bahkan mungkin sudah menghilang sehingga kita acuh dengan masalah bangsa, negara, tanah air dan segala jati diri kita sebagai anak bangsa yang merdeka. Be

Lantas, apa makna kebangkitan nasional kita yang sudah berusia seabad (1908 2008)?

Hemat kita, hakikat dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dilakukan bangsa Indonesia  setiap tahunnya  adalah merenung, introspeksi, mengajak seluruh elemen masyarakat dan bangsa untuk  mencontoh apa-apa yang sudah dilakukan para pendiri bangsa ini di masa lalu melawan penjajahan dan menegakkan kedaulatan bangsanya.

Kala itu bangsa Indonesia berjuang dan terus berjuang sampai akhirnya mampu mengusir penjajah dari bumi Nusantara. Pemerintah berikut rakyat menyadari keterbelakangan sehingga memotivasi  mereka untuk maju dengan mengikrarkan semangat kebangkitan nasional.

Sejarah kebangkitan nasional sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum 1908. Namun baru dicatat pada tanggal 20 Mei 1908,  saat itu dr Soetomo dan kawan-kawan di STOVIA berkumpul untuk membentuk sebuah organisasi yang diberi nama “Boedi Oetomo”.

Melihat namanya budi yang utama, organisasi itu berasaskan pendidikan-kebudayaan. Sayangnya, semangat ’’Boedi Oetomo’’ itu tidak mampu dilestarikan, sehingga semakin memudar dari kepribadian tokoh dan pemimpin bangsa Indonesia  khususnya di masa Orde Baru dan Orde Reformasi.

Besok, tanggal 20 Mei 2008 tepat seabad bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tapi, apa yang sudah dicapai bangsa Indonesia dengan  proklamasi kebangkitan nasionalnya itu? Umumnya merasa kecewa.

Bukannya bangsa ini bangkit, malahan mundur! Terjadi degradasi di berbagai bidang, di antaranya, rakyat semakin miskin, angka pengangguran tinggi, harga-harga (sembako) melambung, kekayaan alam semakin tereksploitasi, sementara penegakan hukum masih tebang pilih.

Sejatinya sebagaimana cita-cita pendiri bangsa ini,  semua kekayaan alam dikuasai negara dan diprioritaskan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Faktanya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Keterpurukan ekonomi semakin parah, serbuan produk asing membanjiri pasar dalam negeri. Kondisi seperti itu menimbulkan gesekan-gesekan di masyarakat sehingga acapkali menimbulkan konflik horizontal. Adalah hal yang mustahil suatu bangsa dapat bangkit dari keterpurukannya kalau  bangsa itu tidak dapat mandiri dan tidak berdaulat

Jadi, benar apa yang dikatakan Amien Rais. Reformasi sudah gagal. 10 Tahun  reformasi sudah berlalu hasilnya mengecewakan rakyat karena KKN tetap tumbuh subur.

Di mata Amien, korupsi paling berbahaya atau korupsi tingkat tinggi yang patut diwaspadai adalah korupsi negara, atau korupsi yang dilakukan negara. Dalam pembukaan “Kuliah Tjokroaminoto” di kampus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, tokoh reformasi 1998 itu mengatakan negara melakukan korupsi karena pihak asing memegang tengkuk kalangan eksekutif, yudikatif, dan legislatif sehingga tak mampu berkutik diintervensi pihak asing.

Negara pun dirugikan ribuan triliun akibat  keluarnya Perpres 7/2007 yang memberi peluang kepada kepemilikan asing atas beberapa sektor di Indonesia. Kepemilikan asing itu dapat mencapai 99 persen,  lahan pertanian di atas 25 hektare dapat dimiliki asing hingga 99 persen, nuklir hingga 95 persen, pendidikan pun hingga 49 persen mulai dari SD sampai PT.

Seabab kebangkitan nasional  membuahkan kepudaran jati diri bangsa Indonesia di mata rakyat sendiri, apalagi di mata dunia internasionmal. Oleh karena itu, mari kita sadar untuk bangkit bersama sehingga jiwa nasionalisme yang hilang itu dapat tumbuh kembali. Mulailah dari sekarang.=

 

Comments are closed.