Bill Gates Di Mata Presiden
9 Mei 2008 | 17:37 WIB
Jakarta ( Berita ) : Komputer yang saat ini tidak lagi menjadi barang asing telah membuat setiap orang pasti mengenal pencipta piranti lunak yang memungkinkan penyebaran penggunaan komputer, Bill Gates.
Presiden pertama kali bertemu dengan Gates saat berkunjung ke kantor pusat Microsoft di Seattle, Amerika Serikat,pada 2007. “Saat itu saya sangat terkesan dengan sifatnya yang rendah hati. Ia sangat berenergi dan tentu sangat memiliki visi,” tutur Presiden.
Namun, yang paling memberi kesan untuk Presiden adalah intelektualitas, inovasi dan kreativitas yang telah membuat Gates masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia melalui penemuan piranti lunaknya.
Gates, dinilai Presiden sebagai orang yang dapat membaca perkembangan teknologi di masa depan dan dapat melihat manfaat teknologi untuk manusia. Saat mengunjungi kantor Microsoft di AS, Presiden mengatakan, ia
terkesan dan bangga dengan banyaknya warga Indonesia yang bekerja di sana. “Mereka semua masih muda, dinamis, cerdas, dan optimis dengan masa depannya,” ujarnya.
Presiden menambahkan saat itu para warga Indonesia yang ia temui mengatakan mereka semua suatu hari akan pulang dan “menularkan ” ilmu mereka kepada masyarakat Indonesia. “Untuk itu saya harap Gates memastikan bahwa mereka semua akan pulang,” ujar Presiden yang diikuti oleh tawa sekitar 2.500 peserta kulian umum.
Presiden mengatakan, Indonesia mengharapkan kelanjutan kerja sama yang baik dengan Microsoft untuk menyebarluaskan penggunaan Teknologi Informasi (TI) di Indonesia.
Gates yang hadir mengenakan baju batik bernuansa coklat itu memberikan kuliah umum tanpa teks selama 45 menit yang berjudul “The Second Digital Decades”.
Kehadiran Gates di Indonesia selama dua hari, 8-9 Mei 2008, merupakan kunjungan balasannya atas kedatangan Preside Yudhoyono ke kantor pusat Microsoft di Seattle, Amerika Serikat, pada 2007.
TI Belum Dikembangkan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan komputer dan teknologi informasi (TI) memang sudah merambah sampai ke desa, namun belum dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan.
Namun, dalam pidato pembukaannya pada “Presidential Lecture” oleh pemilik perusahaan piranti lunak raksasa Microsoft, Bill Gates, di Balai Sidang Jakarta , Jumat, Presiden menilai penggunaan TI belum dimanfaatkan untuk mengatasi kemiskinan dan kebodohan. “Di negara berkembang, semakin banyak desa yang mengenal komputer. Tetapi, sedikit yang mengerti selain dipakai untuk bermain dan “chating” lewat internet,” tutur Presiden dalam pidatonya yang berbahasa Inggris.
Karena masih banyaknya orang yang tuna TI itu, maka Presiden mengatakan, seharusnya teknologi itu juga digunakan untuk memecahkan masalah dan memperbaiki kehidupan manusia di banyak bidang seperti pendidikan dan kesehatan. “Ini sudah kebijakan kita untuk mengembangkan teknologi informasi di banyak bidang,” ujarnya.
Perbaiki kinerja pemerintah
TI, lanjut Presiden, juga akan digunakan oleh pemerintah untuk memperbaiki kinerja pemerintah. Presiden Yudhoyono menambahkan, teknologi informasi saat ini membuat dunia berubah secara cepat dan pasti juga membuat kehidupan manusia berubah. “Perkembangan teknologi masa lalu memiliki daya untuk mengubah hidup. Semua itu yang membawa kita kepada hari ini,” ujarnya.
Kegiatan industri yang dihasilkan oleh revolusi teknologi pada masa lalu, lanjut Presiden, telah terbukti membawa masalah lain pada hari ini seperti pemanasan global.
Kegiatan industri yang tidak terkendali itu, kata Presiden, bisa jadi membawa kehancuran untuk kehidupan manusia di masa depan. “Tantangan hari ini, adalah bagaimana manusia mengatasi kedewasaan teknologi tanpa menghancurkan diri sendiri,” ujarnya.
Teknologi, menurut dia, sudah sepantasnya digunakan untuk memperbaiki kehidupan manusia dan bukan untuk membahayakan serta membunuh kehidupan.
Bill Gates memberikan kuliah umum berjudul “The Second Digital Decades” dalam Presidential Lecture yang dihadiri sekitar 2.500 peserta yang terdiri atas pejabat pemerintah, kalangan pebisnis, dan mahasiswa.
Dalam kuliah umum itu, Gates juga berkesempatan bertanya-jawab dengan lima perserta. Selama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi kepala negara, telah dilangsungkan empat kali “Presidential Lecture” antara lain diberikan Geoffrey Sachs, Direktur Proyek Millenium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Millenium Development Goals (MGDs), Nicholas Stern begawan ekonom Inggris yang sekaligus Penasihat Perubahan Iklim dan Pembangunan untuk Pemerintah Inggris.
Selain itu juga pernah hadir mantan Perdana Menteri dan mantan Menteri Keuangan Pakistan, Shaukat Aziz yang menyampaikan tentang pembangunan di Pakistan, dan Muhammad Yunus dari Bangladesh –Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2006–, tentang tentang kredit mikro.



Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.