Pemakaman Ali Sadikin Dilakukan Secara Militer
21 Mei 2008 | 15:34 WIB
Jakarta ( Berita ) : Jenazah mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin akan dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan dengan upacara militer yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Madya Didik Heru Purnomo.
“Berdasarkan hasil rapat dengan pihak keluarga maka besok (Rabu 21/5) sore jenazah akan dikebumikan di Tanah Kusir dengan Irup Bapak Wakasal,” kata Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompol di Jakarta, Selasa [20/05] malam.
Ia mengatakan jenazah direncanakan tiba di Indonesia, Rabu sekitar pukul 07.30 WIB dengan menggunakan pesawat Garuda nomor penerbangan 823 dari Singapura. Setibanya di tanah air, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di rumah duka Jalan Borobudur No.1 Jakarta Pusat.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Sumardjono tengah berada di Singapura untuk menerima penghargaan dari pemerintah Singapura pada Selasa (20/5) pagi. Koordinasi antara pihak TNI AL dengan pihak keluarga Ali Sadikin baru berakhir pada Selasa malam.
Ali Sadikin mengakhiri karirnya militernya dengan pangkat Letnan Jenderal Marinir. Bang Ali, demikian ia akrab dipanggil lahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927. Ia menjabat Gubernur DKI Jakarta dari tahun 1966 hingga 1977.
Ia menjadi Gubernur DKI Jakarta ke-7 menggantikan Soemarmo. Bang Ali kemudian diganti oleh Tjokropranolo.
Tokoh Nasionalis
Ketua Setara Institute Hendardi mengatakan, mantan gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin adalah tokoh nasionalis yang konsisten dan berpandangan hitam-putih dalam memandang banyak persoalan kenegaraan.
“Bang Ali adalah pribadi yang ‘fair’ dan rendah hati,” katanya melalui layanan pesan singkat, Selasa, menanggapi meninggalnya Ali Sadikin di Singapura, hari ini pukul 18.30 waktu setempat. Hendardi mengatakan, Ali Sadikin merupakan salah satu mantan tentara yang patriotik dan berani bertanggung jawab atas pilihan politiknya.
Ali Sadikin, katanya, berbeda dengan banyak mantan tentara lain yang lari dari tanggung jawab hukum dan berlindung di balik institusi negara. “Kami turut berduka,” katanya.
Tokoh Yang Tegas
Bangsa Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang punya pendirian tegas dan peduli pada rakyat kecil dalam memperoleh keadilan dengan meninggalnya Ali Sadikin, kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Patra M Zen, di Jakarta, Selasa malam. “Kita berduka dan bangsa ini kehilangan tokoh yang layak disebut Pahlawan yang punya pendirian tegas,” kata Patra M Zen, ketika dimintai komentarnya sehubungan dengan wafatnya mantan Gubernur DKI Jakarta Letjen (Pur) Ali Sadikin.
Kepedulian Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977, terhadap pembangunan bidang hukum khususnya dalam memberikan akses bagi masyarakat kurang mampu untuk memperoleh keadilan itu diwujudkan dengan membangun Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.
Sutiyoso
Mantan Gubernur DKI Jakarta (1997-2007) Letjen (Purn) Sutiyoso mengaku merasa sangat kehilangan atas wafatnya mantan Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) Letjen (Purn) Ali Sadikin. “Beliau menjadi penasihat saya selama saya menjadi Gubernur,” kata Sutiyoso ketika dihubungi pertelepon di Jakarta, Selasa, mengenang Ali Sadikin.
Sutiyoso mengatakan Ali Sadikin sangat berhasil membawa kemajuan pembangunan Ibu Kota Negara. Meskipun demikian Sutiyoso mengoreksi sejumlah hasil pembangunan yang ditinggal Ali Sadikin seperti mengganti lokalisasi Kramat Tunggak menjadi Islamic Center, memagari Taman Monas, mengganti Stadion Menteng menjadi taman. “Semua saya bicarakan dan laporkan kepada Bang Ali. Dia mendukung penuh,” katanya.
Di Samping Istrinya
Almarhum mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memang mewasiatkan ingin dimakamkan di samping istrinya, Nani Sadikin di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
“Bapak jauh-jauh hari sudah mewasiatkan, agar kalau meninggal dimakamkan di samping ibu,” kata anak Ali Sadikin, Bernadi Sadikin kepada ANTARA di rumah duka, Jalan Borobudur no.1 Jakarta Pusat, Selasa malam.
Menurut Bernadi, Ali Sadikin dengan sejumlah penghargaan dan jasa yang dilakukannnya selama ini, sebenarnya berhak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. “Tapi, almarhum semasa hidupnya menolak dan tetap ingin dimakamkan disamping ibu yang meninggal pada 1986,” kata Bernadi.
Pantauan ANTARA menyebutkan, suasana duka sangat kental di rumah itu. Sejumlah karangan bunga duka dari sejumlah pejabat sejak sore sudah berdatangan.
Dari sekian pelayat, tampak beberapa tokoh seperti Adnan Buyung Nasution, Sekretaris Pokja Petisi 50, Chris Siner Key Timu dan Judilherry Justam. Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan Mabes TNI AL Laksamana Pertama Iskandar Sitompol memastikan bahwa pemakaman Ali Sadikin akan dilakukan secara militer. ( ant )


Comments