Presiden Menerima Kunjungan Martti Ahtisaari
7 Mei 2008 | 17:34 WIB
Jakarta ( Berita ) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu siang di Kantor Kepresidenan Jakarta menerima kunjungan Ketua Crisis Management Initiative and Interpeace Peace Building Martti Ahtisaari.
Martti Ahtisaari yang juga mantan Presiden Finlandia bertemu dengan Presiden Yudhoyono didampingi oleh sejumlah staf dari organisasi tersebut dan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Antti Koistinen.
Sementara itu Kepala Negara didampingi oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Radjasa, Seskab Sudi Silalahi, Mendagri Mardiyanto dan Mendiknas Bambang Sudibyo dan Menkum dan ham Andi Mattalata.
Martti Ahtisaari berkunjung ke Indonesia dalam rangkaian untuk melihat perkembangan perdamaian di Aceh dan juga menghadiri seminar tentang Perdamaian. Sebelumnya, Institute Perdamaian Indonesia (IPI) menyelenggarakan
Seminar Perdamaian yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari maupun mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud. “Tujuan Seminar yang diselenggarakan IPI adalah supaya tidak ada konflik lagi, meskipun hal itu tidak akan bisa sama sekali,” kata Ketua Panitia Seminar Farid Husaini di Jakarta, Rabu [07/05] .
Menurut Farid, sejarah konflik sudah lama terjadi sejak kasus Habil dan Qobil. Namun, tambahnya di beberapa tempat ada konflik yang bisa diselesaikan secara damai.
Menurut data sebuah lembaga riset, KOSIMO sejak tahun 1945 s/d 1999, konflik telah terjadi di 143 negara dengan 693 konflik. Seminar kali ini juga dihadiri oleh para tokoh-tokoh perdamaian di Indonesia seperti dari Poso, Ambon maupun Nanggroe Aceh Darussalam.
Beberapa tokoh perdamaian NAD seperti mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari, mantan PM GAM Tengku Malik Mahmud, Dr Zaini Abdullah, dan beberapa tokoh lainnya juga hadir pada acara ini .
Berlangsung Dengan Baik
Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari memuji perkembangan proses perdamaian di Aceh yang berlangsung sesuai dengan kesepakatan damai yang dtandatangani oleh Pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinski pada 2005.
Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa dalam keterangan pers di Kantor Kepresidenan Jakarta, setelah mendapingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu dengan Martti Ahtisaari mengatakan mantan Presiden Finlandia itu merasa senang atas perkembangan yang berlangsung di Aceh saat ini.
“Tadi dalam pertemuan dengan Presiden, Martti juga menyampaikan bahwa proses yang berlangsung di Aceh saat ini berlangsung sesuai dengan nota kesepakatan yang ditandatangani,” kata Hatta.
Ia menambahkan, Martti pun terkesan dengan sistem pendidikan “link and match” di Aceh yang menjadikan pendidikan dan lapangan pekerjaan saling membutuhkan. “Sementara itu Presiden mengatakan proses perdamaian di Aceh berjalan dengan baik,” katanya. Proses perdamaian di Aceh dipandang berjalan dengan baik karena pascakonflik, para mantan anggota GAM dapat bekerja di sejumlah sektor pembangunan.
Martti Ahtisaari yang saat ini mengetuai lembaga Crisis Management Initiative and Interpeace Peace Building, datang ke Indonesia untuk melihat proses perdamaian di Aceh dan juga menghadiri seminar tentang perdamaian.
Martti Ahtisaari bertemu dengan Presiden Yudhoyono didampingi oleh sejumlah staf dari organisasi tersebut dan Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Antti Koistinen.
Sebelumnya, Institute Perdamaian Indonesia (IPI) menyelenggarakan Seminar Perdamaian yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Presiden Finlandia Marti Ahtisaari dan mantan Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud.
“Tujuan seminar yang diselenggarakan IPI adalah supaya tidak ada konflik lagi, meskipun hal itu tidak akan bisa sama sekali,” kata Ketua Panitia Seminar Farid Husaini di Jakarta, Rabu.
Menurut Farid, sejarah konflik sudah lama terjadi sejak kasus Habil dan Qobil. Namun, tambahnya di beberapa tempat ada konflik yang bisa diselesaikan secara damai.
Menurut data sebuah lembaga riset, KOSIMO sejak tahun 1945 sampai 1999, konflik telah terjadi di 143 negara dengan 693 konflik.Seminar kali ini juga dihadiri oleh para tokoh-tokoh perdamaian di Indonesia seperti dari Poso, Ambon dan Nanggroe Aceh Darussalam.
Beberapa tokoh perdamaian NAD seperti mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, mantan PM GAM Tengku Malik Mahmud, Dr Zaini Abdullah, dan beberapa tokoh lainnya juga hadir pada acara ini. ( ant )




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.