Bila Hillary Ngotot Sampai Babak Akhir; Obama & Demokrat Rugi
10 Mei 2008 | 11:47 WIB
Dari perhitungan di atas kertas sudah dapat diketahui pemenang dari pencalonan Presiden AS dari Partai Demokrat adalah Barrack Obama. Namun ibarat pertandingan sepakbola, wasit belum membunyikan pluit panjang pertanda pertandingan usai, sehingga berbagai kemungkinan masih bisa terjadi, dan Hillary memanfaatkan hal itu sembari mengharapkan ’’dewi fortuna’’ akan berpihak padanya dalam sisa perjalanan waktu menuju Gedung Putih.
Menurut cacatan, secara total Obama telah membukukan dukungan sekitar 1.815 suara utusan sementara Hillary 1.672.
Untuk dapat memenangkan kompetisi calon presiden dari Partai Demokrat, Obama yang berpeluang menjadi presiden kulit hitam pertama AS atau Hillary dengan peluang sebagai presiden perempuan pertama AS harus mengumpulkan 2.025 suara utusan.
Dan jika menang, Obama atau Hillary akan berkompetisi dengan calon presiden dari Partai Republik, John McCain, pada Pemilu Presiden AS bulan November mendatang. Kalau Senator asal New York yang juga mantan ibu negara Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton mengatakan dia menolak untuk menyerah pada ajang pencalonan presiden AS dari Partai Demokrat kendati kubunya dililit kesulitan keuangan dan posisinya saat ini yang makin tertinggal dibandingkan saingannya, Barack Obama, hal itu wajar-wajar saja.
Sebagai, tokoh yang dikenal pintar dan punya pendirian keras, Hillary akan mengecewakan tim suksesnya bila menyerah di tengah jalan. Justru itulah mengapa Hillary masih tetap bertekad untuk terus melaju dengan “kecepatan penuh” dan berupaya untuk menahan laju Obama yang sudah tinggal selangkah lagi menjadi kandidat Presiden dan diperkirakan bakal memenangkan pertarungan sengit melawan kandidat Partai Republik McCain.
Namun begitu, peluang McCain juga terbuka lebar terlebih-lebih bila Hillary dan Obama terlibat ’’mati-matian’’ dengan menggunakan segala cara untuk meraih kemenangan dalam pencalonan partainya. Kalau Obama dan Hillary terus ’’fight’’ maka yang rugi besar adalah keduanya (Obama atau Hillary).
Siapa pun pemenangnya, karena suara dan dukungan dari Partai Demokrat akan terpecah. Bisa-bisa mereka yang kecewa akan memilih calon dari Partai Republik bila kedua kubu (Obama dan Hillary) terus saling menjelekkan lawan-lawannya.
Hemat kita, Obama lebih berpeluang menjadi Presiden AS ketimbang Hillary. Sebab, orang-orang kulit putih di Amerika sudah mulai bisa menerima sosok pemimpin walaupun berlainan ras. Yang penting sosoknya memiliki visi dan misi yang jelas bagi kemajuan bangsa dan rakyat Amerika.
Oleh karena itu, sangat cantik bila kedua kubu dari Partai Demokrat bersatu sehingga dalam menghadapi kandidat Partai Republik bisa lebih solid dan mulus. Peluang Hillary bisa dibilang jauh lebih kecil karena di mata orang Amerika pemimpin wanita itu belum waktunya muncul untuk menjadi orang nomor satu.
Boleh saja Hillary berambisi menjadi orang nomor satu sebagaimana juga suaminya Bill Clinton, namun ada semacam kekhawatiran rakyat Amerika Hillary akan mewariskan sifat-sifat buruk suaminya saat terpilih nanti.
Tak pelak lagi, kita sependapat dengan Direktur Eksekutif Pusat Kajian Informasi dan Pembangunan (Cides) Syahganda Nainggolan yang mengatakan calon Presiden Barrack Obama akan menjadi babak baru perubahan besar negara AS. Obama berpeluang sangat besar, dan kita juga memprediksi jika Obama gagal, Amerika memerlukan waktu lama untuk bisa mendapatkan kans seperti yang diperoleh Barrack Obama saat ini.
Bagi Obama, peluangnya saat ini sangat besar karena masyarakat Amerika sudah muak dengan kondisi ’’statusquo’’ dan ’’arogansi’’ Presiden Bush Jr dalam politik dalam dan luar negeri AS. Rakyat AS ingin perubahan dan perubahan itu ada pada sosok Obama. Bagi Indonesia, bila Obama terpilih manfaatnya cukup banyak, bila dia masih ingat dengan masa kanak-kanannya pernah bersekolah di SDN di Jakarta Selatan. Wait and see!.=


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.