Pertamina Tak Bisa Penuhi Lonjakan Konsumsi BBM
17 Mei 2008 | 11:34 WIB
Jakarta ( Berita ) : PT Pertamina (Persero) menyatakan tidak bisa memenuhi seluruh lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang terjadi menjelang kenaikan harga komoditas tersebut dalam waktu dekat.
Dirut Pertamina Ari H Soemarno di Jakarta, Jumat mengatakan, pihaknya dibatasi kuota konsumsi BBM bersubsidi yang dalam APBN Perubahan 2008 ditetapkan sebesar 35,5 juta kilo liter (KL). “Kami hanya menoleransi kelebihan permintaan maksimal lima persen dari kebutuhan normalnya. Toleransi itu pun dengan pertimbangan setelah kenaikan harga BBM diumumkan, konsumsi biasanya cenderung turun,” katanya.
Menurut dia, kecenderungan peningkatan konsumsi merupakan hal yang selalu terjadi menjelang pengumuman kenaikan harga BBM. Namun, ia meminta masyarakat tidak ikut-ikutan panik dengan membeli BBM di luar kebutuhan.
Pertamina mencatat dalam beberapa hari terakhir terjadi lonjakan
permintaan premium dan solar bersubsidi di sejumlah wilayah.
Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Achmad Faisal mengatakan, di Jakarta kenaikan permintaan premium dan solar berkisar 5-15 persen, di Sumatera 10 persen, Makassar lima persen, Semarang 10 persen, dan Surabaya 18 persen.”Bahkan, di satu wilayah di Jatim mencapai 40 persen. Tapi, secara rata-rata kenaikan permintaannya sekitar 15 persen,” katanya.
Ari mengatakan, Pertamina tidak memiliki kewenangan melebihi kuota BBM bersubsidi karena sudah ditetapkan dalam UU APBN.”Kenaikan kuota itu adalah hak pemerintah dan DPR,” katanya.
Ari juga menambahkan, dengan adanya peningkatan permintaan, sementara Pertamina dibatasi kuota, maka wajar saja terjadi antrian kendaraan yang ingin membeli BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Apalagi, lanjutnya, Pertamina memiliki keterbatasan infrastruktur yang tidak mampu secara mendadak memenuhi lonjakan permintaan BBM hingga 30 persen.Namun, Ari menjanjikan, pihaknya akan langsung memecat oknum karyawan yang memanfaatkan kondisi sekarang ini buat kepentingan pribadi.
“Kalau ada yang ikut ‘main,’ kita langsung pecat. Tolong tunjukkan,” katanya.
Faisal menambahkan, Pertamina menyiapkan stok yang cukup aman menjelang kenaikan harga BBM.
Stok minyak tanah dipertahankan 23 hari, solar 14 hari dan premium 15 hari.
Saat ini, stok premium mencapai 931.933 kilo liter atau cukup buat 18,9 hari, minyak tanah 515.759 (23,8 hari) dan solar 1,056 juta kilo liter (14,5 hari).
Balongan
Mengenai gangguan pasokan premium dan elpiji akibat perbaikan Kilang Balongan, Jabar, menurut Fasial, Pertamina sudah menambah impor premium sebesar satu juta barel pada Mei ini.
Sedang elpiji, Pertamina menambah impor sebanyak dua kargo atau 3.600 ton pada 16 dan 18 Mei 2008, mendapat tambahan pasokan 40.000 ton dari Lapangan Tanjung Jabung yang dioperasikan Petrochina dan ConocoPhillips dari Lapangan Belanak sebanyak 35.000 ton pada Mei. “Kami juga telah mengalihkan suplai elpiji Balongan ke ‘filling plant’ di Tanjung Priok untuk memenuhi kebutuhan Jawa Barat dan Tanjung Perak untuk Jawa Tengah,” katanya.
Akibat pengalihan suplai tersebut, Faisal mengakui, terjadi kelambatan pasokan elpiji ke masyarakat. “Kami akan menambah armada distribusi agar tidak mengganggu penyaluran elpiji ke masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, masyarakat tidak perlu panik, karena stok elpiji juga masih cukup aman yakni buat 15 hari. Apalagi, lanjutnya, mulai Sabtu (17/5), ada tambahan pasokan 40.000 ton elpiji dari kapal (very large gas carrier/VLGC) yang berada di Teluk Semangka. ( ant )


Comments