Guru Harus Bangkit : Harian Berita Sore

Guru Harus Bangkit

21 Mei 2008 | 15:38 WIB

Jakarta ( Berita ) :  Guru harus membangkitkan kembali semangat juangnya sebagai pendidik yang mempersiapkan anak didik menjadi calon pemimpin bangsa, kata pakar pendidikan Satria Dharma.

Pendapatnya itu dikemukakan dalam diskusi dan orasi Bangkit Guruku, Bangkit Bangsaku, yang diselenggarakan Majalah Teachers Guide, Sekolah Semut-Semut dan Cikal High School untuk memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, di Jakarta, Selasa [20/05] .

“Ini momentum yang tepat untuk meninggalkan segala keluhan dan kembali mengabdi pada profesi guru, sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan agen perubahan yang membawa kemajuan bagi bangsa dan negara,” kata Satria.

Direktur Center Betterment of Education itu menyatakan bahwa kegairahan mendidik dalam jiwa para guru di Tanah Air harus dibangkitkan kembali, dan yang bisa melakukannya adalah para guru itu sendiri.

Sikap malas-malasan dan kurang memperhatikan anak didik karena alasan gaji kecil atau sebagainya tidak ada kaitan sedikit pun dengan tanggung jawab guru dalam melakukan profesinya sebagai pendidik.

Pemerintah, katanya, sangat mendukung perbaikan kesejahteraan guru, terbukti dari meningkatnya peruntukan anggaran pembangunan pendidikan menjadi 20 persen dalam APBN. “Bantuan dari luar negeri pun tidak sedikit. Jadi persoalannya adalah semangat mengabdi pada profesi, bukan lainnya,” katanya. “Kita di sini bicara in general, bukan personal. Keluhan-keluhan yang ada itu lebih bersifat personal,” kataya menambahkan.

 

UN tidak efektif

Satrian menilai standardisasi mutu anak didik dengan menerapkan Ujian Nasional (UN) sama sekali tidak efektif, dan berdasarkan data-data akurat dari Depdiknas, penerapan UN adalah keputusan politik yang dipaksakan.

Menrut dia, dari 2,7 juta guru di seluruh Indonesia saat ini, 15 persen di antaranya tidak memiliki kualitas dan kompetensi sebagai pengajar. Ini jelas memerlukan sistem distribusi yang baik dan upaya-upaya meningkatkan mutu guru. Jika penempatan guru berkualitas sudah merata, perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan nasional pun akan meningkat secara otomatis. “Jadi UN saat ini tidak tepat sama sekali. Jangankan anak didik, gurunya pun kalau mengikuti UN belum tentu lulus,” katanya menandaskan.

Pembicara lain, Agi Rachmat dari lembaga Dunamis, meyatakan Indonesia harus berkaca pada Cina dan India, dua negara yang kini disebut-sebut sedang megalami kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan dan tekologi.”Dua puluh tahun lalu, kedua negara ini tidak lebih baik dari kita,” katanya. “Kuncinya cuma satu, para guru di kedua negara tu tahu persis akan tugas dan tanggung jawabnya dalam mempersiapkan generasi mudanya, dan sekarang terbukti. Mereka mau berkorban demi masa depan bangsanya,” katanya.

Bukan sulap

Masalah pendidikan nasional saat ini tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat. Mengutip Albert Einstein, Agi mengatakan, “Problem yang kita hadapi hari ini tidak bisa diselesaikan dengan cara berpikir kita hari ini.”

India dan Bangladesh, katanya, memulai gerakan kebangkitan pendidikan nasional dengan beberapa cara, antara lain pengadaan buku murah dan menjadikan diskusi, seminar dan lokakarya guru sebagai suatu kebiasaan.

Munculnya banyak forum guru di kedua negara itu terbukti mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi para pendidik, yang pada gilirannya membuat anak didik menjadi baik dan bermutu.

Penciptaan guru yang berkualitas dan kompeten merupakan hal mutlak dilakukan demi tercapainya cita-cita nasional di bidang pendidikan. “Kalau ada 100 anak didik dan lebih dari 50 di antaranya tidak berkualitas, itu berarti kesalahan bukan terletak pada anak didik,” katanya.

Sehubungan itu, forum-forum guru termasuk PGRI harus membenahi diri dan melakukan berbagai kegiatan yang mengarah pada peningkatan mutu setiap anggotanya. ( ant )

Comments

Comments are closed.