BBM Belum Naik Harga Harga Sudah Melambung
8 Mei 2008 | 15:09 WIB
Luar biasa cerdik dan nakalnya para pedagang dan spekulan memanfaatkan momentum kenaikan harga BBM yang akan dilakukan pemerintah mulai awal Juni 2008. Mereka sudah melakukan start menaikkan harga barang rata-rata 10 persen, terutama sembako yang menjadi kebutuhan primer/pokok masyarakat. Akibatnya, masyarakat khususnya ibu-ibu trumah tangga ’’menjerit’’ karena penghasilan mereka relatif kecil sebagai masyarakat kelas bawah, sementara kebutuhan hidup semakin meningkat.
Dipastikan, ketika BBM naik nanti harga barang semakin melambung. Wajar saja kalau masyarakat menolak keras kenaikan harga BBM karena efek dominonya begitu panjang, mempengaruhi seluruh kehidupan masyarakat.
Indonesia jelas merasakan sekali dampak kenaikan harga minyak dunia dan yang terkait dengan krisis pangan dan energi dunia saat ini karena kedua hal penting itu cenderung semakin mengkhawatirkan. Kenaikan harga minyak dunia hingga mencapai 122 dolar Amerika per barrel pada hari ini semakin memacu kenaikan harga di berbagai sektor, termasuk naiknya harga minyak kelapa sawit dan produk pertanian lainnya.
Memang kenaikan harga minyak dunia membawa keuntungan juga bagi kelompok tertentu. Pihak pengusaha berupaya menggenjot ekspor CPO untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya sehingga kebutuhan minyak goreng dalam negeri menjadi terabaikan.
Begitu juga produk lainnya. Oleh karena itu maka kelangkaan minyak tanah, kelangkaan gas, kelangkaan minyak goreng dan kelangkaan-kelangkaan lainnya menjadi pemandangan biasa di dalam negeri. Hal itu disebabkan tidak tegasnya pemerintah dalam mengendalikan ekspor komoditi pangan dan energi sehingga kepentingan rakyat kecil dan miskin terabaikan.
Laporan Randy Schnepf, spesialis masalah kebijakan pertanian menyebutkan, pada 2004 Uni Eropa memproduksi sekitar 768 juta galon bahan bakar nabati, sedangkan AS memproduksi 3,4 miliar galon (sebagian besar ethanol). Kebijakan “bio-fuel” inilah yang mengakibatkan pasokan bahan pangan dunia, termasuk beras, jagung dll berkurang dan harganya melambung tinggi, sedangkan permintaan bertambah.
Kondisi ini pula yang menyebabkan naiknya harga beras, ditambah lagi dengan fenomena perubahan iklim dan berbagai bencana alam yang melanda sejumlah negara produsen beras dunia turut memengaruhi kondisi terjadinya krisis pangan dan energi saat ini.
Negara-negara di dunia saat ini dihadapkan pada situasi dilematis antara keinginan untuk memenuhi kebutuhan energi dan pangan di tengah kesenjangan antarnegara yang sedemikian besar antara yang kaya dan yang miskin.
Bagi negara-negara kaya situasi saat ini belum begitu terasa, namun bagi negara-negara miskin, termasuk Indonesia kondisinya sudah ’’lampu kuning’’ di mana rakyat miskin semakin miskin, semakin terpinggirkan, padahal jumlahnya sangat banyak, mencapai 100 juta jiwa. Kondisi mengerikan saat ini memerlukan keberanian bagi para pemimpinnya untuk berbuat sesuatu dan tegas menjalankan tuntutan reformasi, menghapuskan KKN untuk menyelamatkan bangsa dan negara kita ini dari keterpurukan yang semakin parah dalam situasi krisis pangan dan energi.
Kalau KKN dapat diberantas tanpa pilih kasih, para koruptor ditangkap, keuangan negara terselamatkan dan dapat digunakan untuk memberikan subsidi yang pantas. Tidak lagi hanya Rp 300 ribu per tiga bulan, seperti pada kenaikan BBM tahun 2005.=


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.