COP-9 Konvensi Basel Akan Dihadiri 1.000 Peserta

Jakarta ( Berita ) :  Konferensi para Pihak (COP) ke-9 Konvensi Basel, kesepakatan internasional yang mengatur perpindahan lintas batas dan pembuangan limbah berbahaya, yang akan digelar di BICC, Nusa Dua, Bali, 23-27 Juni, bakal dihadiri sekitar 1.000 peserta dari 170 negara.

“Berdasarkan pengalaman beberapa konferensi sebelumnya, jumlah pejabat setingkat menteri yang akan hadir diperkirakan mencapai 30 menteri,” kata Rasio Ridho Sani, Asisten Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu [07/05] siang.

Selaku tuan rumah pertemuan tingkat menteri itu, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar didaulat sebagai Presiden COP ke-9 Konvensi Basel.

Konvensi yang dikenal dengan nama Konvensi Basel itu disepakati di Basel, Swiss, pada 22 Maret 1989 dan mulai berlaku resmi pada tahun 1992.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Basel sejak tahun 1993 melalui penerbitan Keputusan Presiden No. 61 tahun 1993. “Tema penyelenggaraan konvensi ini adalah melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup dari dampak negatif yang timbul dari kegiatan pengelolaan limbah berbahaya beracun (B3), dan perpindahan lintas batas atau negara dari limbah-limbah tersebut,” kata Emma Rahmawati, Asisten Deputi urusan B3 dan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Bagi Indonesia, Konvensi Basel ini sangat penting untuk melindungi masyarakat dan lingkungan hidup di Indonesia dari akibat penyelundupan limbah-limbah yang berbahaya dan beracun dari negara lain, kata Emma Rahmawati menjelaskan.

Indonesia sangat rentan terhadap perpindahan ilegal B3 dari negara lain, oleh karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pelabuhan mencapai lebih dari 2.000 dan dilewati jalur pelayaran internasional.

COP dilakukan tiap dua tahun sekali, dalam pertemuan COP ke-8 di Nairobi, Kenya, telah diputuskan bahwa tuan rumah berikutnya adalah Indonesia. “Selain tuan rumah COP ke-9, Indonesia juga telah berperan aktif dalam Konvensi Basel termasuk tuan rumah Basel Convention Regional Center (BCRC) untuk kawasan Asia Tenggara,” kata Rasio Ridho Sani.

Di tengah konferensi, pada 26 Juni, akan digelar “World Forum for Waste Management 2008″, yang mendatangkan pembicara para tokoh lingkungan internasional dari berbagai negara dan lembaga internasional. “World Forum for Waste Management 2008″ akan dibuka secara resmi oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dan peraih Nobel Perdamaian Al Gore.

Dalam seminar itu, empat topik yang akan dibahas para tokoh internasional ini adalah pengurangan kelaparan dan kemiskinan ekstrem, promosi kesetaraan gender dan meningkatkan kesehatan ibu, reduksi kematian anak dan prevalensi HIV/AIDS, serta kelangsungan lingkungan hidup.

Beberapa pembicara yang akan hadir dalam “World Forum for Waste Management 2008″ meliputi Prof O Ibeanu (pelapor khusus PBB tentang isu sampah), M Yunus (peraih Nobel Perdamaian), Putri Chulaborn (Thailand), Perdana Menteri Selandia Baru Helen Clark, Erin Brockovich (aktivis lingkungan hidup), dan R Zoelick (Presiden Bank Dunia). ( ant )