Pertamina Bermain, Rakyat Tambah Susah
17 Mei 2008 | 14:55 WIB
Pemilik kenderaan bermotor yang menggunakan primium sebagai bahan bakarnya Jumat malam jadi kesulitan karena bahan bakar itu sulit ditemukan di Medan. SPBU sudah ada yang kehabisan premium dan ada yang meladeni pemilik kenderaan dengan antrian.
Nampaknya seperti terulang pada masa sebelum naik premium menjadi Rp 4500 perliter. Sekarang demikian juga karena sudah dianginkan akan naik 25-30 persen perliter, persediaan BBM untuk rakyat itu tersendat. Padahal pihak Pertamina mengatakan stock cukup untuk daerah ini. Jika demikian mengapa dibatasi pengiriman ke SPBU di Medan ? Bagaimana di luar Medan?
Melihat keadaan di Indonesia yang ditangani yang berpendidikan tinggi dan berpangkat jenderal ini,. sungguh sedih. Katanya abdi rakyat, meningkatkan kehidupan rakyat dan mutu pendidikan akan ditingkatkan, kenyataan tidak demikian. Muncul sikap tidak peduli rakyat kecil.
Hanya memperhatikan suara orang kaya dan pejabat tinggi. Apa jadinya jika harga BBM naik 30 persen, sementara luka penderitaan akibat kenaikan tahun 2005 belum pulih yakni dari Rp2500 menjadi Rp4500 perliter. Rakyat berkata, air mata kepedihan belum kering mau datang pula beban yang mendatangkan air mata lagi.
Apa memang begitulah nasib rakyat kecil di negeri tercinta ini? Reformasi sudah dimenangkan, tapi hasil kemenangan hanya dinikmati orang tertentu saja yakni pejabat tinggi, anggota Legislatif dan orang nakal. Rakyat yang tulus hatinya bekerja dan berbuat kebaikan di negara ini, tetap seperti sedia kala sebelum reformasi.
Saya selaku rakyat mengusulkan kepada pemerintah agar melakukan pengawasan yang ketat terhadap Pertamina dalam penyaluran BBM itu. Pihak Pertamina dan Kepolisian, perlu mengawasi pihak SPBU dalam penjualan BBM yang diterimanya.
Maksudnya jika sudah ada ketentuan hanya 15 liter perhari, ya demikianlah penjualannya. Tapi persoalannya bagaimana yang dalam perjalanan ke luar kota, di mana minyak Pertamaks tidak ada dijual ? Atau pada SPBU besar, sudah waktunya diwakjibkan menjual minyak Pertamaks Dengan demikian perjalanan tidak terganggu, walaupun pengeluaran harus bertambah dari dana yang sudah ditetapkan.
Rakyat ini jangan dipersulit, listrikpun padam, terpaksa cari minyak tanah sudah langka pula. Rakyat kecil seperti akan dikembalikan kehidupannya seperti masa dulu, masa baru merdeka.
Apa pun kata rakyat, nampaknya pemerintah tidak mundur lagi dari niatnya menaikkan harga BBM bersubsidi. Persoalannya apakah akan naik 10-20 persen atau 25 30 persen. Sebaiknya paling tinggi naik 20 persen, agar pengaruh kepada perekonomian tidak terlalu menekan. Bagaimana pak SBY dan JK? Apa kabar Ketua DPR , DPD dan MPR? Biarlah rakyat ini tambah susah asalkan APBN aman ? Biar banyak dikorupsikan. [ Marihot Siagian di Glugur Medan ]


Comments