Tepuk Tangan Buat SBY-JK
6 Mei 2008 | 10:31 WIB
Luar bisa ’’prestasi’’ duet pemimpin bangsa yang dipilih secara langsung oleh rakyat yakni Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK). Kita sebut ’’prestasi’’ dalam tanda ’’kutip dua’’ berarti bukan prestasi yang membanggakan bagi masyarakat, khususnya rakyat kecil.
Sebab, ’’prestasi’’ yang diraih SBY – JK adalah dalam hal menaikkan harga BBM. Berarti, SBY – JK punya andil besar menyusahkan rakyat kecil, yang miskin, yang seharusnya dibantu, malahan makin dimiskinkan, sehingga dipastikan jumlah rakyat miskin akan semakin membengkak pasca kenaikan BBM nanti.
Putusan rapat terbatas bidang ekonomi yang diikuti pakar ekonomi Presiden SBY tadi malam sudah membuat keputusan final bahwa harga BBM pasti naik, namun kapan naiknya masih melihat momentum yang pastinya tidak terlalu lama.
Kalau kenaikan itu terjadi dalam waktu dekat ini, berarti pemerintahan SBY – JK membuat ’’prestasi’’ yang tidak pernah dilakukan presiden-presiden RI sebelumnya. Belum lima tahun periode jabatannya sebagai RI-1 dan RI-2 sudah dua kali menaikkan harga BBM.
Yang pertama tahun 2005 dilakukan beberapa bulan setelah Presiden SBY dan Wapres JK dilantik. Kenaikannya luar bisa tinggi melebihi 100 persen (rata-rata) dan rakyat dapat menerima, tidak ada aksi demo karena masyarakat masih berharap kemajuan bangsa ini akan tercapai di tangan SBY-JK. Kenaikan kedua dalam waktu dekat ini (2008) sebesar 30 persen. Akankah rakyat juga menerima atau sebaliknya bergerak melakukan aksi demo?
Melihat besarnya angka kemiskinan saat ini yang mencapai 40 juta jiwa lebih, melihat sulitnya lapangan kerja saat ini dan banyaknya pengangguran di negeri ini, melihat banyaknya bencana alam melanda negeri ini, melihat meluasnya wabah penyakit yang melanda berbagai daerah di negeri ini, seharusnya pemerintah tanggap untuk membantu masyarakat kecil. Bukan dengan menaikkan harga BBM, tetapi mencarikan solusi lain yang lebih tepat dan mau bekerja keras.
Menaikkan harga BBM merupakan pilihan yang paling mudah. Seharusnya pemerintah mencari pilihan yang lebih bijak. Kalau pintarnya hanya menaikkan harga BBM, tidak perlu seorang lulusan Doktor menjadi presiden, cukup tamatan SMA saja. Pasti kali-kalinya mudah. Ambil kalkulator 30 persen dikalikan sekian juta liter akan terkumpul sekian ratus triliun.
Oleh karena itu pada sat ini kita memerlukan pemimpin yang peduli rakyat, pemimpin yang memiliki ’’sense of crisis’’, bukan pemimpin yang pintarnya menaikkan harga BBM yang anak kecil pun dapat melakukan hal itu.
Hemat kita, kalau pemerintah tetap menaikkan harga BBM dikhawatirkan rakyat akan bergolak. Berbagai aksi unjuk rasa akan terjadi dan hal itu akan sangat membahayakan msa depan bangsa kita ke depannya.
Apalagi kalau kemudian pemerintah yang berkuasa menggunakan tangan besi untuk menghempang dan melawan aksi unjuk rasa, maka akan terjadi benturan dan konflik horizontal, ’’chaoss’’ bisa-bisa tidak terhindarkan lagi.
Justru itu, kita masih berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM yang beresiko tinggi itu. Pemerintah harus mengupayakan jalan lain, seperti melakukan penghematan anggaran di segala bidang.
Lebih bagus tidak ada pembangunan ketimbang anggaran pembangunan dijadikan ajang korupsi. Kalau kebocoran anggaran mencapai 50 persenm berarti penghematan uang negara jumlahnya luar biasa besar.
Cara lain, melakukan lobi kepada pihak donor untuk melakukan jadwal utang sehingga tidak menyedot anggaran negara. Dan cara yang paling bagus sebenarnya pemerintah harus dipaksa dengan berbagai cara untuk meningkatkan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, memanfaatkan seluruh potensi dan aset milik negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Kalau pendapatan rakyat sudah meningkat, rakyat miskin sudah dapat dihapuskan, KKN diberantas, baru pemerintah dapat menaikkan harga BBM. Rakyat pun akan bertepuk tangan.=


Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.