Pemimpin Mengacau Pikiran , Kenaikan BBM Tepat Bertahap
6 Mei 2008 | 15:23 WIB
Dalam beberapa minggu terakhir ini, pemimpin bangsa, mengacaukan pikiran rakyat karena tidak tegas, apakah harga BBM naik atau tidak. Sementara harga minyak non subsidi sudah naik mulai 1 Mei 2008.
Padahal sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan harga BBM subsidi tidak akan naik. Di lain pihak Menkeu mengatakan sekarang ini sedang mengira berapa kenaikan itu dan diperkirakan masih dalam batas kemampuan masyarakat.
Dalam perkiraan sementara sudah ada pengumuman yang menyebut premium yang selama ini Rp4500 akan menjadi Rp6000.- Kenaikan ini sudah terlalu tinggi karena naik 30 persen. Kenaikan 30 persen sungguh memberatkan rakyat biasa ke bawah. Karena kemungkinan kenaikan ongkos angkutan akan naik pula 30 persen.
Sebab di Indonesia takut mengatakan naik, hanya menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM. Sementara gaji pegawai negeri naik 20 persen dari gaji pokok. Bagaimana dengan buruh pabrik, perkebunan dan swasta lainnya.
Petani belum tentu dapat langsung menyesuaikan harga produksnya. Sebab pembeli, tentu akan menunda pembelian apa yang dapat ditunda.
Yang sudah naik harga beras, minyak makan dan lainnya tentu akan naik lagi jika ongkos transpor naik.
BBM terkait dengan semua kegiatan masyarakat. Karena belum mampu mengubah BBM selama ini kepada bahan bakar baru. Mesin uap sudah tidak ada. lagi. Ada penggantinya dari sampah ikan, masih dalam penelitian. sementara dari buah jarak, nampaknya hanya angan-angan saja. Rakyat petani tidak diaktifkan menanam jarak, bahkan pabriknya pun belum ada.
Saya selaku rakyat mengusulkan agar kenaikan yang sedang dihitung ini. dibuat bertahap. Tahap pertama naik Rp 500 dalam masa empat bulan, tahap kedua, naik lagi Rp500 dan selanjutnya.
Dengan demikian yang berpenghasilan tetap tidak terlalu memberatkan. Jika pejabat, anggota DPR tentu tidak begitu memberatkan karena banyak penghasilannya, terlebih penghasilan sampingan.
Mereka ribut sebenarnya hanya supaya bersuara dan tidak dikatakan membela rakyat kecil. karena memang kenaikan BBM ini tidak begitu memberatkan mereka.
Kata Menkeu masih batas kemampuan masyarakat. Masyarakat yang mana yang mampu itu? Jika ongkos angkutan naik Rp500 sekali jalan baliknya Rp500 berarti sudah Rp1000. bertambah sehari. Sebulan Rp25 000 bertambah.
Jika selama ini ongkos Rp125.000 tentu bertambah Rp25.000 adakah pendapatan bertambah Rp25000? Harga yang lain jelas akan naik Kemungkinan bertambah pengeluaran Rp75 ribu lain lagi pertambahan belanja rumah tangga . Bagi pejabat, anggota DPR uang sebanyak itu hanya pengeluaran sekali minum teh di hotel.
Semoga pejabat Indonesia yang menghitung kenaikan harga BBM ini tidak hanya melihat dirinya dan teman-temannya. Tapi lihatlah hidup rakyat kecil di kota. Terlebih yang berpenghasilan tetap, seperti halnya buruh pabrik, buruh perkebunan termasuk pedagang kakilima. Anehnya nanti petugas jalanan rajin mengadakan razia, penangkapan untuk mencari uang masuk. Petugas negara di perkantoran pun akan menggebu mencari uang masuk guna menyesuaikan kenaikan harga BBM itu.
Bagaimana jika subsidi diteruskan dan uang dari hasil rampokan koruptor itu dibuat/dijadikan dana mengurangi subsidi? Untuk apa korupstor dihukum dan ditahan, jika uang yang dirampoknya tidak dapat ditarik kembali ke negara? Berapa banyak uang yang dapat dikembalikan KPK? Sudah di mana uang itu sekarang?.
Yang jelas naik harga BBM apalagi jika benar menjadi Rp6000 perliter akan menambah menderitanya rakyat kecil. Janji Pemilu lalu hilang ditelan ketidakmampuan mengatasi perekonomian rakyat. Kebiasaan lama masih terjadi sibuk setelah kejadian.
Seperti orang bodoh mengatasi kesulitannya dan tidak mampu membuat antisipasi. Tentu hanya Indonesia yang panik menghadapi kenaikan harga minyak dunia, namun Indonesia termasuk penghasil minyak. Bagaimana ini pak SBY, JK, Agung Laksono? Masih beginikah tingkat berpikir dan berbuat pemimpin bangsa ini ? [ Marihot Siagian Glugur Medan ]




Comments
Got something to say?
You must be logged in to post a comment.