Tolak Kenaikan Harga BBM, HMI Madiun Duduki Kantor RRI
13 Mei 2008 | 16:26 WIB
Madiun ( Berita ) : Sedikitnya 20 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Madiun, Jatim, Selasa [13/05] , melakukan aksi unjuk rasa dengan menduduki kantor Radio Republik Indonesia (RRI) setempat, menolak rencana kenaikkan harga BBM (bahan bakar minyak).
Mahasiswa yang datang dengan menggunakan kendaraan bermotor tersebut, sebelum melakukan pendudukan ruang rekaman RRI Madiun, melakukan orasi di depan pintu masuk RRI Madiun. Dalam orasinya menuntut pemerintah membatalkan rencana menaikkan harga BBM.
“Menaikkan harga BBM merupakan bentuk nyata jika pemerintahan SBY-Kalla tidak berpihak kepada rakyat, melainkan pemerintah tunduk terhadap sistem kapitalis dan hegemoni politik Internasional. Dengan demikian rakyatlah yang menjadi korban,” kata Koordinator Aksi, Hadi Kurniawan disela orasinya.
Menurut dia, pemerintah harus secepatnya mencari alternatif lainnya guna mengamankan APBN, akibat dampak dari kenaikan harga minyak dunia.
Para mahasiswa juga memberikan alternatif solusi antara lain, pemerintah pusat harus memangkas anggaran yang tidak mengikat, pembelian alat atau bahan nonproduktif. Konkretnya adalah kebijakan efisiensi melalui pemotongan anggaran 15 persen.
Selain itu, kata dia, pemerintah harus mengusut tuntas kasus BLBI yang merugikan negara sebesar Rp600 triliun, dengan segera mengembalikan uang rakyat. Serta pemerintah harus hemat BBM dengan jalan mengganti mobil dinas disemua level dari yang 2.000 cc menjadi 1.600 cc.
Setelah melakukan orasi di depan kantor RRI di jalan Mayjen Panjaitan Kota Madiun, selanjutya massa dari HMI yang diwaliki oleh beberapa perwakilan mendesak pihak RRI untuk menyiarkan secara langsung tuntutan mereka. “Radio merupaka salah satu media yang bisa dijangkau oleh semua masyarakat. Dengan disiarkan melalui radio maka penolakan terhadap kenaikan harga BBM bisa didengar oleh siapa saja, termasuk pemerintah,” katanya menambahkan.
Tim lobi yang mewakili masa HMI berhasil negosiasi dengan pihak RRI Madiun guna menyiarkan tuntutan penolakan kenaikan BBM lewat media radio. Lewat negosiasi yang alot, akhirnya mahasiswa bisa siaran hanya saja dengan sistem direkam, tidak langsung. “Kami memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menyalurkan aspirasinya, terkait dengan penolakan terhadap rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Kami juga mendukung upaya yang dilakukan oleh mahasiswa,” kata Kasi Siaran RRI Madiun, Agus Wijanarko usai rekaman tuntutan mahasiswa.
Massa dari HMI setelah berhasil menyampaikan aspirasinya lewat siaran RRI Madiun, selanjutnya bergerak menuju kantor DPRD kota Madiun guna menyampaikan aspirasinya sama.
Di Bojonegoro
Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa tergabung dalam Pergerakkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, Jawa Timur yang menolak kenaikkan harga BBM di gedung DPRD setempat, Selasa (13/5), diwarnai insiden perkelahian antara mahasiswa dan polisi.
Akibatnya, dua pengunjuk rasa, Munif dan Muhaimin diamankan polisi. Sedangkan seorang anggota polisi menderita luka ditangannya hingga berdarah, terkena gigitan pengunjuk rasa.
Korlap pengunjuk rasa, Zaenuri menyatakan, perkelahian yang terjadi tersebut hanya karena kesalahpahaman antara petugas dan para mahasiswa. Para mahasiswa yang berunjuk rasa berusaha masuk ke gedung DPRD, tetapi karena dilarang akhirnya terjadi aksi dorong. “Kami tidak berniat melawan petugas, justru kami yang dipukuli. Karena itu, kami mendesak polisi melepas dua rekan kami, ” katanya. Sebelumnya, para pengunjuk rasa sudah mengajukan surat kepada DPRD untuk melakukan dengar pendapat, pada hari Selasa (13/5) ini. Tetapi, permintaan pengunjuk rasa ditolak dan dijanjikan dua hari lagi diterima DPRD.
Ketika itu, puluhan pengunjuk rasa yang berada persis di depan pintu masuk gedung DPRD berusaha masuk ke gedung DPRD, meskipun sekitar 15 anggota Polres dan Satpol PP menjaga pintu masuk. Karena dihadang, mereka berusaha mendorong petugas, hingga terjadi aksi dorong mendorong. Dalam kejadian ricuh yang berlangsung sekitar 10 menit tersebut, seorang petugas polisi tangannya berdarah, karena digigit salah satu pengunjuk rasa.
Diduga sebagai pelaku, Munif yang juga menderita luka bocor dikepalanya, diamankan petugas, termasuk seorang pengunjuk rasa lainnya, Muhaimin.
Karena kedua rekannya diamankan polisi, para pengunjuk rasa berusaha menunggu di depan gedung DPRD, sebelum akhirnya membubarkan diri, karena siang ini mereka harus melaksanakan ujian.
Menurut Zaenuri, adanya kenaikkan harga BBM akan membawa dampak, tarif angkutan semakin mahal, harga barang melambung, industri kecil dan menengah semakin terpuruk, PHK buruh industri, angka kemiskinan bertambah. “Kami menolak adanya kenaikkan harga BBM,” katanya menegaskan.
Di Jakarta
Ratusan mahasiswa berencana untuk kembali berdemo dengan isu utama menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) setelah menginap semalaman di depan Istana Merdeka di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.
Menurut informasi dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya di Jakarta, Selasa, unjuk rasa tersebut direncanakan akan dihadiri oleh sekitar 500 mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Se-Indonesia (BEM SI).
TMC juga menginformasikan bahwa para mahasiswa yang menginap di dalam kawasan Monumen Nasional (Monas) itu berjumlah sekitar 300 orang. Sementara itu, ratusan petugas kepolisian juga masih bersiaga di sekitar lingkungan Istana Merdeka. Pihak kepolisian membolehkan mahasiswa menginap asalkan tidak melakukan tindakan yang mengganggu ketertiban umum di waktu malam hari.
Sebelumnya, Ketua BEM Universitas Indonesia (UI) Edwin Novan pada Senin (12/5) mengatakan, pihaknya memutuskan untuk melanjutkan aksinya hingga Selasa (13/5) pagi sekitar pukul 10.00 WIB.
Bila tetap tidak ada respon yang memadai dari pemerintah, lanjutnya, maka mahasiswa kembali akan berunjuk rasa dengan jumlah orang yang lebih banyak pada Hari Kebangkitan Nasional atau 20 Mei 2008.
Selain aksi BEM SI, demonstrasi lainnya yang akan dilakukan di depan Istana adalah massa dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada 12.30 WIB dan Badan Pengelola Kader Nasional Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro) pada 15.00 WIB.
Di Surabaya
Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari 58 perguruan tinggi se-Jatim, Selasa, melakukan unjuk rasa menolak kenaikkan BBM di DPRD Jatim di Surabaya.
Mahasiswa mengawali aksinya dengan “long march” dari Tugu Pahlawan menuju gedung dewan di Jalan Indrapura, kemudian berhenti di depan Bank BTPN yang menjadi garis pembatas pengunjuk rasa.
Puluhan aparat kepolisian dari Polresta Surabaya Utara menghadang mahasiswa dengan membuat barikade. Sementara itu, perwakilannya diijinkan masuk ke dewan dan ditemui oleh Rivo Hernadus dari Fraksi Demokrat Keadilan.
Saat melakukan aksi, mahasiswa membawa sejumlah poster yang bertuliskan “Tolak Kenaikkan BBM”, “Jangan Jual Indonesia”, “Pemerintah Yang Harus Cerdas, Mencerdaskan Anak Bangsa”.
Juru bicara BEM se-Jatim dari Unesa, Abdul Hamid mengatakan, pihaknya sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah kalau pemerintah tidak mengevaluasi program-program dan kebijakan yang diambil secara insidental.
“Kami menolak rencana kenaikkan BBM, kebijakan BHP (Badan Hukum Pendidikan), kenaikkan sembako. Sedangkan bidang politik menolak kebijakan yang hanya mementingkan kelompoknya sendiri,” katanya menegaskan.
Abdul Hamid mengemukakan, sebelum melakukan unjuk rasa mahasiswa telah melakukan konsolidasi di Balai Diklat Depag Surabaya. “Yang kami undang 87 kampus, namun yang datang 58 kampus, 12 diantaranya dari Surabaya, yang tidak mengirimkan delegasi adalah Lumajang, sedangkan semua perwakilan kabupaten/kota hadir,” katanya.
Hamid menuturkan, pihaknya tidak puas dengan hasil dengar pendapat dengan DPRD Jatim. “DPRD terlalu menarik ke politik, DPRD tidak mau ambil sikap, karena masih menunggu sikap ketuanya,” katanya menambahkan. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.