5 Persen Penduduk Indonesia Terserang ASMA

Jakarta ( Berita ) :  Asma atau peradangan pada seluruh percabangan saluran napas yang ditandai dengan penyempitan saluran napas, saat ini diperkirakan menyerang sekitar lima persen penduduk Indonesia dari segala usia.

“Perkiraan itu dibuat menurut hasil surveilans, tapi kalau jumlah pastinya kita belum punya data,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan dr Yusharmen D.Comm pada acara peringatan Hari Asma Sedunia 2008 di Jakarta, Selasa [06/05] .

Ia mengatakan, penyakit tidak menular yang hingga kini belum dapat disembuhkan itu dapat menurunkan produktifitas dan meningkatkan beban ekonomi, karenanya harus dikendalikan.

Pengendalian asma, kata Yusharmen, bisa dilakukan dengan mengendalikan faktor resiko yang mencetuskan asma dan memberikan pengobatan sesuai dengan tingkat keparahan penyakit.

Faktor yang meningkatkan resiko serangan asma, menurut dia, antara lain faktor genetik, kondisi atau bahan tertentu yang mengakibatkan alergi, dan kondisi lingkungan yang buruk.  “Selama ini hanya 30 persen asma yang terjadi karena faktor genetik, sisanya terpapar karena kondisi lingkungan yang buruk.Pengendalian faktor resiko dengan meningkatkan kualitas lingkungan dalam hal ini menjadi sangat penting,” jelasnya.

Sementara pengobatan asma yang biasanya dilakukan dengan memberikan obat antiinflamasi dan pelega saluran nafas, menurut dr Achmad Hudoyo Sp.P (K) dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Respirasi Fakultas Kedokteran Universita Indonesia, hanya dapat mengendalikan asma dengan mengurangi gangguan akibat asma. “Tapi yang utama dalam pengobatan asma, pertama menghindari pencetus asma, kedua menghindari pencetus asma, ketiga juga menghindari pencetus asma, nah baru yang keempat menggunakan obat yang terdiri atas obat pelega dan pencegah,” katanya. 

Yusharmen mengatakan, pencegahan dan pengendalian asma yang paling efektif adalah yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat karena itu strategi pemerintah untuk menurunkan jumlah kesakitan dan kematian akibat asma juga lebih banyak ditujukan untuk memberdayakan masyarakat dalam upaya pengendalian asma.

“Kami banyak melakukan sosialisasi dan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang asma supaya mereka tahu bagaimana cara mencegah dan mengendalikannya.  Kami juga memperkuat kolaborasi dengan organisasi profesi dan yayasan asma yang sudah lebih dulu bergerak dan punya jaringan luas,” katanya.

Di samping itu, menurut dia, pemerintah juga melakukan surveilans penyakit melalui rumah sakit dan unit pelayanan kesehatan untuk mendata kasus asma dan faktor pencetusnya yang selanjutnya akan dijadikan sebagai masukan dalam perbaikan strategi pengendalian asma.

Pemerintah, katanya, juga menyediakan pengobatan gratis bagi penderita asma dari keluarga kurang mampu melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

“Bagi keluarga miskin, pengobatan asma juga ditanggung oleh pemerintah melalui program Jamkesmas yang sebelumnya disebut Askeskin,” katanya.

Namun demikian, menurut dr Nunung Rahayu dari Yayasan Penyantun Anak Asma Indonesia dan Lily Rosyana dari Yayasan Asma Indonesia, hingga saat ini masih ada penderita asma yang belum bisa menjangkau layanan pengobatan.

“Saya tidak punya data pasti tentang berapa banyak yang kebutuhan akan pengobatannya belum terpenuhi, tapi saya perkirakan masih cukup banyak,” katanya serta menambahkan sebagian yayasan asma memberikan bantuan pengobatan bagi penderita asma yang kurang mampu.

Lily mengatakan, yayasannya memberikan bantuan berupa diskon pembelian obat antiinflamasi inhaler sebesar lima persen kepada penderita asma kurang mampu yang tidak tercakup program Jamkesmas.

“Voucher diberikan kepada mereka yang menjadi anggota klub asma yang kami kelola,” katanya serta menambahkan setiap penderita asma dengan keparahan tertentu membutuhkan inhaler seharga Rp200 ribu yang bisa digunakan selama satu bulan. (ant )

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

You must be logged in to post a comment.