Satu Abad Kebangkitan Nasional
13 Mei 2008 | 16:27 WIB
Yogyakarta ( Berita ) : Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Ki Tyasno Sudarto mengatakan memperingati Satu abad kebangkitan nasional hendaknya bukan sekedar menengok sejarah masa lalu dengan kegiatan seremonial.
“Tetapi, bangsa ini perlu belajar dari sejarah itu sehingga diperoleh nilai-nilai kesejarahan yang bisa dimanfaatkan untuk menghadapi kehidupan masa kini dan masa yang akan datang,” katanya di Yogyakarta, Selasa [13/05] .
Menjelang penyelenggaraan Sarasehan Kebangsaan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta pada 15 Mei 2008, ia mengingatkan peringatan kebangkitan nasional hendaknya tidak terpancang pada kegiatan upacara. “Harus digali kembali nilai perjuangan masa lalu yang mampu mengantarkan bangsa ini menuju kemerdekaan,” katanya.
Keberhasilan perjuangan para pendahulu hingga puncaknya kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 yang kemudian diteruskan dengan mengisi kemerdekaan, harus menjadi teladan bagi bangsa ini.
Bangsa Indonesia harus mampu memilah nilai-nilai masa lalu yang dipandang masih relevan untuk diambil sebagai pedoman dalam melanjutkan perjuangan sekarang dan masa mendatang. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa terpanggil untuk menggali nilai-nilai luhur yang masih hidup di setiap daerah melalui penyelenggaraan sarasehan kebangsaan.
Humas Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Bambang Widodo menambahkan, penyelenggaraan sarasehan sehari itu bertujuan mengobarkan kembali api semangat kebangsaan bangsa Indonesia. “Selain itu mengembalikan jati diri bangsa dan menggelorakan semangat kebangkitan nasional,” katanya.
Sarasehan bertema “Dengan Berpedoman Pada Jati Diri Bangsa dan Kepemimpinan Nasional yang Bernurani, Kita Wujudkan Cita-cita Kemerdekaan” tersebut, rencananya akan menghadirkan pembicara Menhan Prof Dr Joewono Soedarsono, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, ekonom Kwik Kian Gie dan Garin Nugroho. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.