Presiden : Mahasiswa Jangan Menjadi Partisan Dan Terjebak Politik Kekuasaan
12 Mei 2008 | 16:48 WIB
Surabaya ( Berita ) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta kalangan mahasiswa untuk tetap independen dan obyektif dalam menyampaikan aspirasinya dan tidak terjebak dalam politik kekuasaan dan partisan kelompok tertentu.
Berbicara dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional di Universitas Airlangga Surabaya, Senin [12/05] , Kepala Negara menghargai sikap kritis mahasiswa dan memberikan masukan pada pemerintah bagi penyelesaian masalah bangsa. “Saya melihat adanya semangat untuk kritisi kondisi bangsa dan negara dan saya melihat mahasiswa dengan idealisme tidak mau terjebak dalam semangat partisan,” kata Kepala Negara.
Presiden Yudhoyono mengatakan pada Minggu (11/5) telah menerima kertas kerja (paper-red) dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga Adri Suyanto. “Setelah saya membaca paper itu hingga dua kali, ada tujuh masukan yang disampaikan. Saya menghargai hal itu,” ujarnya.
Diuraikan Kepala Negara, butir pertama yang disampaikan adalah keinginan agar aset strategis dan sumber daya alam dikelola dengan baik. “Hal itu sedang dilakukan oleh pemerintah. Ada kontrak-kontrak yang lama saat pemerintahan yang lalu-lalu, bila cocok kita teruskan, akan dibuat adil. Kita pastikan perjanjiannya menguntungkan rakyat,” tegas Presiden.
Hal kedua yang disampaikan adalah penanganan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan kasus-kasus korupsi. Menanggapi itu, Kepala Negara menyatakan pemerintah saat ini terus menangani kasus korupsi dan BLBI, tentunya sesuai dengan proporsi pemerintah karena ada pihak lain yang juga menangani seperti pengadilan tindak pidana korupsi. “Hal yang ketiga adalah pendidikan dan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Di berbagai forum, saya sudah menjelaskan langkah-langkah mengenai hal tersebut dan sependapat dengan masukan yang ada,” kata Yudhoyono.
Sementara untuk butir yang keempat yaitu masalah pangan dan energi, Presiden mengatakan pemerintah juga telah mengambil sejumlah kebijakan untuk menghadapi krisis, termasuk peningkatan produksi pangan dan energi.
Menanggapi permintaan BEM Airlangga agar harga kebutuhan pokok masyarakat terjangkau, Presiden mengatakan pemerintah pun sudah melakukan sejumlah kebijakan agar masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok dengan murah. “Beberapa waktu lalu kita juga sudah melakukan kebijakan stabilisasi pangan,” tegasnya.
Pada butir enam tuntutan BEM agar dilakukan reformasi birokrasi dan pemberantasan mafia peradilan, Presiden mengatakan pemerintah juga memiliki kebijakan untuk melakukan hal tersebut.
Sedangkan atas tuntutan ketujuh yaitu pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, Presiden mengatakan pada intinya pemerintah menginginkan pemeliharaan dan pelestarian alam serta lingkungan Indonesia sebagai prioritas dan baru kemudian secara global.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang berlangsung di gedung C Rektorat Universitas Airlangga itu dihadiri oleh Ibu Ani Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo, Menteri Komunikasi dan Informatika M. Nuh, Menteri Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Lukman Edy dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi serta Gubernur Jawa Timur Imam Oetomo.
Karakter Bangsa Yang Kuat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pendidikan di Indonesia tidak boleh hanya terkait dengan transfer ilmu dan teknologi namun juga harus mampu membentuk nilai serta karakter bangsa.
Dalam sambutan pada peringatan hari pendidikan nasional yang berlangsung di Universitas Airlangga Surabaya, Senin, Kepala Negara menyatakan dua tujuan utama pendidikan di Indonesia adalah selain untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi juga untuk membangun karakter bangsa yang kuat.
“Jangan menjadi pemalas dan mudah menyerah. Sifat yang harus dimiliki bangsa ini adalah tangguh, ulet, peduli dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi,” tegasnya dihadapan sekitar 1.000 orang dari kalangan pendidik, pelajar dan mahasiswa serta pemerintah daerah setempat yang hadir dalam acara tersebut.
Presiden meminta kalangan guru dan tenaga pendidik agar terus-menerus memastikan sistem yang tepat bagi pendidikan.
“Dalam lima tahun ini tujuan yang ingin dicapai dalam pembangunan pendidikan adalah membuat pendidikan menjadi bermutu, berkualitas, mudah dijangkau dan gratis bagi warga miskin,” katanya.
Kebangkitan Nasional
Terkait dengan 100 tahun kebangkitan nasional, Presiden mengingatkan seluruh rakyat Indonesia agar bersama-sama membangun kemandirian, daya saing dan peradaban yang maju. “Dengan sumber daya alam yang kita miliki serta potensi-potensi lainnya, saya ingin itu dapat menjadi sumber kekuatan untuk mandiri,”
paparnya.
Sementara itu terkait daya saing, Kepala Negara mengatakan bila Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju maka setiap anak bangsa harus memiliki daya saing dan berkualitas tinggi.”Untuk itu kita berusaha meratakan pendidikan bagi semua putra-putri bangsa. Pendidikan harus untuk semua karena kita memerlukan anak bangsa yang punya keunggulan,” tambahnya.
Sedangkan untuk membangun peradaban yang maju, Presiden meminta semua pihak agar membangun watak bangsa yang kuat. “Jangan jadi bangsa yang lunak dan permisif. Dengan Permisif kita tidak akan menjadi bangsa yang maju,” tegas Presiden. ( ant )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.