Junta Myanmar Selenggarakan Referendum
10 Mei 2008 | 14:47 WIB
Yangon ( Berita ) : Para penguasa militer Myanmar Sabtu menyelenggarakan referendum yang bertujuan untuk memperkuat kekuasaan politik mereka kendatipun imbauan-imbauan internasional agar mengundurkan pemungutan suara itu sehubungan dengan Topan Nargis yang telah menewaskan sekitar 100.00 orang.
Pemungutan suara itu dimulai pukul 06:00 waktu setempat Sabtu (06:30 waktu Indonesia) sesuai rencana dan menurut rencana akan berakhir pukul 16:00 waktu setempat (16:00 waktu Indonesia) .
Kendatipun junta menunda pemungutan suara pada 24 Mei untuk 47 kota yang paling parah dilanda topan itu , termasuk banyak lokasi di bekas ibukota Yangon junta menolak imbauan-imbauan internasional untuk menunda referendum yang kontroversial itu dan memusatkan perhatian pada usaha memberikan pertolongan darurat.
Sekitar 1,5 juta orang terkena dampak Topan Nargis , yang menghantam wilayah pantai tengah 2 dan 3 Mei, yang menewaskan 23.000 orang dan 42.000 orang hilang , demikian menurut data resmi. Perkiraan lain menyebut jumlah korban tewas bisa mencapai 100.0000 orang.
Referendum itu adalah menyangkut sebuah konstitusi baru , yang disusun oleh satu forum yang ditunjuk militer, yang pada pokoknya akan memberikan kekuasaan kepada militer terhadap pemerintah-pemerintah terpilih di masa depan melalui satu sistem pengangkatan bagi di majelis tinggi maupun majelis rendah parlemen.
Dengan banyak warga Burma yang berjuang mempertahankan hidup seminggu setelah topan itu, penolakan untuk menunda referendum itu tampaknya sebagai satu tindakan yang tidak berperasaan yang hanya rezim ini berani lakukan.
Menurut agama Buddha, orang yang sedang berkabung harus pergi ke kuil seminggu setelah meninggalnya keluarga mereka dan berdoa untuk mereka, jadi sangat banyak orang yang akan ke kuil hari ini bukan ke referendum,” kata Win Min, seorang lektor masalah-masalah Myanmar di Universitas Chiang Mai, Thailand.
Myanmar, adalah sebuah negara yang berpenduduk mayoritas beragama Buddha , tetapi para penguasa militernya percaya pada ilmu perbintangan dan ilmu yang mempelajari tentang rahasia pentingnya angka-angka dan kemungkinan pengaruhnya terhadap segala peristiwa.
Pemimpin tertinggi militer Myanmar, Jenderal Senior Than Shwe, diperkirakan menjadi penganjur utama dilanjutkan referendum itu. “Ia merencanakan jadi ia tidak ingin mengubahnya, sebagian karena alasan-alasan astrologi dan sebagian karena ia mungkin kuatir bahwa situasi akan menjadi buruk jika ditunda,” kata Win Min.
Than Shwe juga diduga berada dibelakang penolakan rezim itu untuk memberikan visa-visa kepada para ahli pertolongan darurat PBB dan kelompok lainnya yang berusaha masuk ke negara itu pekan ini untuk membantu usaha pertolongan bagi korban bencana.
Junta menegaskan bahwa kendatipun mereka menyambut baik bantuan, mereka ingin menyalurkan sendiri barang-barang, satu taktik yang menentang norma-norma internasional. Sekitar 13 juta dari 53 juta jiwa penduduk Myanmar tinggal di daerah-daerah yang dilanda topan itu. Penduduk yang paling parah dilanda topan itu berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa. ( ant/dpa )


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.