Beras Berkutu Masuk Medan, Ulah Siapa Ini ?
7 Mei 2008 | 17:03 WIB
10 Ribu ton beras berkutu tiba di Pelabuhan Belawan. Beras itu belum dibongkar dari kapal karena buruh pelabuhan tidak mau membongkar sebab sangat banyak kutu yang berkeliaran diatas karung.
Kata pimpinan bongkar muat jumlah kutu. di luar kebiasaan. Mereka sudah sempat naik kapal, tapi mereka berhamburan melihat kutu yang banyak itu. Demikian berita di surat kabar terbitan Medan.
Beberapa hari lalu Kepala Bulog Sumut menjelaskan, persediaan beras untuk Sumatea Utara cukup untuk dua bulan ke depan. Apakah termasuk beras berkutu ini, maka persediaan cukup atau memang di luar beras berkutu ini?
Beras berkutu, berulat,berbatu dan busuk sudah terlalu sering dipersoalkan di daerah ini, tapi nampaknya tak terselesaikan. Masa lalu PNS yang mendapat jatah beras dari pemerintah, sering mengeluhkan beras berulat,busuk dan berkutu.
Yang seing ramai waktu itu adalah PNS yang bekerja di Departemen Agama, Guru SD. Ditempat lain, tidak diributkan, tapi langsung menolak di gudang dan minta diganti. Pertanyaannya untuk apa beras yang banyak kutu ini didatangkan? Apakah kutu itu karena sudah busuk, perlu penelitian yang cermat. Masih bolehkan dimakan manusia atau memang beras itu khusus di datangkan untuk hewan.
Atau beras itu disiapkan untuk jatah orang miskin(Raskin) guna membantu saat BBM dinaikkan harganya. Jika ini yang dituju, pemerintah cukup kejam dan kurang berperimanusiaan. Jika memang itikad baik dan hati yang ikhlas membantu berilah bantuan yang baik.
Jangan karena hendak menyumbang makan orang miskin, diberi nasi yang sudah mau basi. Atau kata orang tua, jika memberi makanan, jangan karena tidak habis dimakan.
Saya selaku rakyat mengusulkan agar Balai POM , dinas kesehatan, Polri, memeriksa beras di Belawan itu. Kutu yang ada di atas goni beras itu, apakah memang asli kutu beras atau kutu lain, yang dapat menularkan virus/bisa yang lain. Jika memang membahayakan, jangan diturunkan dari kapal.
Jika perlu segera dikembalikan atau dihanguskan. Perlu dipertanyakan sejauh mana tanggung jawab dari Bulog. Apa memang Bulog sengaja mengirim beras berkutu ke S.Utara. Atau memang beras itu sudah tak layak di daerah pengiriman Surabaya di kirim ke S.Utara. Atau beras itu sudah diganti dalam perjalanan. Beras bagus dari Surabaya tapi di perjalanan diganti dengan beras berkutu. Ini sering jadi permainan orang nakal di negeri ini.
Sama halnya dalam dokumen pengiriman adalah barang legal, tapi setelah dibongkar terdapat barang ilegal. Otak kotor itu terlaksana dalam perjalanan. Persoalan beras ini jangan diangap remeh karena kepentingan rakyat kecil. Memang orang kaya dan pemilik uang tidak ada persoalan beras berkutu ini, karena mereka selalu membeli beras yang bermutu baik.
Tapi perlu juga diwaspadai, kutu beras itu, apa memang asli kutu bers atau kutu lain, yang mampu membahayakan penduduk di daerah ini. Virus berbahaya sedang berkembang di Cina, mana tau sudah hinggap di kutu beras di Indonesia. Karantina tumbuhan,hewan perlu segera menyelidikinya.
Jangan nanti setelah terjadi pengaruh negatifnya barulah ribut saling menyesali dan tuding menuding siapa yang salah. Pola pikir setelah kejadian, barulah ribut, perlu ditinggalkan Selaku orang berpendidikan harus mampu membuat antisipasi dan mengetahui sebab akibat.
Kepala Bulog Surabaya mengapa mengirim beras yang berkutu ke Sumatera Utara? Apa dianggap Sumut ini daerah yang berpenduduk yang paling susah, masih mau makan beras berkutu? Kutu itu adalah perubahan dari ulat beras yang sudah busuk. [ Marihot Siagian di Glugur Medan ]




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.